Addin 328: Hidayah Allah, Lentera Hayat Sampai Akhirat

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator/Mustika)

Penulis: Ussy Ariska Astri

Kata hidayah berasal dari bahasa Arab yaitu hadaa–yahdii–hadyan–hudan–hidyatan–hidaayatan yang memiliki arti petunjuk. Lawan katanya adalah dhalalah yang berarti kesesatan. Adapun secara istilah, hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Seperti firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 5, “Mereka itu yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan pencipta mereka dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses”.

Mufasir besar Syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi membagi hidayah menjadi lima macam. Pertama, hidayah al-ilhami (hidayah naluri) yang merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak berdasarkan pada suatu pikiran namun pada dorongan alamiah dalam diri. Kedua, hidayah al-hawasi (hidayah pancaindra) yakni hidayah Allah yang diberikan untuk semua makhluknya meliputi mata, telinga, hidung, indra perasa dan peraba demi menjalani hidup dengan baik. Ketiga, hidayah al-aqli yakni hidayah akal sebagai peranti lunak dan mengakomodir semua hal yang dihimpun oleh panca indra serta menempatkan manusia sebagai makhluk terbaik jika ia menggunakan akal secara optimal.

Hidayah keempat ialah hidayah al-adyani. Hidayah agama sebagai petunjuk kepada kebenaran yang hakiki menuju Tuhan-Nya. Kelima, hidayah taufiq yaitu hidayah yang semata-mata berada di tangan-Nya. Ia yang menunjukkan jalan, cara, dan metodenya sehingga seseorang yang mendapat hidayah ini selalu mudah dan tak terbebani sedikit pun dalam menjalankan syariat Allah. Allah memberikannya kepada orang-orang yang istikamah dalam menjalankan syariat-Nya.

Hidayah merupakan modal dasar yang sangat utama bagi seorang hamba dalam meraih kebahagiaan duniawi dan kesenangan ukhrawi. Hidayah Allah terbuka bagi semua hamba-Nya, baik yang telah beriman maupun yang belum, semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkannya. Namun, Allah yang punya kehendak terhadap siapa yang berhak mendapatkan nikmat yang paling mahal tersebut. Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah bersungguh-sungguh menempuh jalan-Nya.

Manusia yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa ta’ala, hidupnya bagai dalam kegelapan, mengalami kesulitan, dan tak tentu arah. Agar tak hilang dan gelap arah, tentunya kita ingin menerangi jalan kehidupan dengan lentera hidayah dari Allah. Sebab hidayah itu tidak ditunggu melainkan dicari, bagaimana kiat agar meraih hidayah Allah? Dalam kitab Bidayatul Hidayah yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, setidaknya terdapat beberapa poin penting cara meraih hidayah dari Allah, yaitu:

Mencari Ilmu

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi seorang Muslim sampai akhir hayatnya. Tidak ada tujuan lain dalam mencari ilmu kecuali ingin mendapatkan petunjuk kebenaran yang menuntun dan membimbing manusia dalam perjalanan menuju akhirat. Allah sangat mencintai orang-orang yang berilmu dan mengangkat derajat orang yang berilmu, sebab ilmu adalah cahaya kehidupan. Semakin bertambah ilmunya, maka semakin terang jalan hidupnya dan semakin dekat kepada Allah Swt. Dengan ilmu juga, ibadah yang kita amalkan menjadi berkah dan tidak ditolak Allah Subhanahu wa ta’ala.

Efek dari mencari ilmu yang benar itu apabila pengaruh ilmu membuat kita menjadi lebih baik dan menjadi sarana untuk mendapatkan hidayah Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun, jika berpengaruh buruk setelah dipelajari, maka ada yang salah dalam niat mencari ilmu dan keliru pada sumber ilmu tersebut sehingga bisa jadi hidayah itu terhambat. Untuk itu, maka upayakan sumber ilmu yang jelas dan persiapkan hati yang bersih dalam menuntut ilmu tersebut.

Beribadah

Hakikat manusia diciptakan oleh Allah adalah beribadah. Dengan beribadah, seorang hamba akan terkoneksi dengan pencipta-Nya. Prinsip melakukan ibadah tidak sekedar rutinitas ritual atau menggugurkan kewajiban tetapi sebagai perwujudan dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ibadah adalah semua perbuatan yang berorientasi kepada ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika itu yang menjadi pijakannya, maka sebisa mungkin seorang hamba mampu mengaplikasikan nilai-nilai ibadah dalam kehidupannya. Dengan begitu, hidayah akan selalu menyertainya. Menjalani ibadah juga harus disertai dengan keikhlasan. Jika tidak, maka ibadah tersebut sia-sia. Oleh karenanya, lakukanlah segala ibadah semata-mata karena Allah Taala agar hidayah selalu kita dapatkan.

Memperbaiki Aktivitas

Sering kali aktivitas yang kita lakukan sehari-hari cenderung pada aktivitas yang sia-sia dan tidak berbuah hikmah. Padahal, salah satu cara meraih hidayah adalah dengan memperbaiki aktivitas yang acap kali dilakukan. Jadikan setiap aktivitas kita bernilai ibadah di mata Allah, hendaklah memulai segala kegiatan dari bangun tidur hingga ingin tidur kembali dengan doa. Hal-hal kecil seperti tersenyum kepada orang lain, memberi makan hewan peliharaan yang kelaparan, bahkan diam di saat yang tepat pun bisa menjadi ibadah. Sekecil apa pun aktivitasnya maka jadikanlah itu sebagai ibadah atau hikmah yang dapat dijadikan pelajaran. Hindari untuk berbuat hal yang tidak bermanfaat karena tanda Allah “cuek” terhadap hamba-Nya apabila larut dalam perbuatan yang sia-sia.

Ketiga poin di atas menandakan hidayah Allah itu bisa datang lewat mencari ilmu, beribadah, dan memperbaiki aktivitas diri. Lewat ilmu seseorang bisa membedakan antara hak dan yang batil, dengan beribadah menjadikan diri bertakwa kepada Allah dan memperbaiki aktivitas sehari-hari agar bernilai ibadah.  Hidayah dibutuhkan agar tak lekas lepas dari akal yang terbatas, tak berkarat dibuat maksiat, dan semoga kita menjadi hamba yang bertakwa dan menjadi pilihan Allah mendapat petunjuk-Nya, selamat dalam hayat hingga akhirat. Saya yang menulis ini sekarang, tak lain bersebab kepada hidayah rohani dan akal yang baik dari Allah sehingga bisa menulis yang sekiranya dapat diambil manfaatnya.

Terakhir, jangan putus asa untuk selalu berdoa kepada sang pemilik petunjuk agar senantiasa mendapat hidayah sampai akhir hayat kita. Perlu kita ingat bahwa hidayah tidak ditunggu melainkan dicari. Diraih dengan sungguh, buka pikiran dan hati dengan luas serta tak menurutkan nafsu. Maka Allah dapat membimbing hidayah kepada kita lewat apa, siapa, kapan, dan bagaimana.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” (QS Al-Fatihah:5-7)

Biodata Diri:

  • Nama : Ussy Ariska Astri
  • F/J/S: FDK/KPI/VII
  • No. Hp: 081262599461
  • Instagram : @aissy_9
- Advertisement -

Share article

Latest articles