Viral karena Bungkus-membungkus

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto/Ilustrasi/Pixabay)

Penulis: Afifah Lania Sihotang

Istilah speak up akhir-akhir ini cukup booming di berbagai media sosial, khususnya Twitter. Tidak jarang banyak orang yang ‘speak up’ atau berterus terang tentang suatu hal, baik itu hal yang menyangkut dirinya ataupun orang lain. Nah, tidak jarang hal-hal yang diungkapkan melalui sebuah thread (utas) mendadak menjadi trending di media sosial tersebut. Beberapa waktu belakangan ini, cukup banyak warga Twitter yang kebanyakan menggunakan akun anonim untuk membuat suatu utas mengenai pelecehan seksual.

Sudah banyak beredar utas yang mengungkapkan kejadian pelecehan seksual yang ia atau pun temannya alami dan hampir seluruh korban adalah wanita. Bahkan, sampai ada yang membuat meme mengumpulkan seluruh wajah pelaku pelecehan seksual dengan kutipan “hati-hati dengan pria berkacamata”.

Entah kebetulan atau bagaimana, seluruh pelaku yang diungkapkan telah melakukan pelecehan seksual adalah pria berkacamata. Seketika utas tersebut menjadi tagar trending dan para pembaca sontak menjadi intel handal memburu setiap media sosial pelaku, menyebarkannya, dan menyerbu pelaku pelecehan tersebut tanpa ampun, tanpa jeda.

Baru-baru ini, terdapat satu akun twitter yang kembali mengungkapkan bahwa dirinya telah mendapatkan pelecehan seksual. Lain daripada yang lain, korban pelecehan kali ini adalah seorang pria. Dan dengan seorang pelaku yang juga seorang pria. Akun ini membuat suatu utas bahwa ia telah mengalami pelecehan seksual secara tidak langsung oleh seorang pria bernama Gilang, seorang mahasiswa asal Surabaya.

Dengan alasan meminta bantuan menyelesaikan tugas akhir, ia terus mencari korban untuk memuaskan hasratnya yang ternyata seorang biseksual. Awal kenal di Instagram, percakapan antara korban dan Gilang berlanjut di WhatsApp.

Gilang dengan segala alasan memohon kepada korban untuk membantunya menyelesaikan tugas akhir perkuliahan dengan meminta korban membungkus badannya sendiri dengan kain jarik lalu mengirim video ‘pembungkusan’ tersebut ke Gilang dengan dalih penelitian yang dilakukannya untuk melihat bagaimana sifat asli seseorang akan keluar saat dirinya terbungkus dan tidak dapat melakukan apapun.

Korban sudah merasa curiga dan menolak membantu pelaku, namun Gilang tidak serta-merta menyerah dan terus memohon pada korban dengan berbagai cara untuk mendapatkan belas kasihan korban sampai korban pun menyetujui untuk membantunya. Korban meminta temannya untuk membantunya melakukan ritual ‘bungkus-membungkus’ ini. Tak sampai di situ saja, Gilang yang merasa tidak mau rugi, meminta teman korban untuk melakukan hal yang sama dengannya.

Teman korban yang juga berniat membantu akhirnya bersedia dibungkus dan menjadi ‘korban’ Gilang selanjutnya. Gilang yang merasa rencananya sempurna dan berhasil dengan tidak tahu diri kembali meminta korban dan teman korban mengulangi video bungkus-membungkus tersebut dengan alibi video kurang sesuai, sampai akhirnya korban menyadari bahwa ia dan temannya telah menjadi korban pelecehan seksual yang kemudian dikenal dengan ‘fetish kain jarik’.

Setelah itu, kata fetish mulai sering diperbincangkan. Fetish sendiri merupakan keadaan dimana seseorang memiliki hasrat setelah melakukan hal-hal tertentu yang biasanya benda mati atau bagian tubuh selain genital. Hasrat tersebut muncul setelah melihat, memegang, dan melakukan sesuatu.

Secara medis, dr. Andri, Sp.K.J., FAPM, Spesialis Kedokteran Jiwa, Omni Hospital Tangerang, menjelaskan melalui kanal YouTube pribadinya bahwa fetish bukanlah merupakan gangguan kejiwaan yang dialami seseorang. Namun, ketika fetish sudah mulai menganggu kehidupan sosial, maka itu disebut gangguan atau secara seksual perilaku fetish menjadi tidak lazim.

Penelitian mengatakan, fetish dan kelainan seksual lainnya banyak dialami oleh orang-orang yang mengalami depresi dan kepercayaan diri yang rendah. Kemudian, fetish dapat ditangani dengan terapi perilaku ketika dorongan seksual masih bisa dikendalikan oleh pelaku

Kembali pada kasus Gilang, hingga saat ini belum terdengar kembali bagaimana kabar pelaku kejahatan pelecehan seksual tersebut. Karena keberanian akun tersebut mengungkapkan kasus ini, memberi motivasi korban-korban Gilang lainnya yang terus bermunculan, bahkan yang sudah lewat kurun waktu lima tahun kebelakang. Gilang sudah melancarkan aksinya sejak lima tahun yang lalu dan terus berlanjut hingga sekarang.

Atas kejadian ini, banyak pihak ikut mendukung korban dan mengecam pelaku. Pihak kampus pelaku sudah mengeluarkan edaran yang menyatakan masih terus berusaha meminta keterangan pelaku yang seakan hilang setelah viral. Karin Novilda dan Babe Cabita sebagai influencer juga ikut menyuarakan dukungan mereka dengan versinya masing-masing. Akun Gilang tidak luput dari serangan netizen yang merasa geram akan kejahatannya yang baru terungkap sekarang sedangkan korban sudah tidak bisa dikatakan sedikit.

Meme-meme kocak terus bermunculan, gambar Gilang sudah tersebar di mana-mana, namun Gilang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Mungkin saja Gilang sedang beristirahat sejenak sampai keadaan kembali reda atau Gilang sedang menyusun hasil penelitiannya dan segera merampungkan tugas akhirnya di semester sepuluh agar segera menyelesaikan studinya? Di mana pun Gilang berada, semoga tidak ada korban-korban baru yang terjebak perangkap pelaku.

Terakhir, penulis berpesan agar selalu berhati-hati saat orang yang baru dikenal tiba-tiba meminta bantuan yang menurut akal sehat sudah tidak benar lagi, pandai-pandai lah melihat dan memperhatikan mana yang benar-benar meminta bantuan atau yang hanya mencari korban kejahatan.

Editor : Amelia Pratiwi

- Advertisement -

Share article

Latest articles