Oleh: Syarifah Maryana
Data dari badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) menunjukkan bahwa dari tahun 2006-2010 saja, terdapat kurang lebih 40 persen jajanan tidak memenuhi syarat kesehatan pangan. Dari tahun 2009-2013, kurang lebih 59-70 persen jajanan tidak higienis. Padahal, menurut survei BPOM di 18 provinsi, sebanyak 99 persen anak sekolahan pasti menikmati jajanan.
BPOM menyatakan bahwa jajanan anak sekolah yang perlu diwaspadai adalah minuman es, minuman berwarna, sirup, makanan mengandung jelly, agar-agar serta bakso. Jajanan tidak hanya menjamur di kalangan anak sekolahan, namun juga sudah melingkupi kalangan mahasiswa dan karyawan. Jenis makanan yang variatif, kemasan yang menarik, rasa yang tidak kalah lezat dan harga yang cukup murah membuat produk jajanan ini banyak diminati.
Melihat fakta ini, anda yang sudah terlanjur sering menikmati jajanan dan terutama orang tua yang mempunyai anak sekolahan harus khawatir. Deputi bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM dr. Roy A. Sparringa menyatakan bahwa pada tahun 2009, persentase keracunan pangan di tingkat SD sebanyak 77 persen, tahun 2010 sebanyak 68 persen, 2011 sebanyak78 persen, dan pada 2012 sebanyak 73 persen. Sedangkan di tahun 2013 menduduki peringkat tertinggi dengan angka 79 persen.
Oleh karena itu, sudah hal yang wajar saat Kementrian Kesehatan RI bersama Kementrian Kesehatan Nasional yang didukung oleh PT. Tupperware Indonesia menetapkan setiap tanggal 12 April sebagai Hari Bawa Bekal Nasional. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi intensitas jajan anak, yang pada akhirnya juga bermanfaat bagi kesehatan pribadi anak tersebut.
Launching Hari Bawa Bekal Nasional yang dilaksanakan pada 12 April 2013 ini dilaksanakan dengan mengampanyekan bawa bekal di empat kota yaitu Medan, Pontianak, Makassar dan Jakarta yang disahkan oleh walikota dan Kepala Diknas masing-masing kota.
Langkah Kementrian Kesehatan dan Kementrian Pendidikan ini patut mendapat dukungan dari orang tua dengan membekali anak setiap paginya serta mengurangi besaran nilai uang saku anak. Bekal yang disiapkan dengan kasih sayang orang tua tentunya lebih higienis dan nikmat.
Pihak sekolah pun dapat mendukung program pemerintah ini dengan mengampanyekan bawa bekal kepada seluruh warga sekolah, tidak hanya anak murid namun guru pun menerapkannya. Untuk langkah awal, pihak sekolah bisa membuat Hari Bawa Bekal, misalnya setiap hari Jumat, setiap warga sekolah dianjurkan untuk membawa bekal. Pada jam istirahat, wali kelas dan anak muridnya akan makan bersama dan saling berbagi bekal masing-masing. Kegiatan ini tentu akan mempererat tali persaudaraan sesama teman sekolah sekaligus menambah kedekatan antara guru dan murid.
Kegiatan serupa juga bisa diterapkan di kampus dan kantor. Apa salahnya ketika pihak kampus menetapkan hari bawa bekal? Apa salahnya ketika Komisaris Mahasiswa mengajurkan aksi hari bawa bekal? Dan apa pula salahnya jika manajer perusahaan juga melakukan hal yang sama? Banyak manfaat yang dapat diperoleh. Selain menjaga kesehatan, membawa bekal juga dapat menghemat biaya, hemat waktu karena tidak perlu pergi dan mengantri saat membeli makanan dan juga dapat saling berbagi sesama rekan kerja.
Saya kira, jika menunggu pemerintah membasmi pedagang yang menjajakan makanan tidak sehat, itu adalah hal yang hampir sangat mustahil. Dengan ditetapkannya Hari Bawa Bekal Nasional adalah salah satu bukti nyata pemerintah peduli dengan kesehatan rakyatnya, melihat kian maraknya jajanan tak layak serta kasus keracunan makanan di negara ini. Marilah kita mulai peduli dengan kesehatan, berawal dari memperhatikan jenis makanan yang kita konsumsi. Dengan perbekalan dari rumah, tentunya makanan akan lebih terjamin kesehatannya karena diproduksi dengan cinta dan kasih sayang. Bagaimana, sudah ada rencana untuk bawa bekal di hari Sabtu ini?


banyak penyakit datang dari makanan….