Addin 433: Salah karena Niat

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Ihsan)

Penulis: Rohma Mitra

Allah taala menginginkanmu sukses di masa mendatang, maka dia mendatangkan segala rintangan untuk kau lalui, peluh dan air mata untuk kau jalani, sehingga saat kau telah tiba di puncak, kau bersyukur dan paham bahwa tak ada puncak bagi yang mau mendaki. Kita semua tahu bahwa Allah telah menentukan segala takdir untuk makhluk-Nya. Sebagaimana  yang diungkapkan dalam hadis Arbain An-Nawawi yang keempat: 

“… kemudian diutuslah malaikat kepadanya, lalu malaikat tersebut meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, celaka ataupun bahagianya …” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari No. 3208 dan Muslim No. 2463)

Maka sudah sepatutnya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya untuk selalu bersyukur, dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam menjalani hidup, sebagai seorang muslim harus sesuai dengan syariat Islam. Nah, dalam syariat Islam ada sebutan dengan keutamaan niat.

Baca Juga: Addin 432: Membangun Pemuda Tangguh

Kapan kita berniat?

Dalam kitab Hasyiyyah Al-Bajjuri karya Asy-Syaikh Ibrahim Al-Bajuri, niat itu terletak di dalam hati dan pelaksaan niat itu berbarengan dengan perbuatan. Niat itu bukan dilafazkan. Jadi, ketika kita akan memulai belajar maka secara berbarengan kita berniat di dalam hati.

Apakah kita semua tahu ternyata niat itu sangat diperlukan, mengapa?

Disebutkan dalam teori tindakan beralasan (theory reasoned action), niat merupakan suatu fungsi dari dua penentu dasar, yang satu berhubungan dengan faktor pribadi dan lainnya berhubungan dengan pengaruh sosial. Dalam teori ini sudah disebutkan bahwa niat berfungsi sebagai penentu perbuatan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Setiap amalan tergantung pada niatnya. Bagi setiap orang tergantung apa yang dia niatkan.” (H.R. Al-Bukhari).

Niat sangat penting dalam setiap perbuatan, di mana pentingnya?

Sebagian perbuatan akan menjadi tidak sah bila tidak disertai dengan niat, seperti salat, puasa, haji, wudu, dan semisalnya. Bahkan, bisa tidak diterima Allah apabila tidak disertai dengan niat (meskipun tetap sah), seperti memberi nafkah istri dan anak. Berkata Imam Ibnu Mubarok: “Berapa banyak amalan kecil, tetapi menjadi besar karena niatan (positif) pelakunya. Dan betapa banyak amalan besar, tetapi berubah kecil karena niatan (negatif) pelakunya.”

Imam Al-Ghozali juga berkata dalam Kitab Ihya Ulumuddin: “Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Setiap niat merupakan kebaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat.”

Akan tetapi, ada kalanya ketika dalam menjalankan perbuatan sesuai yang diniatkan. Akan diterpa batu kerikil sebagai masalah dan rintangan dalam proses menjalankan perbuatan. Jadi, semua hal perbuatan kita tidak akan kita lalui secara mulus. Ketika kita menghadapi suatu kesalahan dalam proses ternyata tidak kita sadari ada yang salah dalam niat. 

Di awal perbuatan kita berniat sesuai yang kita jalani, tetapi di tengah perjalanan, ternyata kita tersandung masalah. For just informasion, ternyata salahnya karena ada yang salah dalam niat kita. Niat awal mau kuliah untuk belajar, mengejar sarjana dengan hasil nilai cunlaude, dan bahagiain orang tua. Akan tetapi, di tengah jalan dalam menjalani rutinitas sebagai mahasiswa, terdapat niat terselubung yang tidak baik. Misal, ingin bersaing dengan teman-teman, ingin menunjukkan bahwa diri kamu lebih pintar. Dari contoh hal ini lah yang dapat merusak niat. Oleh karena itu, ketika mendapati masalah dalam perbuatan kita, hal itu sebagai pengingat untuk diri agar harus meng-upgrade kembali niat awal. 

Ketahuilah bahwa masalah yang kita hadapi itu selain menjadi pengingat, juga sebagai pelajaran bagi kita. Cobalah untuk mencari pelajaran apa yang bisa dipetik dari setiap permasalahan yang kamu alami. Barangkali di sana terselip kebaikan yang kamu lewatkan namun tidak kamu sadari.

Jangan sesali atas hari-hari yang kau lalui dalam hidupmu. Hari yang baik, akan memberimu kebahagiaan, sedangkan hari yang buruk, akan memberimu pelajaran untuk kembali mengingat serta pengalaman. Kedua keadaan itu, dibutuhkan untuk kelak hidup yang lebih sukses.

Pelajaran-pelajaran yang dipetik dalam permasalahan menjadi motivasi yang mengingatkan kita bahwa semua hal itu tak akan mulus, yang membutuhkan usaha secara reel dalam menjalankannya. Sebagaimana kita akan menghadapi ujian sekolah, kita diharuskan berusaha dengan belajar, mengulang pemahaman dan menghafal. Dalam pelaksanaan ujian, kita berusaha menjawabnya sungguh-sungguh sesuai pemahaman yang sudah kita pahami, kemudian untuk hasilnya kita tak bisa mengharapkan sesuai yang kita mau, untuk urusan akhirnya kita serahkan kepada Allah. Bagaimanapun hasilnya yang kita dapat mengharuskan kita untuk ikhlas.

Sesuai dengan prinsip hidup 

Berusaha (ikhtiar), mengembalikan kepada Allah (tawakal), menerima lapang dada (ikhlas). Kita harus ingat, ketika Allah memberikan kita kesusahan, jangan mencela Allah dengan kesusahan yang ditimpakannya kepada kita. Jangan berputus asa, jangan menyalahkan siapa pun karena Allah ingin melihat sejauh mana iman kita dalam menghadapi masalah dan sejauh mana kita mengingat-Nya. Firman Allah taala: “… sesungguhnya di dalam kesulitan terdapat kemudahan …”

Allah tidak akan memberikan kita kesusahan di luar batas kemampuan manusia. Kita semua pasti sudah tahu hal itu. Maka teruslah berlapang dada hingga setiap rintangan yang datang pasti dapat kita tempuh. Berkata Syaikh Muhammad Sayyid Thantawi rahimahullah: “Ketahuilah bahwa di antara hikmah Allah adalah ia telah menghendaki agar manusia berada dalam keadaan yang berbeda-beda.”

Kita semua secara hakikat sedang dalam perjalanan, hakikat manusia itu adalah musafir (orang yang berjalan). Jadi, di dunia ini kita sedang berkelana dan titik pemberhentian  berada di liang kubur. Permasalahan, ujian, rintangan sudah menjadi hal yang umum pasti kita rasakan, orang paling mulia saja mendapatkan ujian serta cobaan. Kita, hanya manusia biasa malah berusaha untuk tidak ingin menghadapi rintangan. Kalau kuatnya niat dalam mencapai tujuan, maka akan makin besar juga rintangan, bila kecilnya tujuan tidak akan menghilangkan adanya rintangan.

Wallahualam bishowab

Baca Juga: Addin 431: Peran Tasawuf dalam Membangkitkan Spirit Gen-Z menjadi Generasi Emas 2045

Biodata Penulis:

  • Nama         : Rohma Mitra
  • Jurusan      : Pendidikan Bahasa Arab 
  • Fakultas    : FITK 
  • Semester   : III 
  • Instagram : @1209rhmmtr
- Advertisement -

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles