
- Judul : Filosofi Teras
- Penulis : Henry Manampiring
- Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
- ISBN : 978-623-346-303-4
- Tahun Terbit : 2018
- Jumlah Halaman : 298 halaman
Peresensi: Khairina
“Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak menginginkan apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.” –Seneca
Filosofi Teras adalah sebuah buku karya Henry Manampiring. Lebih dari 2000 tahun lalu sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan solusi dari banyaknya emosi negatif. Filsafat stoisisme atau filosofi stoa, penulis menyebutkannya dengan “Filosofi Teras”. Filsafat Yunani Romawi Kuno yang dapat membantu kita hidup dengan emosi negatif yang terkendali. Hidup dengan kebaikan serta bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi seorang manusia.
Sebagai sebuah filsafat, stoisisme ini bisa melengkapi cara kita menjalani hidup. Stoisisme bukan sebuah agama kepercayaan, tetapi mengandung banyak ajaran dan nilai-nilai universal. Dalam buku tersebut, filsafat stoa digambarkan dengan sederhana secara inti dikotomi kendali manusia dapat menentukan hal-hal yang dapat membuatnya bahagia maupun tidak.
Baca Juga: Gara-Gara Warisan: Harta, Tahta, Keluarga
Dalam hidup, ada hal-hal di bawah kendali dan yang tidak. Orang bijak yaitu dia yang bisa mengenali dua kategori ini dalam segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Walaupun kekayaan, kecantikan, kepintaran, kesehatan, ketenaran bisa diusahakan, tetapi tidak menjamin tidak bisa diambil dari hidup kita karenanya mereka semua termasuk di dalam hal-hal di luar kendali.
Trikotomi kendali dari William Irvine memperkenalkan kategori ketiga “sebagian” di bawah kendali, seperti studi, karier, dan bisnis. Tugas kita adalah memfokuskan pada internal gol yang masih di bawah kendali dan selalu siap menerima hasil/outcome. Kita juga bisa mengendalikan respons lebai terhadap segala hal dengan mengingat betapa remehnya masalah kita jika dilihat dari jauh. Tidak ada yang sungguh-sungguh baru di kehidupan manusia dan pada akhirnya semua akan terlupakan oleh waktu. Santai saja, jangan memusingkan hal-hal yang tidak perlu dan jangan biarkan media sosial dan penghuninya mengambil terlalu banyak perhatian kita.
Sepuluh persen masalah dalam hidup adalah masalah itu sendiri dan 90 persennya adalah bagaimana kita merespons masalah tersebut. Oleh karena itu, pada buku ini terdapat pelajaran yang bisa diambil, salah satunya menjalani kehidupan harus selaras dengan alam karena kehidupan berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum terjadi ke depannya, tetapi biarkan berjalan sebagaimana mestinya. Pada dasarnya manusia hanya bisa berencana, tetapi Allah Swt. yang menentukan.
Dengan membaca buku ini kita banyak menemukan informasi yang edukatif dan deskriptif, dijelaskan masalah yang sering terjadi serta pengaruhnya terhadap kehidupan. Tidak hanya itu, penulis memberitahu bagaimana cara kita untuk mengendalikan emosi negatif dan bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya menjadi seorang manusia.
Penulis juga menggambarkan analogi kejadian yang benar-benar real di kehidupan yang cocok untuk generasi milenial dan. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin hidupnya lebih tenang, terutama para generasi milenial yang sering merasa cemas dan insecure dengan apa yang dimiliki. Dengan menerapkan ajaran filsafat stoa dalam keseharian hidup, kita dapat membuat hidup jauh lebih tenang.
Baca Juga: Belajar Ikhlas Lewat Sebuah Kata Penuh Makna
Editor: Syahda Khairunnisa

