Adeva /3/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Syifa Zanjabila)

Penulis: Dita Saharani

Hari ini adalah hari di mana Agatha harus mengikuti perwakilan kelas untuk menyanyi di acara sekolah, sekarang dia berada di aula bersama perwakilan dari kelas lain.

“Selamat siang semua, jadi kalian akan dibagi menjadi 5 kelompok, setiap perwakilan akan dites satu per satu, ya. Dari hari ini sampai 3 hari ke depan kita akan mulai tesnya dan di hari terakhir pengumuman yang menang dan teman duetnya, kalian akan latihan bersama selama 3 hari sebelum malam puncak ulang tahun sekolah.”

“Kalian mengerti?”

“Mengerti,” ucap mereka bersamaan.

Agatha kembali ke kelasnya dengan perasaan tak terkendali, dia sangat gugup padahal hari tampil untuk kelasnya adalah di hari terakhir.

Agatha berjalan melewati taman belakang, taman itu sangat sepi tetapi sangat asri, udara di sana sangat bagus dan sangat cocok untuk seorang seperti Agatha.

Tetapi matanya terjun pada satu makhluk yang sedang tidur di kursi itu, bukannya sekarang jam belajar?

Agatha penasaran, dia melangkahkan kakinya sehingga Agatha tidak mengenali siapa yang sedang tidur itu. Lelaki itu menutupi wajahnya dengan tangannya sehingga Agatha tidak mengenali siapa yang sedang tidur itu.

“Hei bangun,” ucap Agatha dengan nada sedikit keras.

Lelaki itu bergerak mengubah posisinya menjadi duduk dan mengajak Agatha untuk duduk juga.

Agatha seketika terdiam, yang telah dia ganggu tidurnya adalah si Singa alias Devano.

Semoga makhluk ini tidak emosi setelah gue banguni

“Kak Devano, sorry gue duluan, ya, kak,” seketika Agatha terbangun dari duduknya ingin beranjak pergi.

“Duduk,” jelas Devano.

Saat itu Devano hanya ingin mengobrol dengan Agatha.

“Lu kenapa banguni gue tadi?” tanya Devano.

“Kenapa? Kan, ini masih jam pelajaran, ya, wajarlah gue banguni, lu, kak. Enggak masuk kelas apa?” jelas Agatha.

“Ngeselin banget ni cewek,” batin Devano.

***

“Gath, lu kan pintar ni, mau jadi guru privat gue gak?”

“Masih banyak bimbel yang bagus, lla,”

“Ngebosenin Gath, ayo dong kan lumayan lu jadi enggak usah kerja di luar lagi,”

“Gue memang enggak kerja lagi Ila, gue dapet uang dari jualan aksesoris online buatan gue, lumayan juga enggak menggangu sekolah”

“Berarti, tiap hari lo free dong?”

“Ya, begitu”

“Mau, ya, nanti pulang sekolah lu wajib ikut ke rumah gue,”

“iya Ila”

“Jadi kapan lu dites untuk acara sekolah?”

“Dua hari lagi La, pas di hari terakhir,”

“Semoga menang, deh,”

***

Agatha dan Ila sekarang berada di depan rumah Ila, sesuai janji mereka. Agatha akan menjadi guru privat Ila.

“Gath, ayo masuk,” Ila meraih tangan Agatha dan mengajaknya masuk.

“Ini rumah lu kayak istana benar, La?”

“Rumah gue Ila, udah ayo,”

“Anak mama udah pulang?”

“Iya ma,”

“Halo tante,” salam Agatha sembari menyalami tangan Mirna.

“Kamu Agatha, ya?”

“Iya tante,”

“Cantik banget aslinya,”

Pricila merupakan adik dari kedua lelaki kembar itu.

Tak lama kemudian Devano masuk rumah dengan seragamnya yang keluar dan tas yang dipakai cuma sebelah, membuat Devano sangat berantakan siang itu.

Devano melihat Agatha, begitu juga dengan Agatha mereka saling memperhatikan sebentar, hingga Devano duluan mengalihkan pandangannya.

“Ayo semua pada ganti baju, setelah itu kita makan siang,”

“Iya, Ma” ucap Ila dan Devino bersamaan.

“Mama tunggu setengah jam, semua harus udah pada balik lagi kesini, kalau tidak uang jajan besok enggak Mama kasih,”

“Ih, Mama agak telat boleh, ya,” ucap Ila

“Kurang 50% juga boleh, ya, sayang?”

“Hmm iya deh Ma”

“Satu, dua…”

Mendengar itu, semua pada keluar dari kamarnya masing-masing termasuk Agatha yang di ajak Ila ke kamarnya.

***

Di menit ke 28, semua sudah duduk di kursinya masing-masing termasuk Agatha. Mirna adalah seorang yang disiplin akan suatu hal, dia selalu menerapkan sistem waktu untuk keluarganya.

Posisi makan siang hari ini, di ujung kanan dan kiri, Gunawan dan Mirna saling berhadapan. Devano di samping Devino dan berhadapan dengan Agatha.

Agatha bisa melihat Devano yang sangat serius makan, dia sangat tenang dan dingin.

Setelah makan mereka berbincang-bincang, itu sudah menjadi ciri khas keluarga mereka untuk tidak langsung ke kamar setelah makan.

“Jadi, bagaimana sekolah hari ini?” tanya mirna kepada anak-anaknya.

“Ila seperti biasa Ma, bareng Agatha ke mana pun, yakan, Gath,”

“Hehe iya, La”

“Devino juga sih Ma, seperti biasa aja,”

“Ma, Pa, Devano izin naik duluan,” datar tetapi penuh perhatian.

“Iya silahkan, nak” Mirna bersuara, dia sangat mengenali anaknya itu, dia persis seperti papanya yang sangat hemat dalam berbicara.

“Kamu mau lanjut kemana, Vino?”

“Devino ngambil kedokteran boleh, kan Pa?”

“Boleh dong, nak,”

“Makasih Pa,”

“Ma, Pa, kita juga naik ke atas duluan ya, Agatha mau belajar sama Ila dulu,”

“Semangat belajarnya, ya, sayang,”

“Iya Papaku sayang”

Sesampainya di kamar Ila, Agatha melamun, dia jadi sangat merindukan ibu dan ayahnya yang telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

“Gath, lu kenapa?”

“It’s okay La, gue cuma senang aja gabung bareng keluarga lo kayak tadi,”

“Lo boleh kok sering-sering kesini, menginap juga boleh,”

“Udah ayo La belajar, keburu sore”

“Siap belajar kita keliling rumah gue, ya, di belakang rumah gue ada taman bunga, lo kan suka taman,”

“Oke Ila”

Sementara di kamar Devano  memainkan gitarnya. Memainkan musik adalah hal yang sangat digemarinya. Dia mempunyai ruangan khusus alat musik di kamarnya

Drtttt…drttt…

Ponsel Devano berdering, dia segera mengangkatnya.

“Kapan manggung lagi bro, pengunjung gue  udah pada rindu suara lo,”

Yang menelepon adalah Daren temannya, si pemilik kafe tempat selebgram berkumpul.

“Panggil aja bro, gue siap-siap aja,” ucap Devano datar

“Entar malam bisa enggak bro?”

“Jam?”

“Jam 7 malam bro, biasanya udah ramai di jam itu,”

“Oke bro”

“Thanks before ma bro!”

“Oke bro”

Setelah selesai menelepon, Devano langsung mengabari Aldo dan Kevin. Kemudian Devano tertidur pulas.

***

“Paham gak La?”

“Paham Gath, duh kok jadi gampang dipahami, ya, kalau lo yang menjelaskan,”

“Sistem belajar tiap orang berbeda La, mungkin lo tipe belajar yang harus dijelaskan pelan-pelan, gak seperti di sekolah,”

“Iya Gath kesel gue,”

“Haha” Agatha terbahak melihat sahabatnya itu.

“Lo sampai kapan sendiri di rumah Gath, bahaya lo perempuan tinggal sendirian walaupun lingkungan rumah lo aman,”

“Bibi gue besok udah mulai di rumah gue kok, tinggal bareng anaknya yang masih balita, dia mau dagang di sini,”

“Hmm baguslah, ayo Gath keliling,”

“Ayo La,”

Sesampainya di taman, tedapat satu bunga yang menarik perhatian Agatha. Mawar putih, dia sangat menyukai bunga itu, karena orang tuanya suka memberikannya bunga itu kalau Agatha sedih.

“Wah, bagus banget,” ucap Agatha kagum

“Itu bunga kesukaan kak Devano, Gath, mawar putih,”

“Gue juga suka. Orang tua gue sering kasih mawar putih, ketika gue sedih,”

“Devano sih suka bunga itu karena warnanya,”

Tanpa sadar mereka telah melewatkan banyak waktu, sekarang matahari sudah mau tenggelam dan berganti tugas dengan bulan.

“Gath ayo udah jam berapa ini,”

“Duh, udah mau gelap La, gue pulang, deh,”

“Ayo gue antar,”

“Tante, Agatha balik, ya,”

“Kamu dijemput siapa cantik?” Tanya Mirna

“Agatha bareng supir aja Ma,” bales Ila

“Kamu bareng Devano aja, dia juga mau keluar, iya kan sayang?”

“Hm” gumam Devano dengan posisi tak berubah

“Nah, itu bareng aja ya,”

“Gak masalah kan Gath?” tanya Ila

“Agatha bareng siapa aja gak masalah kok tante, Agatha udah bersyukur bisa diantar ke rumah,”

“Bijak benar, ayo Deavano berangkat sekarang,”

“Hmm,”

“Duluan tante, duluan Ila,”

“Hati-hati Gath,”

“Siap,”

Agatha dan Devano menyalim Mirna dan meninggalkan rumah saat itu juga. Dan dari situlah persahabatan mereka dimulai.

Tamat…

Editor: Adelini Siagian

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles