Islam Solusi Kesehatan

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi

Penulis: Anggi Kurnia Adha Harahap

Karya Kontributor Dinamika – Setiap musibah pasti memiliki hikmah yang tersembunyi. Sebagai makhluk yang memiliki akal, harusnya dapat memahami keadaan saat ini hingga menjadi pusat semesta dunia. Segala sesuatu dapat terjadi atas ketentuan-Nya dan akan kembali juga atas izin-Nya.

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang dianggap mengerikan dan merebak ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia menjadi pembicaraan setiap kalangan. Asal pertama munculnya wabah yang dilansir dari South China Morning Post menyebutkan: Pasar Makanan Laut Huanan adalah pasar yang menjadi sumber wabah virus ini.

Terdapat 100 varietas hewan dan unggas hidup, mulai dari rubah hingga serigala, musang bertopeng, kepiting, udang, kura-kura, ular, tikus, landak, dan burung diperjualbelikan.

Ada juga hewan hidup seperti katak, harimau, kelelawar, landak, dan satwa liar lainnya. Hewan ektsrem tersebut menjadi santapan nikmat bagi masyarakat setempat. Hal ini tidak hanya menggemparkan masyarakat Wuhan, namun dunia ikut membicarakannya.

Penyebaran virus yang begitu luar biasa cepat menyebar tidak hanya dari hewan, bahkan antarmanusia ke manusia lainnya dapat menjadi pembawa inang virus tersebut. Sehingga penularan yang dapat terjadi begitu luas. Penularan melalui udara dan kontak langsung menjadi hal yang mengerikan.

Apabila Covid-19 disebakan oleh hewan ekstrem seperti kelelawar, dan ular, maka Islam sudah mengajarkan untuk mengonsumsi makanan yang halal lagi baik. Konsep Islam sebagai rahmatan lill alamin sudah tepat menjawab semua permasalahan yang sedang mengguncang dunia saat ini.

Adanya musibah atau ketentuan Allah dengan hadirnya makhluk kecil bernama corona menyadarkan manusia untuk menjaga pola makannya. Bukan sekadar nikmat, tetapi juga berkhasiat. Kalau makanan mengandung racun atau sifatnya mematikan, maka dipastikan hewan atau makanan  tersebut tidak layak untuk masuk ke dalam tubuh manusia.

Islam memberikan larangan di dalam Al-Qur’an bukanlah fiksi. Justru dengan adanya larangan yang ditetapkan Allah adalah sebagai bukti, bahwasanya sistem kesehatan terbaik datangnya dari Allah.

Terkait dengan upaya pencegahan yang sedang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk mencuci tangan pakai sabun adalah ajaran Islam. Dengan melakukan salat lima waktu dan menjaga wudu telah menjadi bukti betapa Islam begitu sempurna menyucikan diri manusia. Sehingga, virus yang bersifat takut dengan air tidak akan masuk ke dalam tubuh.

Selain itu, konsep Islam untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram juga menjadi jawaban atas salah satu upaya social distancing (pembatasan sosial) yakni menjaga jarak dengan tidak bersalaman atau bersentuhan. Tidak hanya itu, menjaga jarak 1-2 meter antarmanusia juga diperintahkan pemerintah saat ini. Hal ini juga sesuai syariat Islam agar tidak ikhtilat atau bercampur baur antara perempuan muslimah dan lelaki muslim.

https://www.instagram.com/p/B_RXk9Tn2KY/

Badan kesehatan dunia (WHO) menaikkan status Covid-19 sebagai pandemi karena penyebarannya sudah universal. Hingga di awal April (6/4) sudah tercatat 1,2 juta kasus pada berbagai belahan dunia. Lantas apakah langkah yang seharusnya dilakukan saat ini untuk menghentikan penyebaran Covid-19?

Lockdown (karantina wilayah) adalah solusi, sebab situasi yang harus dilakukan adalah pemutusan rantai pandemi. Orang tidak diizinkan masuk atau meninggalkan gedung atau area karena sebuah keadaan darurat. Hal ini biasanya hanya bisa diajukan oleh seseorang dalam posisi otoritas seperti pemimpin negara atau daerah.

Belajar dari sumber virus, yakni China sudah melakukan karantina wilayah untuk 20 provinsi dan wilayah dengan beberapa aturan yang berlaku, di antaranya memutus jalur transportasi ke dan dari kota yang dikarantina dan menutup banyak tempat umum.

Kemudian, Italia yang menjadi kasus kematian terbanyak dan mencapai ribuan korban meninggal dunia. Begitu pun Malaysia dan beberapa negara di antaranya seperti Perancis, Spanyol, Irlandia, dan Denmark.

Bagaimana dengan Indonesia saat ini? Hingga data terakhir pada 21 April kasus kematian sudah mencapai 616 orang dengan kasus positif Covid-19 mencapai 7.135 orang dan 842 dinyatakan sembuh.  Maka, Indonesia juga perlu melakukan penguncian agar masalah yang sedang terjadi dapat menghentikan penyebaran Covid-19. Karantina wilayah dapat dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah atas perintah wewenang tertinggi, yakni Presiden.

Mengapa harus karantina wilayah?

Pada faktanya, Islam juga menjadi rujukan untuk sistem kesehatan yang baik dan benar. Karena sebelum terjadinya wabah Covid-19, pada zaman Rasulullah SAW juga pernah terjadi wabah yang menyebar luas bernama “kusta”.

Sesuai sabda Rasulullah SAW: “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. Bukhari & Muslim).

Artinya, Indonesia saat ini perlu melakukan tindakan karantina wilayah. Keselamatan nyawa lebih diutamakan daripada berbagai akses yang dikatakan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Covid-19, bukanlah berbicara perihal untung rugi sebuah negara. Ini adalah kesiapan sebuah negara untuk bertanggung jawab atas kekuasannya. Terkait ekonomi yang akan memburuk ketika dilakukan karantina wilayah ada benarnya.

Namun, pada faktanya harus ada yang dikorbankan untuk sejumlah nyawa sebagai aset bangsa di suatu negara. Karantina wilayah yang dimaksud juga memiliki tahap, sesuai keadaan kasus tertinggi di suatu wilayah sampai tidak adanya kasus pada wilayah.

Oleh karena itu, sebagai insan yang memiliki akal, perlu kesadaran untuk bersama dalam menyelesaikan virus pandemi global ini. Para dokter dan tenaga ahli kesehatan berusaha sepenuhnya menyembuhkan dan meningkatkan derajat kesehatan.

Seharusnya apotek dan toko ritel juga memiliki porsi yang sama untuk membantu pencegahan penularan virus tersebut dengan menyediakan masker, hand sanitaizer (penyanitasi tangan), dan berbagai keperluan kesehatan lainnya. Bukan justru melakukan penimbunan bahan tersebut untuk mengambil keuntungan yang lebih besar.

Bahkan, terdapat apotek yang menjual masker ke luar negeri dengan harga fantastis. Hal ini menjadi polemik dan menjadi fenomena panic buying (beli panik) di masyarakat sehingga memiliki sifat berlebihan. Meskipun teore permintaan tinggi dan harga meningkat, namun dalam keadaan darurat tidak seharusnya ada oknum kapitalis. Hingga mengambil keuntungan dengan memberatkan keselamatan manusia.

Sebagai muslim, tidak dibenarkan melakukan tindakan tersebut. Perbuatan tercela yang akan sampai pada kampung halamannya, yakni neraka.

Maka, perlu kiranya merujuk pada tata pengelolaan dalam Islam agar menjadi rahmatan lil alamin. Karena mahkluk digdaya Covid-19 dapat membuat manusia tidak berdaya. Oleh karena itu, perlu mengambil hikmah dari Covid-19, yakni betapa pentingnya keadaan sehat dan betapa dahsyatnya syariat Islam dalam menyempurnakan kesehatan.

____________________

Anggi Kurnia Adha adalah seorang penulis novel berjudul ‘Lelaki Berkacamata’, yang pada tahun 2019 buku pertamanya lahir pada dunia literasi. Anggi adalah mahasiswi di Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN SU Medan dan saat ini sedang menjalani semester VI. Gadis kampung yang baru saja genap berusia 21 tahun pada 4 April kemarin.

Bagi Anda dosen dan mahasiswa/i UIN SU kirimkan cerpen atau opini terbaik Anda ke posel: redaksi@lpmdinamika.co dengan subjek: Karya Kontributor. Tulisan yang dikirim dilampirkan dalam format dokumen word dan sertakan data diri singkat di bawah tulisan. Sertakan foto diri di badan posel. Redaksi tidak menerima karya plagiat, menyinggung SARA dan melanggar hukum negara. Dalam tempo paling lama tiga minggu tulisan yang lolos kurasi akan dikabarkan via pesan WhatsApp.

- Advertisement -

Share article

Latest articles