Addin Edisi 243: Rasa Syukur Membawa Ketenangan

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi : Nanda Ariesta

Oleh : Siti Nur Annisa Hendra Siregar

Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S Ibrahim :7).

Syukur, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan namun terkadang sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Arti kata syukur jika ditinjau dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki makna yakni berterima kasih; mengucapkan syukur. Dengan demikian, berterima kasih sepatutnya hanya dapat kita ucapkan kepada sang pencipta langit dan bumi yaitu Allah Swt. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal yang terjadi pada diri kita, atau hal-hal yang terjadi di depan mata kita diberikan Allah untuk menguji rasa syukur yang ada pada diri kita.

Setiap orang memiliki pandangan dan perbuatan tersendiri untuk mengaplikasikan rasa syukurnya kepada Allah Swt atas apa yang telah diperolehnya dan dimiliknya. Ada yang mengungkapkannya dengan berinfak, bersedekah, ataupun melakukan syukuran dengan memberi makan anak-anak yatim dan sebagainya. Lalu, adakah cara yang lain untuk bersyukur selain dengan hal yang demikian? Jawabnya ada. Di sekeliling kita pernahkah kita menyaksikan orang yang hidupnya pas-pasan tapi tidak banyak mengeluh, yang dilakukannya hanya bekerja keras sambil berikhtiar dan tawakal.

Bersyukur hari ini saya masih bisa bersekolah walaupun naik angkutan umum, sedangkan yang lain masih ada yang sekolah jalan kaki. Bersyukur hari ini saya masih bisa makan dua kali sehari walaupun pakai telur goreng, sedangkan yang lain ada yang makan sehari hanya sekali ataupun bisa makan saja syukur. Bersyukur saya hari ini masih dapat melihat senyum kedua orang tua saya, sedangkan yang lain jangankan melihat senyum bisa memimpikannya saja Alhamdulillah. Nah, kalimat-kalimat membandingkan tersebut juga memiliki makna kesyukuran di dalamnya yang secara tidak langsung memberikan ketenangan terhadap jiwa.

Kata rezeki dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti yaitu segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan yang diberikan oleh Tuhan; makanan sehari-hari; nafkah; penghidupan; pendapatan, uang dan lain-lain untuk memelihara keuntungan; mendapat makanan.

Melalui firman Allah dalam Al-quran surah Ibrahim ayat 7, yang dituliskan dalam artian sebagai berikut. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Allah Swt dengan tegas menyatakan  dampak baik yang kita dapatkan apabila rasa syukur kita terapkan  ketika berbagai macam nikmat-Nya datang menghampiri, serta akan ditambahnya kembali. Lalu, Allah Swt juga dengan tegas menyatakan dampak buruk apa yang kita dapatkan, ketika kita tidak pandai untuk mengambil kesyukuran nikmat (kufur) atas apa yang telah diberikan oleh Allah, Dia katakan bahwa azab yang akan ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang kufur nikmat sangatlah pedih.

Lantas, apakah nikmat yang diberikan oleh Allah hanya berupa sebuah kesenangan belaka? Seperti rezeki yang melimpah, harta yang banyak, jabatan yang  tinggi, banyaknya karyawan, rumah yang bagus, mobil yang mewah, sawah dan ladang yangmembentang, istri atau suami yang cantik dan tampan, pakaian bermerek dan lain sebagainya. Tentu jawabnya tidak. Kenapa demikian? Karena sering kita dapati orang yang sedang sakit menjadikan sakitnya sebagai nikmat penggugur dosa atas dirinya.

Pernahkah pembaca menyaksikan di televisi, atau mendengarkan di radio, atau membaca di surat kabar dan juga di buku. Bahwa, banyak orang yang memiliki harta melimpah bunuh diri. Sedang di puncak karir bunuh diri. Sudah punya wajah bagus tapi dirusak dengan melakukan operasi plastik, sulam alis, sulam bibir, botox demi mendapatkan kesempurnaan pada wajahnya. Perbuatan yang demikian bisa saja menjadi azab Allah padanya karena tidak mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah, sehingga Allah mencabut indahnya hakikat ketenangan terhadap diri sendiri pada jiwa dan batinnya. Hal ini merupakan peristiwa pembanding dari uraian sebelumnya.

Senada dengan hal ini, Allah juga menututurkan dalam firmannya yang berartikan sebagai berikut. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabb-Ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambanya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Ia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”(Q.S Saba ayat 39).

Penulis mencantumkan ayat tersebut, karena rasa syukur pada nikmat biasanya dipahami dengan rezeki yang telah diberikan Allah. Dan melalui ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah memiliki kuasa terhadap apa saja yang dikehendaki-Nya, yang ingin dilakukan dan diberikan terhadap hamba-Nya. Rezeki bukan hanya berupa uang. Melainkan, kesehatan dan ketenangan jiwa yang merupakan nikmat rezeki terbaik yang diberikan Allah terhadap hambanya.

Allah  Swt, memiliki keagungan yang dijabarkan dalam tinta Asmaul-Husna. Kehendak yang diberikan-Nya kepada setiap hamba merupakan kehendak terbaik yang sudah dinisbahkan-Nya sesuai dengan kadar kesanggupan dan keikhlasan manusia dalam berbuat sesuatu dan ketika mendapatkan sesuatu. Tidak ada perbuatan manusia yang tidak luput dari pandangan-Nya, sampai tolok ukur kesyukuran yang letaknya di dalam hati manusia pun Allah pasti mengetahuinya. Dan Allah akan menggantikan dan membalas segala tindak tanduk hamba-Nya walaupun hanya sebesar biji dzarrah.

Penulis pernah membaca sebuah buku yang berjudul ‘Bukan Untuk Di Baca’  karangan Deassy M Destiani seri kedua National Best Seller. Dalam buku tersebut di halaman 52 sampai 54 mbak Deassy menjabarkan di mana letaknya hakikat kebahagiaan. Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolt Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Pada dasarnya kita akan meletakkan hakikat kebahagian itu munculnya dari hati yang berorientasi pada ketenangan jiwa dan hal tersebut bisa kita sandingkan dengan indahnya mengaplikasikan rasa syukur. Untuk hal ini mari sama-sama kita mengucapkan rasa syukur kepada Allah karena telah memperkenankan kita menjadi bahagian dari hamba-Nya, menjadi pengikut Nabi Muhammad yang beragama Islam dan memiliki iman. Allah menurunkan wahyu-Nya berupa Alquran kepada malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk menyampaikan dan menjelaskannya kepada ummatnya.

Bersyukurlah kita yang beragama Islam karena memengang teguh konsep syukur nikmat yang telah disebutkan dalam Al-Quran. Khususnya dengan mengaplikasikan Surah Ibrahim ayat 7. Allah tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya, karena dengan kekayaannya ia bisa turut serta dalam mengembangkan agama Allah. Tapi yang Allah larang adalah ketika hamba-Nya terlalu hubbuddunya sehingga meninggalkan konsep syukur yang sudah diajarkan, yang menyebabkannya menjadi kufur nikmat. Orang yang berilmu, mensyukuri nikmat ilmu yang dimilikinya dengan mengajarkannya pada yang lain. Orang yang memiliki jabatan, bisa bersyukur dengan menegakkan dan memperjuangkan kehormatan agama Allah. Banyak cara bersyukur yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Ingat saja konsepnya, Allah akan menambah nikmat yang diberikannya kepada kita apabila kita bersyukur. Dan Allah akan memberikan azab-Nya yang pedih apabila kita kufur nikmat.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Jurusan Jinayah semester IV

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles