Empath /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Syifa Zanjabila)

Penulis: Anggia Nurulita

Dingin…

Sangat dingin…

Di tengah trotoar yang berada tepat di samping jalan, aku hanya bisa terduduk merasakan hembusan angin yang cukup kencang serta beberapa tetesan air yang mulai turun. Aku pun berjalan perlahan menuju dinding yang berada di ujung trotoar ini. Aku bersandar di dinding yang terbentang sangat panjang hingga ujung jalan yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata. 

Perlahan aku terduduk dan berpikir. Sebenarnya apa yang sedang kulakukan dan mengapa aku ada di sini. Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Pikiranku hanya terfokus pada dua hal utama, yaitu harus bertemu wanita yang sangat penting bagiku dan pulang ke rumah. Aku pun berusaha berdiri dan berjalan ke arah kanan, melewati tiang lampu yang cukup tinggi. Sekitar beberapa menit aku berjalan dan menyadari sesuatu hal yang cukup aneh. Aku melewati tiang lampu yang sama beberapa kali.

“Apakah aku linglung?,” pikirku.

Aku yakin telah melewati tiang lampu ini, walaupun mungkin masih banyak sekali tiang lampu yang sama, tapi aku sangat yakin telah melewati jalan yang sama. Lagi pula masih banyak orang yang berlalu lalang di sini, tidak mungkin aku kembali ke jalan yang semula. Aku sangat bingung dan berdiri kaku di tengah trotoar ini, beberapa kali bahuku bersentuhan dengan bahu orang lain yang berusaha berjalan. Sekitar 10 menit aku berdiri dan tiba-tiba terdapat seorang pengamen yang datang. 

Pengamen tersebut memakai baju hitam dan celana jeans serta membawa sebuah gitar. la duduk sekitar beberapa meter dari tiang lampu dan mulai memainkan beberapa lagu. Dengan datangnya pengamen tersebut aku memutuskan untuk mencoba berjalan untuk terakhir kali melalui jalan yang sama. Aku yakin bahwa arah rumahku melalui jalan yang berusaha aku lalui tadi. Aku pun menghela nafas panjang dan perlahan berjalan menuju arah yang sama. Beberapa langkah aku melewati tiang lampu dan beberapa langkah kemudian lagi aku melihat seorang pengamen.

Pengamen sama yang aku lihat tadi serta beberapa meter darinya aku dapat melihat tiang lampu berwarna hitam. Aku sangat kaget dan bingung. Apa yang sedang terjadi? Mengapa aku tidak bisa melewati jalan tersebut, padahal aku hanya ingin pulang. Saking bingungnya, perlahan aku pun berjalan menuju tiang lampu. Bersandar dan perlahan badanku mulai turun, hingga terduduk. Aku termenung, kebingungan, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Apakah ini semua hanya mimpi?” pikirku.

Mungkin saja, karena apabila ini mimpi pasti apa pun dapat terjadi. Namun, ini terasa sangat nyata. Suasana yang cukup dingin serta hujan yang turun terasa sangat jelas hingga menusuk ke dalam jaket hitam tebal yang aku gunakan sekarang. Suara langkah kaki dari orang-orang yang lewat serta musik yang berasal dari gitar yang dimainkan oleh pengamen tersebut terdengar sangat jelas. Ini pasti bukan mimpi, aku dapat merasakan semuanya dengan jelas. Di tengah suasana yang dingin dan cukup ramai ini, aku kebingungan.

Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari tempat ini? Tidak ada yang dapat dijadikan sebuah petunjuk. Aku tidak ingat apa-apa, aku tidak tahu apa yang baru saja dilakukan, tempat ini di mana dan apa yang baru saja terjadi. Aku sangat bingung, namun tetap harus ke luar dari tempat ini. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan aku lupa ingatan dan mengapa aku harus pulang dan bertemu seorang wanita. 

Terlebih aku tidak tahu siapa wanita itu, namun dengan bertemunya pasti akan menjelaskan semua hal ini. Untuk bertemu dengannya, pastinya aku harus mengetahui tempat ini di mana dan bagaimana untuk bisa keluar dari tempat ini. Cukup banyak orang yang berlalu lalang, pasti mereka tahu nama tempat ini. Aku pun memutuskan untuk bertanya ke orang-orang yang sedang berjalan melalui trotoar ini. Dengan sekuat tenaga aku berdiri, membersihkan debu dan beberapa bekas lumpur yang menempel di jaket ini dan memberanikan diri untuk berjalan ke area tengah trotoar. 

Cukup banyak orang yang melewati daerah ini, mulai dari pria ataupun wanita muda, remaja, dan rombongan keluarga. Pertama-tama aku bertanya kepada seorang wanita yang memakai baju panjang berwarna cokelat serta topi berwarna hitam.

“Permisi,” aku berucap dengan suara yang lirih.

“Iya?”

“Mohon maaf mengganggu waktunya, apakah kamu tahu ini di mana?”

“Maksudnya ini di mana?”

“Saya tidak ingat apa-apa, tiba-tiba terbangun, tidak tahu ini di mana”

“Oh, ini di dekat persimpangan jalan X. Disebut jalan X karena persimpangannya membentuk huruf X.”

“Oh, mungkin kamu tahu rumah saya di mana?”

“Boleh tahu alamat lengkapnya?”

“Masalahnya saya tidak tahu alamatnya.”

“Waduh, permisi, kalau tidak ada alamatnya saya tidak bisa bantu apa-apa. Mohon maaf sekali.”

“Iya, tidak apa-apa.”

“Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?”

“Tidak ada, terima kasih banyak.”

“Baik, kalau begitu saya permisi.”

Wanita tersebut pun membungkukkan badannya dan aku membalasnya dengan anggukan. Beberapa saat kemudian wanita tersebut pergi. Jalan X. Entah kenapa aku sangat familier dengan jalan ini, walaupun aku tidak ingat apa-apa. BRUK. Tiba-tiba terdengar suara barang terjatuh yang sangat keras dari arah belakang. Spontan aku membalikkan badan dan terlihat pengamen yang dari tadi duduk kini sedang terbaring di lantai.

Di sampingnya terdapat seorang wanita tua yang memakai mantel berwarna hitam yang menggandeng seorang anak kecil sedang memarahi pengamen tersebut. Dari jauh terlihat wanita tersebut mengomel dengan sangat kencang. Setelah beberapa saat dia pun pergi bersama anaknya. Entahlah, namun aku merasa tidak nyaman dengan pemandangan tersebut. Mungkinkah aku mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, karena aku berprinsip bahwa setiap orang tidak berhak dimarahi. Entahlah, mungkin aku hanya terlalu baik.

Aku pun mengambil beberapa langkah untuk menghampiri pengamen tersebut dan berkata, “Permisi, bapak tidak apa-apa?”

Lelaki yang cukup tua tersebut pun memalingkan mukanya ke arahku. Dia memakai celana jeans serta jaket hitam yang cukup tebal dan topi berwarna biru.

“Oh, hai, Nak. Saya tidak apa-apa.”

Aku membantunya mengambil gitar cokelat yang tadi terjatuh.

“Ini, Pak, gitarnya.”

“Oh, iya, terima kasih, Nak.”

Dia pun mengambil gitar tersebut dan meletakkannya di sisi sampingnya dan duduk kembali di atas kursi kecil yang dibawanya.

Aku pun ikut duduk di sebelahnya, tepat di atas trotoar yang sangat dingin dan tertutupi beberapa butir salju.

“Nama kamu siapa, Nak?”

“Reza, Pak.”

“Ohohoho, nama yang bagus.”

“Ibu tadi? Memang ada apa, Pak?”

“Entahlah, saya juga tidak tahu detailnya. Dia adalah seseorang yang disebut sebagai ‘orang pintar’ di daerah ini. Ibu tadi mengusir saya karena tidak suka dengan keberadaan saya.”

“Oh, ya, Nak. Saya akan memainkan beberapa lagu, apakah boleh?”

“lya, Pak. Silakan. Saya tidak akan terganggu.”

“Baik, terima kasih banyak, Nak.”

la pun mulai mengambil posisi di kursi kecilnya. Dengan satu tangan memegang gitar yang ditopang oleh kedua kakinya. serta satu tangannya lagi yang memegang alat kecil seperti sebuah koin, ia mulai memainkan sebuah lagu dengan memetik salah satu senar gitarnya. Mulai terdengar melodi yang sangat lembut dan indah muncul dari permainannya. Lagu yang dimainkannya sangat indah, nadanya sangat lembut. Walaupun tidak terdengar satu lirik pun, tetap terasa sangat lembut dan hangat.

Sekitar beberapa menit ia memainkan lagu tersebut, aku pun tiba-tiba meneteskan air mata. Aku dapat merasakan air mata ini mengalir melalui wajah menuju dagu sampai akhirnya terjatuh, menetes menyentuh trotoar. Tiba-tiba Bapak tersebut pun memberhentikan permainannya setelah melihat aku menangis.

Dengan muka yang kebingungan dia berkata. “Nak, kamu tidak apa-apa?”

Aku pun segera menyeka air mata ini dengan menggunakan tangan dan berkata. “Enggak apa-apa, Pak. Saya enggak tahu kenapa tiba-tiba menangis. Musik yang dimainkan oleh Bapak entah kenapa sangat menyentuh hati.”

Bersambung…

Editor: Adelini Siagian

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles