
Penulis: Fikri Alwi Nasution
Masa depan bangsa Indonesia berada di tangan pemuda-pemudinya. Oleh karena itu, pemuda-pemudi Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, maupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah pemeran utama yang diharapkan dan sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia di masa depan.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah sepakat untuk membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai negara demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan pancasila.
Terjadinya modernisasi politik adalah ketika warga negaranya ikut berpartisipasi dalam politik. Hal ini merupakan komponen penting dari struktur negara demokrasi, di mana proses modernisasi umumnya berhasil apabila mengalami peningkatan partisipasi politik dari warga negara. Modernisasi politik dapat dikaitkan dengan aspek politik dan pemerintahan.
Baca Juga: Gedebak-Gedebuk Bingkai Pencalonan Rektor
Banyak anak muda yang tidak tertarik dengan politik dan membencinya, tapi tidak semua anak muda karena masih ada yang berperan bahkan terjun ke dunia politik. Namun, faktanya sampai saat ini masih banyak generasi muda yang apatis, hal ini tercermin dari kurangnya minat generasi muda terhadap isu-isu politik yang menyebabkan salah tafsir terhadap makna “politik” itu sendiri.
Dikatakan sikap apatis karena para pemuda itu tidak percaya bahwa aksi untuk memengaruhi kebijakan pemerintah akan sia-sia. Ada juga yang dengan sengaja tidak menggunakan hak partisipasinya karena kecewa dan menganggap siapa pun yang terpilih tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada, atau bisa dikatakan sikap apatis anak muda ini disebabkan karena tingginya tingkat ketidakpuasan dan ketidakpercayaan terhadap sistem politik Indonesia.
Jika dikaitkan dengan resistansi politik, sering kali para pemuda tergerus oleh kepentingan pragmatis, konsumsi, juga upaya untuk bertahan hidup. Ini menjadi celah bagi pemuda sebagai objek yang mudah dikendalikan oleh sekelompok orang-orang kapitalisme dan neoliberalisme. Kesadaran kritis akan adanya hegemoni dan dominasi neoliberalisme serta kian melebarnya kesenjangan sosial menjadi agenda utama yang penting untuk disosialisasikan kepada para pemuda.
Partisipasi politik dari tahun ke tahun pastinya memiliki efek dalam peningkatan partisipasi pemuda. Salah satu akibatnya dalam tataran keterwakilan kelompok rentan yang belum maksimal membuat kurangnya partisipasi politik terutama pada kaum pemuda. Beredarnya sebuah stigma adanya pemuda anarkis dan pemuda oligarki membuat partisipasi politik dan kepercayaan terhadap demokrasi menurun.
Pemahaman utuh mengenai peranan pemuda dapat mengubah pemahaman atau interpretasi dari subjek penelitian sehingga dapat meminimalkan dampak negatif dari minimnya partisipasi politik yang inklusif karena kesadaran dari pemuda sudah terkonstruksi dengan baik.
Pemilihan umum (pemilu) 2024 akan menjadi panggungnya para pemuda dalam menentukan pemimpin masa depan Indonesia. Hal ini dikarenakan merekalah yang termasuk generasi Z akan bertindak sebagai pemilih mayoritas dan memperoleh porsi terbesar dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2024 dengan persentase sekitar 40–50 persen keseluruhan DPT bersama generasi milenial. Adanya bonus demografi di satu sisi membuat suara pemuda jelas dianggap sangat menentukan dalam Pemilu 2024.
Ini merupakan momentum anak muda untuk berkiprah secara nyata. Pemuda sebagai garda depan navigator demokrasi bangsa itu benar adanya. Untuk itu, mengoptimalkan peran pemuda dalam suksesi pemilihan serentak tahun 2024 adalah pilihan yang tepat. Kita ketahui bahwa generasi muda adalah generasi penerus yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Mereka memiliki kesanggupan sebagai character builder, character enabler, dan character engineer.
Ini menjadi urgensi tersendiri bagi partai politik untuk melihat perkembangan kehidupan sosial politik saat ini sebagai evaluasi, tantangan, sekaligus peluang kaderisasi dan regenerasi. Alih-alih menekan rasa curiga dan khawatir atas mitos bahwa anak muda kian meninggalkan partai politik.
Sebagai salah satu instrumen demokrasi, partai politik selalu dipandang sebagai kendaraan berbahaya yang penuh dengan konflik dan diselimuti oleh citra negatif. Maka, hal dasar bagi partai politik adalah melakukan transformasi dan memperbaiki peradaban politik.
Baca Juga: Kesombongan dan Keangkuhan Manusia Membawa Petaka
- Nama : Fikri Alwi Nasution
- Jurusan : Hukum Keluarga Islam
- Fakultas : Syariah dan Hukum
- Semester : VI
- Media Sosial : @fikriialwii
Editor: Rika Wulandari

