
Penulis: Siti Tridia Utamy
“Saya mengajak kita semua untuk membuka pelantangnya, untuk bersama-sama kita mengucap bismillah seperti yang dikatakan Pak Hasan Sazali tadi, agar kegiatan kita mendapat rida Allah Subhanahu wa ta’ala.” Pungkas Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UIN SU, Dr. H. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A. Dalam acara Pelepasan Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN-DR) mahasiswa UIN SU pada Sabtu, 10 Juli 2021 yang diselenggarakan melalui Zoom.
Di tahun 2021 ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) bekerja sama dengan fakultas di lingkungan UIN SU untuk melaksanakan sistem KKN-DR yang mengikuti pola pembatasan sosial. Mahasiswa akan dikelompokkan berdasarkan daerah masing-masing untuk menekan aktivitas pergerakan ke luar daerah serta memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Dalam pelaksanaannya, UIN SU memang berhasil membagi setiap mahasiswanya menjadi beberapa kelompok dalam satu daerah dengan jumlah anggota di tiap masing-masing kelompok berkisar 25 s.d. 30 mahasiswa. Namun, pada penerapannya dengan jumlah manusia yang banyak dalam satu kelompok, apakah tujuan KKN-DR yang digadang-gadang bisa memutus rantai penyebaran Covid-19 bisa sukses, ataukah justru akan menimbulkan masalah baru?
Di sini timbul sebuah kegamangan. Kita memberi penyuluhan kepada masyarakat bahwa mereka harus menerapkan protokol kesehatan salah satunya adalah dengan menjaga jarak, tetapi mengapa pada praktiknya kita justru datang ke tempat mereka secara beramai-ramai? Jadi, di manakah letak pembatasan sosial itu sendiri?
Baiklah, andai kata hanya perwakilan kelompok itu saja yang datang, lalu bagaimana dengan sisanya? Apa mereka hanya berpangku tangan menunggu di rumah tanpa turut serta merasakan letih dan borosnya pengeluaran dalam mengurus program kerja kelompok KKN yang sudah dicanangkan? Kalaupun iya, tentu akan menimbulkan rasa tidak adil bagi anggota yang paling banyak bekerja dibandingkan yang hanya diam di rumah ketika melihat hasil nilai yang keluar nanti sama rata. Padahal, tidak semua anggota turut andil.
Permasalahan lain datang menjelang musim Ujian Akhir Semester (UAS) genap dari 19 Juli s.d. 27 Juli. Dari awal memang sudah diketahui bahwa jadwal KKN 2021 sungguh menguji kesabaran dan melatih mental. Bayangkan saja, di minggu pertama KKN mahasiswa semester VI harus bisa pandai-pandai membagi waktu antara kegiatan KKN dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk setiap harinya. Belum lagi bagi mahasiswa yang bekerja di luar untuk membiayai UKT yang tidak sedikit setiap semesternya.
Saya mempunyai seorang teman yang kuliah sambil bekerja di Pancing. “Kalau aku enggak kerja, siapa yang mau bayar uang kuliahku nanti? Aku kerja juga untuk keperluan KKN, karena KKN juga butuh biaya banyak,” tuturnya.
Jujur salut melihatnya yang rela dipotong gaji dengan mengambil cuti setiap akhir pekan demi bisa hadir di KKN yang jaraknya 5 jam dengan mengendarai bus. Bisa dibilang itu adalah wujud kontribusinya untuk teman-teman yang satu kelompok KKN dengannya.
Beda cerita bagi mahasiswa yang hidupnya berkecukupan dan tidak mempunyai kesibukan, selain mengerjakan tugas kuliah tepat waktu dan setelahnya bisa nyaman mengikuti kegiatan KKN tanpa rasa galau di hati. Mungkin juga bagi mahasiswa yang seperti ini tidak begitu memusingkan perihal jadwal KKN yang bentrok dengan kewajiban lainnya.
Di balik adanya diskrepansi jumlah kuota dalam satu kelompok KKN yang tidak relevan bagi tujuan KKN yang “katanya” bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19, ditambah jadwal pelaksanaan KKN yang terkesan grasah-grusuh, kita sama-sama berharap semoga tidak timbul masalah baru sampai kegiatan ini selesai. Dan semoga teman-teman seangkatan diberikan kelancaran rezeki serta kesehatan fisik dan mental, agar tidak tumbang sampai akhir, amin.
Biodata Penulis:
- Nama : Siti Tridia Utamy
- Jurusan/Fakultas : Pendidikan Agama Islam/FITK
- Semester : VI (Enam)
- IG : @mimistu.chan
Editor: Miftahul Zannah

