Takdir-Nya /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Illustrator: Muhammad Hanif Muzhaffar)

Penulis: Annisa

Senja hari menyapa, kala itu tampak seorang gadis terengah-engah mengayuh sepedanya. Tepat diboncengannya bukan didapati seorang yang terduduk melainkan sebuah keranjang yang terikat dan berisi hanya beberapa buah roti saja, karena terburu-burunya ia terjatuh menabrak batu yang berada dijalan, seluruh isi beserta keranjangnya berserakan dan tertimpa sepeda. “Astaghfirullah, ya, Allah rotiku hancur”, ucapnya seraya mengutip sisa-sisa roti yang masih bisa diselamatkan.

Ia pun segera bangkit membetulkan barang bawaannya dan kembali melaju kencang, tak peduli rasa sakit kaki dan tangannya yang dipenuhi goresan luka akibat bergesekan dengan tanah atas kejadian tadi. Sesampainya ia ke tempat tujuannya, yaitu sebuah gubuk yang tampak tak layak untuk dijadikan hunian, gubuk itu hanya sepetak ruangan yang dipenuhi triplek dan tambalan kardus juga seng usang yang menjadi atapnya.

Diletakkannya sepeda beserta bawaannya, dan segera mengetuk pintu dengan material triplek itu, “As-salamualaikum, dek ini kakak buka pintunya”, karena tak ada sahutan dari dalam, ia mencari kunci cadangan ke dalam tasnya yang sedari tadi terkalung di bahunya. Ceklek…, didapatinya seorang gadis kecil tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Raut wajahnya berubah menjadi sangat cemas, “Dik…, Ya, Allah bangun kamu kenapa?” tangisnya tumpah.

Segera ia membopong adiknya dan mendudukkannya di tempat keranjang roti tadi yang telah ia bereskan, diambilnya sehelai kain jarik dan mengikat antara ia dan gadis kecil itu dengan harap agar tak terjatuh ketika ia mengayuh sepeda dengan kencang.

“Ya Allah kumohon jangan Kau ambil satu-satunya teman dihidupku, kumohon semoga adikku baik-baik saja,” terus ia ulangi doa tersebut dengan derai air mata yang tak bisa dibendungnya lagi.

“Maaf kan kakak, Dik, maafkan kakak yang terlalu lama meninggalkan mu di rumah sendirian, Dik bangun ya kamu harus kuat, kakak gak mau kehilangan kamu,” kutuk dirinya terus-menerus.

Akhirnya, ia sampai di sebuah klinik, di parkirkannya sepeda dan segera membopong adiknya ke dalam tempat tersebut sembari memanggil petugas yang ada di sana.

“Pak, Buk, tolong adik saya,” ucapnya dengan sesenggukan. Petugas di sana pun menolong nya dan membawa gadis kecil itu ke sebuah ruangan. Ia hanya menunggu diluar sambil terus berdoa dan menangis, akhirnya seorang dokter keluar dari pintu ruangan tempat adiknya berada. Spontan ia beranjak dan menanyakan keadaan adik satu-satunya itu, “Bagaimana keadaan adik saya, Dok?”, Suaranya tampak berat akibat tangisnya.

“Kamu kakaknya?” tanya dokter padanya. Diikuti anggukan kepala yang menyatakan bahwa benar itu adiknya.

“Syukur kamu membawanya dengan cepat, dia mengalami malnutrisi akibat pola makannya yang buruk. Jangan khawatir sebentar lagi adikmu akan sadar, silakan masuk,” jelas Dokter padanya.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok,” ucapnya dengan keadaan yang lebih tenang dari sebelumnya.

“Untuk obat-obatan adikmu, bisa diambil di bagian administrasi dan pesan saya jaga pola makan adikmu ya, apalagi dia masih kecil butuh banyak asupan gizi dari makanan atau tidak itu akan berbahaya bagi nyawanya,” pesan Dokter padanya dan dibalasnya kembali dengan anggukan dan terus mengucapkan terima kasih.

“Dik?”, ucapnya di samping gadis kecil yang belum genap 6 tahun itu, terbaring lemah dan matanya mulai terbuka, “Alhamdulillah, syukurlah kamu sudah sadar,” tangisnya menjadi dan memeluk erat adiknya tersebut.

“Kak, di mana kita kak?” ucap gadis kecil itu kepada kakaknya.

“Kita lagi di klinik, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang adik rasakan?” tanyanya kepada adiknya itu.

“Nia lemas kak, terakhir kali Nia ingat Nia sedang jalan mau ambil minum, karena haus dan lapar,” jawab adiknya.

“Maafin kakak ya Dik, terlalu lama kakak pulang,” tangisnya pecah, karena rasa bersalahnya.

“Udah kak, Nia enggak apa kok, kakak jangan nangis,” adiknya berusaha menenangkan kakak itu.

“Kak, Nia mau pulang,” pinta adiknya.

“Jangan Nia, kamu istirahat disini dulu ya, kita pulang kalau kamu sudah sembuh”.

“Tetapi kak, pasti mahal jika Nia terus di sini, ayo kak kita pulang saja,”

“Urusan biaya biarkan saja kakak yang pikirin, Nia istirahat dulu di sini,”

“Nia udah sembuh kak, lihat ini”. Nia berusaha untuk bangkit dari kasur tersebut.

“Nia, istirahat dulu, ya. Iya, kita pulang tetapi sebentar lagi ya kakak ambil obat Nia dulu,” ucap kakaknya disambut dengan anggukan Nia.

Inilah kehidupan Dinda gadis berumur 16 tahun yang hanya tinggal berdua dengan adiknya Nia, gadis imut berumur hampir 6 tahun. Dinda sejak umur 12 tahun hidup berdua dengan adiknya. Sebelumnya, ia hidup dengan ibunya yang sakit-sakitan, sejak kecil ia terlatih dan kuat untuk menjadi tulang punggung keluarga, sampai akhirnya pada ulang tahun ke-13nya, ibunya meninggal.

Tinggal Dinda dan adiknya saja di rumah, sering kali ia menahan lapar dan sakit untuk terus berusaha berdagang roti keliling sebagai usaha melanjutkan hidup nya dan hidup adiknya. Tak pernah sedikit pun terdengar ia mengeluh, mengutuk takdir dari Tuhan yang begitu amat menyedihkan. Dinda percaya bahwa Takdir-Nya adalah takdir terbaik.

Biasanya Dinda berdagang dengan adiknya Nia namun seminggu ini Nia sakit dan tak mampu untuk dibawa kemana-mana. Naluri Dinda ingin tetap tinggal merawat adiknya namun takdir berkata lain, jika ia tak berdagang bagaimana mereka bisa makan, bagaimana dengan obat-obatan Nia.

Terpaksa Dinda tetap mengayuh sepeda berdagang roti ke desa satu ke desa lainnya. Makan sekali sehari saja sudah menjadi nikmat terbesar bagi nya. Dia terus mengalah, asalkan adiknya bisa sehat, bisa tercukupi gizinya, itu sudah menjadi obat dari kelaparannya.

“Ya Allah, maaf kan Dinda telah meninggalkan Nia tanpa ingat makan siangnya”. Bulir air terjatuh dari pelupuk matanya. Bukan kesalahan dia sepenuh itu semua karena setoran kemarin direbut oleh anak-anak jalanan yang nakal. Syukur ada dua roti yang tersisa sebagai sarapan untuk ia dan adiknya.

“Nia, esok kakak pulang siang, Nia makannya nunggu kakak pulang enggak apa, kan?” ucapnya kepada Nia pagi hari tadi.

“Iya kak, enggak apa, Nia masih kenyang kok, semoga dagangan kita habis ya, kak,” ucap Nia dengan senyuman manisnya.

Namun ternyata Dinda salah, ia dijegat kembali oleh anak-anak nakal itu, kali ini Dinda melawan dan berhasil membawa uang dan dagangannya dengan aman. Namun perseteruan itu menghabiskan waktu Dinda sehingga terlewat akan janjinya ke Nia. Dinda benar-benar menyesal akibat kesalahannya. Adiknya hampir tidak baik-baik saja atau bahkan bisa kehilangan adik satu-satunya itu.

Dinda terus melangkah meninggalkan ruangan Nia, menuju tempat administrasi untuk menebus biaya pemeriksaan serta biaya obat Nia.

“Dinda harus semangat, ingat kata Bunda ‘Percaya bahwa sepahit apapun Takdir-Nya itu merupakan anugerah terbaik, percaya bahwa Takdir-Nya tidak akan menyusahkan hamba-Nya, karena nanti akhirnya hamba yang terus bersabar dan ikhlas akan merasakan kebahagiaan yang tiada hentinya’, semoga Nia baik-baik saja ya Allah,” gumam Dinda.

Itulah nasihat yang selalu Dinda ingat dari ibunya, membuat Dinda menjadi seorang gadis yang senantiasa tegar menjalani hidup.

Bersambung…

Editor : Yaumi Saidah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles