Tidak Melulu Demi Konten

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet www.freepik.com)

Penulis: Maulidya Asrianti

Lagi dan lagi, rasanya sudah bosan mengeluarkan kalimat “demi konten” untuk menanggapi hal-hal aneh yang tersebar di media sosial saat ini. Hal-hal yang rasanya tidak dapat diterima oleh nalar, namun nyata adanya. ‘Kebelet viral’ begitulah kira-kira.

Memiliki banyak ide itu bagus, tandanya kita adalah orang yang kreatif. Akan tetapi, apakah semua ide harus direalisasikan? Terlebih hal-hal gila yang rasanya tidak baik untuk dilakukan, namun tetap saja dilakukan. Bahkan, didokumentasikan dan diunggah ke media sosial. “Kenapa mereka melakukan hal semacam ini?” Seperti itulah kira-kira yang terlintas di benak.

Seperti yang baru-baru ini terjadi dan viral, video seorang pemuda yang ditarik orang utan. Video ini ramai dibincangkan warganet di berbagai platform. Di dalam video tersebut terlihat seorang pemuda berusaha menyapa dan melakukan interaksi dengan orang utan, tetapi bajunya ditarik lalu kakinya ditahan oleh orang utan tersebut. Temannya pun berusaha membantunya agar terlepas dari orang utan itu. 

Berbagai komentar pun bermunculan. Banyak yang menganggap video tersebut lucu dan menjadikannya hiburan. Kalau kita lihat dari sisi lain, bukankah itu miris? Pasalnya video tersebut ternyata hanya ‘demi konten’.

Seperti yang dilansir dari detiksumut.com, pria yang diketahui bernama Hasanal tersebut ternyata melakukan tindakan yang dilanggar, ia melewati pembatas jarak di mana kandang orang utan tersebut berada. Perbuatan ini dilakukan Hasanal dengan tujuan demi membuat konten. Miris, bukan?

Dikutip dari laman detik.com pada Rabu, 6 Juni 2022 kemarin, Pengelola Kebun Binatang Kasang Kulim, Desrizal, mengatakan bahwa pemuda itu membuat konten tersebut tanpa izin dari petugas. Padahal, kebun binatang tersebut khususnya kandang orang utan, sudah memenuhi syarat dengan adanya jarak pemisah antara kandang dengan pengunjung, bahkan terdapat papan peringatan. Namun, tetap saja hal aneh semacam itu terjadi. 

Setelah aksinya viral, ia pun membuat video permintaan maaf. Mau sampai kapan hal seperti ini terjadi? Melakukan hal aneh, viral, dikecam, lalu meminta maaf. Hal itu hanya dilakukan demi konten. Tidakkah seharusnya sedari awal kita berpikir, apakah tindakan ini pantas atau tidak untuk dilakukan?

Memang, menjadi viral juga ada manfaatnya. Kita dikenal banyak orang, dan mungkin bisa mendapatkan penghasilan dari itu. Tapi, kembali lagi, cara seperti apa yang kita pilih dan lakukan untuk menjadi viral. Nyatanya, tidak semua orang dapat berpikir untuk melakukannya dengan cara yang baik dan benar. Kasus di atas misalnya. 

Jangan sampai hal seperti ini terus terjadi, yang berakhir lumrah. Jadilah orang kreatif yang tahu dan bisa menempatkan sesuatu, yang bisa mengendalikan emosinya untuk selalu melakukan hal-hal baik. Mulailah peduli dengan keselamatan diri sendiri. 

Jika ingin menjadi seorang kreator konten, pikirkanlah risiko yang akan diakibatkan dari konten yang kita buat. Jangan sampai konten tersebut mencelakakan diri sendiri bahkan menyesatkan orang lain. Teruslah menebar konten yang berisi edukasi, karena hal tersebut sangat diperlukan di masa sekarang ini. 

Sebenarnya, tidak masalah dengan konten menghibur, tetapi pikir lagi. Baik atau tidak? Pantas atau tidak? Tidak melulu semua hal dilakukan demi konten. Bijaklah dalam menggunakan media sosial. 

Editor : Siti Asyaroh

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles