
Penulis: Ayu Wardani
Kematian adalah misteri yang tidak pernah terpecahkan oleh manusia, karena satu hal yang sudah pasti. Sepintar dan sehebat apa pun seseorang, bahkan seberapa banyak kekuasaan yang dimiliki, tidak ada yang akan mengetahui kapan ajal menjemput.
Kehidupan yang dijalani manusia di dunia ini bersifat sementara, tetapi banyak manusia tidak memanfaatkan kehidupannya di dunia yang sementara ini. Manusia cenderung mengetahui perbuatan salah, tetapi mereka tetap melakukan hal tersebut, karena mereka mengetahui apa pun yang mereka perbuat pasti akan mendapat ampunan. Sifat ini yang membuat manusia lupa bahwa kelak saat kematian datang menjemput, maka seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia akan dipertanggungjawabkan di kehidupan lainnya.
Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 185 yang artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan, sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Dari ayat tersebut dapat dibuktikan sudah banyak manusia yang terlalu nyaman dengan kehidupan yang dijalaninya di dunia ini. Mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu, sementara mereka tak pernah khawatir akan apa yang mereka hadapi kelak. Tidak peduli dengan ketentuan yang telah dibuat dalam ajaran Islam, mereka tidak sadar bahwa hal tersebut adalah bencana untuk kehidupannya kelak.
Banyak dari kita tidak mengetahui apa tujuan tinggal di dunia ini. Manusia cenderung lupa bahwasanya kehidupan di dunia ini hanya sementara. Pada dasarnya, Allah Subhanallahu wa ta’ala telah menetapkan tujuan manusia diciptakan di dunia ini dalam QS. Al-Baqarah: 30 yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malikat. ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi’.”
Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, karena manusia dapat membedakan baik dan buruk. Manusia juga diberikan pemikiran dalam menghadapi suatu masalah serta kecerdasan agar dapat menjaga dan merawat bumi ini dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Rasulullah Sallaallahu alaihi wassalam bersabda: “Mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.” (HR. Ibnu Majah).
Mengingat kematian bukan hanya sekadar mempersiapkan saja, namun untuk menghadapi kematian. Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 34 yang artinya: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”
Dari ayat tersebut, kita mengetahui apa alasan kita untuk tidak beramal dan alasan kita untuk menjauh dari Allah bahwa kita akan mati tanpa mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana cara kita mati. Janganlah kita menjadi makhluk yang penuh penyesalan atas apa yang kita perbuat di muka bumi ini.
Sebelum kematian datang, ada beberapa hal yang harus kita persiapkan sebagai pedoman untuk kehidupan akhir kelak, yaitu bertobat kepada Allah Subhanallahu wa taala atas apa yang kita berbuat, menjalankan salat lima waktu karena hal terbebut merupakan kewajiban muslim, mengerjakan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya serta mengerjakan amalan-amalan saleh lainnya.
Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Syekh Hijazi Al-Fusyini dalam Buku Al Majallis As-Saniyyah mengatakan bahwa ada seorang pria yang mencoba melarikan diri dari kematian. Suatu hari, Malaikat Izrail mendatangi Nabi Sulaiman ‘alahi sallam. Tiba-tiba, Izrail menajamkan pandangannya kepada seorang laki-laki yang duduk bersama beberapa tamu Nabi Sulaiman ‘alihi sallam. Namun, dia segera meninggalkan tempat tersebut.
Pria tersebut bertanya: “Siapa dia, Nabi Allah?” tanyanya. “Dia adalah malaikat maut,” jawab Nabi. Pria itu berkata lagi: “Nabi Allah, aku melihatnya menatapku sepanjang waktu. Aku sangat takut. Jangan biarkan dia mengambil nyawaku. Selamatkan aku dari gengamannya. Tolonglah aku,” katanya. “Bagaimana aku bisa menyelamatkanmu?” tanya Nabi. “Kau menyuruh angin untuk membawaku ke tanah Hindia. Mungkin saat itu dia melupakanku dan dia tidak dapat menemukanku,” jawab pria itu.
Kemudian, Nabi Sulaiman alaihi sallam memerintahkan angin untuk membawanya ke ujung Hindia dalam sekejap. Sesampai laki-laki tersebut di sana, malaikat maut mencabut nyawa laki-laki tersebut. Setelah itu, malaikat maut kembali menemui Nabi Sulaiman alaihi sallam. Kemudian, Nabi bertanya: “Mengapa kamu melihat laki-laki tersebut dengan tajam?”. Malaikat maut menjawab: “Aku diperintahkan untuk mencabut nyama laki-laki tersebut di Hindia. Namun, keberadaannya jauh dari negeri itu. Hingga angin tiba-tiba datang membawanya ke negeri itu. Kemudian, aku mencabut nyawanya di negeri itu sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanallahu wa taala”.
Allah selalu mengingatkan bahwa kematian adalah hal yang nyata dan kita tidak dapat menghindarinya dengan berbagai upaya dan alasan. Di mana pun keberadaan kita, Allah Subhanallahu wa ta’ala telah mengutus Malaikat Izrail untuk mencabut nyawa kita.
Sebelum meninggal, Imam Syafi’i memberikan nasihat akan kematian “Bertakwalah kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala dan selalu pikirkan akhirat di hatimu. Selalu bawa kematian di matamu dan ingat kehidupanmu kelak di hadapan Allah. Tetap bersama Allah dan jauhi larangan-Nya. Tunaikan kewajiban-Nya dan ikuti jalan kebenaran di mana pun berada. Jangan remehkan nikmat yang diberikan Allah padamu walaupun sedikit.
Jadikan diammu sebagai tafakur, lisanmu sebagai zikir, dan pandanganmu sebagai upaya mengambil pelajaran. Maafkan mereka yang telah memperlakukanmu dengan buruk. Jalin silaturahmi dengan orang yang memutuskannya, bersikap baik pada orang yang yang bersikap buruk padamu, bersabar atas musibah, dan mintalah ampunan kepada Allah dari neraka dengan takwa.
Biodata Penulis :
- Nama : Ayu Wardani
- Jurusan : Ilmu Komunikasi
- Fakultas : Ilmu Sosial
- Semester : VI (Enam)
- Instagram : ayuwardanii_

