
Oleh : Lita Mantofani
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…”(Q.S. Ar-Ra’d : 11)
Kepastian dalam Kehidupan
Setiap tindakan yang kita lakukan tak pernah terlepas dari rasa pasti atau ragu, karena bertindak melibatkan tubuh dan hati secara bersamaan. Kepastian adalah tindakan yang diikuti rasa yakin dalam hati, dan keraguan adalah tindakan yang dibayangi rasa cemas dan was-was. Kita mendapat hasil yang maksimal dari apa yang dilakukan dengan rasa pasti dalam hati dan sering gagal bila terdapat rasa ragu yang membayangi.
Rasa pasti berkaitan erat dengan informasi. Semakin besar situasi yang kita punya tentang satu situasi, semakin besar kepastian yang kita miliki untuk bertindak. Informasi memberikan gambaran tentang apa yang kita hadapi, kemampuan yang kita miliki dan kemungkinan yang bisa kita pilih untuk menyikapinya. Informasi membuat situasinya menjadi lebih jelas sehingga tindakan kita didasarkan kenyataan.
Nilai Tindakan Dibalik Kepastian
Tindakan yang berdasarkan keyakinan yang menjadi tindakan adalah ungkapan tak terpisahkan dari sifat orang mukmin. Ungkapan beriman dan beramal shaleh disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an tanpa pernah dipisahkan. Sebuah tindakan haruslah berdasarkan keyakinan dan keyakinan berbuah perbuatan.
Bentuk hubungan keyakinan dan tindakan adalah pola harmonis hubungan gelora hati dan aktivitas fisik. Meyakini seuatu untuk melakukannya serta melakukan apa yang diyakini adalah keselarasan yang bersifat lahir dan batin.
Sebagai penghargaan untuk mereka yang memiliki keyakinan dan berbuat kebaikan ini, Al-Qur’an menempatkan mereka diluar kelompok orang-orang yang merugi. Artinya, ketika semua orang berada dalam kerugian, orang yang memiliki keimanan dan keyakinan serta berbuat kebaikan termasuk kalangan yang dikecualikan.
Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang memiliki keyakinan (beriman) dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (Al-‘Asr:1-3).
Dunia tidak berubah hanya dengan memikirkannya, begitu pesan sebuah pepatah. Setinggi apapun cita-cita, sebesar apapun bakat, dan seluas apapun pengalaman, semuanya tidak akan berarti tanpa tindakan. Semua peluang dan potensi yang tersedia tidak akan menjadi apa-apa tanpa menindaklanjutinya. Semua keyakinan kita tidak akan menjadi kenyataan hanya dengan mempercayainya.
Banyak orang percaya, berfikir dan berbicara tentang rencana yang bagus. Tetapi, mereka dikalahkan oleh orang yang lebih banyak bertindak, meski rencananya sederhana. Banyak orang berbakat yang dikalahkan orang biasa yang bekerja dengan keras. Banyak orang yang punya wawasan kalah produktif dengan orang awam yang bekarja dan bertindak lebih banyak.
Seperti diungkap Abraham Maslow, bertindak untuk mewujudkan apa yang kita percayai, kita yakini dan kita anggap baik adalah sebuah kebutuhan psikologi. Artinya, secara kejiwaan kita tidak bisa mengabaikan hal ini, karena akan mengganggu kestabilan jiwa. Untuk mendefinisikan ini, Maslow menyebutkannya sebagai kebutuhan aktualisasi diri.
Mengaktualisasikan sesuatu berarti merubahnya dari bentuk gagasan menjadi kenyataan. Bila sebelumnya hal itu adalah bahan diskusi dan wacana, kita mengaktualisasikannya sehingga bisa terwujud di alam nyata. Bila hal itu adalah sesuatu yang berguna, kita membuatnya menjadi benar-benar bermanfaat dan menguntungkan secara nyata dan kasat mata.
Karena pentingnya “Aktualisasi diri” bagi kita sebagai manusia, Maslow menempatkanya pada urutan kedua setelah kebutuhan fisik. Artinya, setelah kebutuhan pangan, sandang dan papan terpenuhi kita memerlukan aktualisasi diri. Setelah bisa mendapatkan pencaharian, berpakaian dan punya tempat tinggal, kita membutuhkan terwujudnya keyakinan dan harapan yang tersimpan dalam hati.
Di bawah ini kita bisa melihat mengapa meninjaklanjuti keyakinan dengan tindakan sangat bermanfaat. Dengan bertindak, kita akan memperoleh kepercayaan diri, dukungan orang lain dan keberuntungan bernama peluang.
- Kepercayaan Diri
Keyakinan dalam diri ibarat air yang jernih yang harus dialirkan agar berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Selain untuk memanfaatkannya, mengalirkan air juga berguna untuk menjaga kejernihannnya.
Air yang tidak dialirkan akan mengalami pembusukan, tercemar dan menjadi sumber penyakit. Dalam situasi ini, air tidak hanya kehilangan fungsi dan manfaatnya, tetapi juga kehilangan kwalitas terbaiknya sebagai air bersih. Diam membuatnya tidak berguna dan kehilangan identitas yang asli.
Hal serupa terjadi pada keyakinan yang tidak diikuti tindakan. Keyakinan hati yang berulang kali tidak ditindaklanjuti akan menjadi racun yang menggerogoti bahkan membunuh kepercayaan diri. Ketika tidak ada penyaluran dari gelora yang mengisi hati, akan terjadi pembusukan pada keyakinan itu sendiri.
Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”(Ali-Imran:139)
- Dukungan Orang Lain
Secara tidak sengaja, orang lain bisa berperan sebagai penguji niat dan semangat kita. Bila punya keyakinan, keinginan, semangat atau rencana, mereka ingin kita membuktikannya. Bila mendengar hal ini secara langsung, kebanyakan mereka akan acuh, tidak percaya atau meremehkan. Bila beruntung bertemu orang baik, kita akan mendengar komentarnya bahwa hal itu adalah “Rencana bagus”. Tetapi, kita tidak akan mendapatkan lebih dari itu.
Setelah memulai langkah dan bertindak, kita akan mendapatkan situasi berbeda. Begitu kita telah memulai dan menemukan kendala di tengah jalan, mereka akan senang hati membantu sesuai kapasitasnya masing-masing.
Kita akan mendapat bantuan dan dukungan orang lain ketika sudah bertindak. Setelah melihat bukti kesungguhan kita, bantuan dari orang lain akan datang dengan atau tanpa kita minta.
- Keberuntungan Bernama Peluang
Banyak orang keliru memahami bahwa nasib baik datang begitu saja menemui mereka yang tidak berbuat apa-apa. Pandangan umum itu menggambarkan bahwa beberapa orang ditakdirkan beruntung, seperti mendapatkan durian jatuh tanpa harus memanjatnya. Atau seperti orang yang menggali lubang dan memperoleh harta karun. Keberuntungan digambarkan sebagai keajaiban yang semuanya tergantung takdir menunggu.
Padahal apa yang kita sebut sebagai keberuntungan tidak lain adalah bentuk tindakan yang diiringi kewaspadaan tentang peluang yang lebih baik. Seorang mendapat durian jatuh setidaknya sudah bertindak dengan cara datang ke kebun atau ladangnya. Seorang yang menemukan harta karun sudah bertindak dengan cara menggali lubang.
Keberuntungan sebenarnya adalah peluang lebih besar yang ditemui setelah kita bertindak. Kita tidak akan mendapat durian runtuh atau menemukan harta karun misalnya, bila hanya berdiam diri di rumah. Keberuntungan itu ajaib, tetapi ia tetap menuntut kita untuk bertindak.
Allah berfirman: “Maka bertakwallah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. At –Tagabun:16)
Imam Asy-Syafi’i berpesan dalam baitan syairnya:
Merantaulah…
Orang berilmu dan beradap, tidak diam beristirahat di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang
Merantaulah…
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan
Jika mengalir, ia akan jernih
Jika diam, ia kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang,
tak kan mendapatkan makanan
Anak panah jika tak tinggalkan busur,
tak kan mengenai sasaran
Jika matahari di orbitnya tak bergerak
dan terus diam
Tentu manusia kan bosan
dan enggan untuk memandang
Biji emas tak ada bedanya dengan tanah
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika terus berada di dalam hutan
Jika biji emas memisahkan diri,
Berubahlah ia menjadi emas murni yang dihargai
Jika kayu gaharu keluar dari hutan,
Ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi
Idzaa kunta dzaa ra’yin, Fakun dzaa aziimatin, Inna fasaada arra’yi an tataraddada.
Jika engkau punya pilihan, jalanilah dengan penuh keyakinan, sebab akan rusak sebuah pilihan bila bercampur dengan keraguan.

