Beranjak Dewasa /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Rodiatul Adawiyah harahap)

Penulis: Putri Khairunisa Nabilah

Sudah 20 tahun aku hidup di dunia. Aku Putri, si anak manja yang selalu mendapatkan apa yang kumau. Tak perlu mengemis ataupun memohon, kedua orangtuaku akan menuruti apa yang kuminta, karena aku anak satu-satunya yang mereka punya. Aku merasa tak butuh adik, kakak, atau pun abang. Aku cukup tak peduli dengan sekitar.

Tak terasa sudah mau memasuki semester lima di perkuliahan. Aku merasa penat dengan keseharianku yang hanya itu-itu saja. Rutinitasku tak jauh-jauh dari tugas, makalah, jurnal, presentasi, bermain gawai, nonton film, membaca komik, dan mungkin sesekali bercengkerama dengan teman.

Aku seorang yang introvert. Aku tak pandai bergaul dan tak pandai menarik perhatian seperti yang lainnya. Temanku sehari-hari adalah gawai, komik, earphone, dan ransel cokelat yang selalu kubawa.

Setiap malam aku merenungi nasib kesepianku ini. Aku mulai memikirkan apa yang salah pada diriku. Aku juga tak jarang rindu dengan masa sekolahku. Aku cukup menikmati kanak-kanakku, di mana aku dapat bermain dan mempunyai banyak teman. Namun, saat usiaku menginjak 17 tahun, aku menjadi sedikit asing dengan lingkungan sekitar. Entah apa yang membuatku menjadi seperti itu.

Suatu saat, ketika dosen menyuruh kami untuk membentuk suatu kelompok belajar, aku merasa bingung harus satu kelompok dengan siapa. Teman-temanku sibuk mencari teman sekelompok, sedangkan aku hanya diam terpaku. Aku takut tak ada yang mau satu kelompok denganku. Akhirnya, sisalah satu kelompok yang memerlukan satu anggota lagi.

“Put, udah punya kelompok belum?” tanya Rina, si baik hati yang cukup ramah padaku.

“Eh, belum, Rin. Kelompok kamu udah lengkap belum anggotanya?”

“Belum, Put. Sini, Put, gabung sama kami. Biar lebih akrab hehe,” ajak Rina ramah

Rina adalah satu satunya temanku yang sering menyapa dan mengajakku ngobrol. Aku tak tahu apa yang membuat Rina begitu ramah padaku. Apakah ia emang tipikal yang ramah atau hanya kasihan padaku yang tak punya teman.

***

Hari demi hari kulewati. Aku mulai berpikir “Akan kubawa ke mana masa depanku ini”. Usiaku sudah bukan usia untuk bermain dan bersenang-senang lagi, apalagi aku anak satu-satunya di keluargaku. Tak jarang ibuku bertanya tentang cita-citaku.

“Nak, kamu udah semester lima, udah kepikiran belum mau lanjut ke mana?”

“Lanjut ke mana apanya, Bu?”

“ Maksud Ibu, kamu mau kerja apa nanti? Atau kamu mau lanjut kuliah?”

Aku bingung kenapa ibu tiba-tiba bertanya seperti itu padaku. Apakah ibu tahu bahwa aku tak memiliki cukup banyak teman? Aku merasa sedih. Aku merasa terbebani dengan pertanyaan ibu. Aku merasa terbebani, karena aku belum dapat menjawab pertanyaan ibu. Tak jauh berbeda dengan ayah. Ayah juga pernah bertanya pertanyaan serupa saat aku masih semester satu.

“Kamu ada niatan lanjut S2, Nak? Atau setelah tamat kamu mau cari kerja aja? Ayah cuma bisa berharap dan berdoa yang terbaik untuk kamu dan masa depanmu,” tanya ayah.

Pernah terbesit di dalam benakku, kenapa aku menjadi anak tunggal yang harus memenuhi semua harapan-harapan orang tuaku. Padahal di sisi lain, aku tak mau memiliki saudara. Dengan begitu, aku harus berpikir keras untuk bisa menjadi seperti yang orang tuaku mau.

Bersambung…

Editor: Yaumi Sa’idah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles