Pendidikan Perempuan Bukan untuk Menyaingi Lelaki, tetapi Membangun Generasi

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto : Dok.internet parentsquads.com)

Penulis: Tri Pujiati Panggabean 

“Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, akhirnya sibuk ngurusin rumah, suami, dan
anak.”

Ucapan ini sangat sering sekali terdengar di kalangan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah. Bukan hanya ucapan seperti itu, ada juga yang menyatakan kalau pendidikan perempuan lebih tinggi bakal susah dapat jodoh karena dikhawatirkan perempuan akan mengatur dan mendominasi kaum lelaki. Apakah semua pernyataan ini bisa menjadi penghambat perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi?

Tujuan pendidikan bagi perempuan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, jabatan, uang, atau bahkan untuk menyaingi laki-laki, tetapi jauh lebih dari itu. Pendidikan tentunya bertujuan untuk mencerdaskan dan mengasah potensi seseorang. Tidak hanya berlaku bagi laki-laki tetapi juga perempuan. Dalam Islam juga disampaikan, bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi tanpa memandang status apa pun. Baik itu status gender, sosial, keturunan, agama, dan budaya. Selagi masih hidup, carilah ilmu sebanyak mungkin. “Carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.”

Pendidikan sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Memiliki ilmu dan terus mencarinya menjadi hal yang wajib bagi setiap insan, termasuk perempuan. Akan tetapi, mengapa masih sering terdengar, “Kenapa harus kuliah tinggi-tinggi kalau ujung ujungnya di dapur dan masak untuk suami dan anak?”

Bukankah perempuan itu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya? Anak tidak hanya butuh sekolah formal dan nonformal, tetapi juga butuh kehadiran perempuan cerdas yang menjadi pondasi sebelum ia mendapatkan ilmu di luar. Ibarat memilih sekolah untuk anak, pasti kita memilih sekolah yang berkualitas. Begitu juga dengan perempuan, makin banyak ilmunya maka akan makin cerdaslah perempuan itu. Saya pernah membaca suatu buku yang menyatakan, “Jika kamu memilih perempuan yang cerdas, maka kamu telah menyelamatkan generasimu,” Sepenting itulah pendidikan bagi perempuan.

Kalau dipikirkan kembali, untuk mendapatkan pekerjaan saja dapat dipastikan kalau tolok
ukurnya adalah pendidikan. Tidak mungkin seorang dosen diterima hanya dengan gelar
sarjana. Tidak mungkin seorang dokter bisa mengoperasi seorang ibu yang melahirkan tanpa mendapat gelar spesialis. Begitu juga dengan perempuan, seorang anak cerdas akan lahir dari seorang ibu yang cerdas. Cerdas itu harus komprehensif, mulai dari cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan lingkungan.

Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan formal tetapi juga informal. Banyak
ruang pendidikan yang bisa menambah ilmu dan pengetahuan. Pendidikan itu luas begitu
juga dengan manfaatnya.

Jika dibandingkan, seorang ibu kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) akan berbeda pola pikir dan cara pengasuhannya dibandingkan ibu yang sarjana. Bahkan, Organisasi global United Nations Children’s Fund (UNICEF) mengatakan kalau perempuan yang mendapat pendidikan tinggi akan lebih mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik dan produktif bagi dirinya dan keluarganya.

Selain itu, perempuan berpendidikan cenderung lebih memahami pentingnya kesehatan dan kesejahteraan bagi anak-anaknya. Maka, anak-anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

Itulah yang menjadi pembeda perempuan yang berpendidikan dan tidak. Walaupun ujungnya berada di rumah mengurus suami dan anak, tetapi perlu kita liat perempuan berpendidikan akan membentuk generasi yang cerdas pula. Kembali lagi, pendidikan tinggi bagi perempuan bukan untuk menyaingi laki-laki melainkan untuk membangun generasi yang unggul.

Editor: Rika Wulandari

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles