
Penulis: Syahda Khairunnisa
Dengan langkah yang lebar disertai butiran kristal yang keluar dari pelipis mata, seorang bocah laki-laki berlari di bawah teriknya sinar baskara. Satu alas kakinya putus sehingga ia hanya bisa memakai sebelah, dengan napas tergopoh-gopoh dan membawa kotak yang terbuat dari kayu dan talinya dikalungkan ke leher. Kotak tersebut berisi tisu, air mineral, dan satu botol plastik yang sudah di desain untuk mengamen.
Dikejar-kejar Satpol PP sudah menjadi kegiatannya setiap hari. Anak-anak sebayanya yang bekerja di bawah kolong jembatan atau pinggir jalan pasti akan digusur oleh orang-orang berpakaian cokelat itu. Para pengemis juga melakukan hal yang sama, mereka harus berlari atau malah tertangkap dan dibawa.
Bagaimana mau menegakkan suatu hukum dan keadilan, ketika cara yang digunakan justru melawan hukum? Apa pun alasannya, para pedagang kaki lima ini tidak dapat disalahkan secara mutlak. Harus diakui bahwa memang benar mereka melakukan suatu perbuatan pelanggaran terhadap ketentuan yang ada di dalam Perda.
Akan tetapi, pemerintah juga telah melakukan suatu perbuatan yang tidak manusiawi, bisa dibilang itu melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Ketika ia melakukan perusakan atas hak milik barang dagangan, seharusnya pemerintah harus mengganti kerugian atas barang yang sudah dirusak. Sampai sekarang pemerintah belum pernah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa ketika para pedagang ini digusur, mereka harus berjualan di tempat seperti apa.
Kaki bocah berusia sepuluh tahun itu terluka tergesek aspal, ia berjalan dengan penuh penderitaan. Menapaki jalan sempit untuk menuju sebuah rumah. Sepertinya tidak pantas dikatakan rumah, itu hanya gubuk lusuh berdinding tripleks kayu yang diselimuti kardus dan beratapkan goni. Jika hujan tiba dengan sangat deras, ia akan membuat rumah baru lagi agar bisa ditinggali.
“Ayah, Ibu, Zalila pulang!” katanya berteriak heboh. Meski kakinya terluka, bocah laki-laki bernama Zalila itu melompat-lompat bak anak yang paling bahagia.
“Mana makanannya?” Seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan yang tengah menyesap nikotin bertanya dengan satu kaki disilangkan dan diangkat di atas meja.
“Ini, Ayah,” katanya tersenyum lembut. Anak laki-laki itu mengeluarkan sebungkus nasi dan lauk-pauk dari kantong plastik hitam dan lantas memberinya kepada sang ayah.
“Uangnya?” tanyanya lagi dengan tangan terbuka hendak menerima. Bocah itu memberikan semua uangnya pada laki-laki yang disebut ayah itu.
“Kerja bagus, besok-besok harus lebih banyak dari ini,”
Bocah itu mengangguk penuh semangat, besok dia harus mendapatkan lebih banyak uang lagi agar ayah tidak menghukumnya dan meneriaki dengan sebutan ‘anak sial’. Ia harus bekerja lebih giat. Setelah urusan dengan ayah selesai, ia beranjak ke kamar dan membuka pintu dengan sangat pelan. Perempuan yang rambutnya terurai dan kurang terurus tengah duduk di kursi roda. Menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.
“Ibu…,” panggilnya dengan sangat pelan. Tidak ada tanggapan. Anak itu mendekat dengan ragu.
“Zalila bawa makanan. Ibu sudah makan?” tanyanya dengan sangat hati-hati.
Editor : Nisrina Ardra Hafizha

