
Penulis: Putri Oktavia
Sebuah negara dikatakan negara, apabila memiliki rakyat atau penduduk tetap, wilayah yang pasti, pemerintah yang berdaulat dan kemampuan mengadakan hubungan dengan negara lain. Di samping itu, baik rakyat maupun negara memiliki hak dan kewajiban yang sama-sama harus dipenuhi dan ditaati.
Menyikapi tren video TikTok tentang “Welcome to Indonesia” yang dinyanyikan dengan berbagai maksud dan tujuan. Seperti tentang vaksin, protokol kesehatan, prestasi, kekuatan orang dalam, politik, pandemi saat ini dan lain-lain. Namun yang menjadi perhatian, banyak konten yang isinya mengkritik negara kita, Indonesia. Dan itu dilakukan oleh warga negaranya sendiri.
Bukan bermaksud menyudutkan sebelah pihak dan berpihak. Coba pikirkan lagi, tentang sebuah negara yang di dalamnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Seperti manusia. Baik negara yang sudah berstatus maju dan yang masih berkembang pastinya masih sama-sama berbenah untuk negaranya agar nyaman dihuni dan rakyat sejahtera.
Sebagai contoh, Finlandia dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, India dengan produsen rempah-rempah terbesar dunia, Kanada dinobatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai negara yang memiliki udara terbersih ke-3 dan tingkat kebahagian tertinggi. Pantas saja pangeran Harry dan Meghan Markle pindah ke Kanada. Juga ada Singapura yang menjadi negara teraman di dunia dengan tingkat kriminalitas yang rendah.
Seperti halnya negara di atas yang punya kelebihan, negara kita Indonesia juga mempunyai kelebihan, yang sama-sama kita tahu. Kalau pesona alam Indonesia yang disebut pecahan surga, penduduknya yang ramah-ramah, makanannya pernah dinobatkan makanan terenak di dunia, memiliki suku dan budaya yang banyak, bahasa yang beragam juga kekayaan hayati dan biota yang masih sama-sama dijaga dan ada.
Mungkin kelebihan-kelebihan setiap negara di atas belum semuanya, tetapi kalau dikaji ulang setiap negara juga punya kekurangan masing-masing. Entah sumber daya alam, wilayah kurang luas, sumber daya manusia, apapun itu yang membuat beberapa negara menjalin kerjasama agar bisa menutupi hal itu. Kalau negara yang lain kekurangan bahan pokok, maka negara yang lain mengekspor. Atau sebuah negara kekurangan tenaga ahli, maka negara yang memiliki kelebihan tenaga ahli bisa mengirim.
Maka dari itu, jangan melihat sesuatu dari sisi kiri atau kanan saja. Lihatlah keduanya agar menjadi perbandingan dan penilaian yang lebih objektif dan tidak menyudutkan. Lihatlah Indonesia dari sisi baiknya juga. Hidup aman dan tenang di negara ini tanpa gangguan dari peperangan saja itu sudah anugrah. Kita sebagai warga negara mendapat hak perlindungan, sebaliknya kita harus menuntaskan kewajiban dengan negara.
Mengkritik sesuatu boleh-boleh saja. Alangkah baiknya setiap kritikan tersebut cobalah dibarengi dengan solusi-solusi ataupun saran yang membangun. Jangan tahunya menyudutkan saja. Kita sama-sama tinggal di negara ini. Makan dengan sayuran dan juga tumbuhan yang tumbuh di negara ini. Tidak ada negara yang sempurna. Semuanya masih menyelesaikan masalah-masalah yang ada di negara masing-masing.
Analoginya, jika memang ada negara yang sempurna mungkin manusia tidak akan mau mati. Untuk apa mati kalau di dunia saja, ada sebuah negara yang sempurna? Sama saja kita seperti tinggal di surga yang damai, tentram dan sejahtera tanpa kurang satu apa pun. “Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal,” (Q.S. Gafir : 39).
Tuhan sengaja menciptakan huru-hara di dunia ini, agar manusia tidak lupa dan selalu ingat kepada-Nya. Tingkatkan takwa, karena itu pembeda di setiap raga seseorang.
Biodata Penulis:
- Nama : Putri Oktavia
- Jurusan : Ilmu Komunikasi
- Fakultas : Ilmu Sosial
- Semester : IV
- Instagram : @viaputri869
Editor: Miftahul Zannah

