
Penulis: Kauria Rawia
Bulan Ramadan merupakan salah satu bulan istimewa pada kalender Islam yang setiap tahunnya dinantikan umat muslim dengan penuh sukacita di seluruh penjuru dunia. Namun, berbanding terbalik di negeri para anbia ini, akibat serangan Israel yang terus-menerus, Palestina harus menjalani Ramadan dalam keadaan yang mencekam, penuh ketakutan, dan kelaparan.
Meskipun hal ini tidak mengurangi semangat umat Islam di Palestina untuk berpuasa, akan tetapi potret Ramadan di Palestina jelas menguras air mata kita sebagai sesama umat muslim. Bahkan, hampir setiap detiknya mereka harus berjuang untuk menghindari invasi Israel, akibat gencatan senjata yang telah dibahas menjelang Ramadan sebelumnya, tetapi ditolak oleh Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Melansir dari akun Telegram Risalah Amar, Israel terus membatasi pasokan bantuan kemanusiaan ke Gaza hingga berakhir krisis di Gaza utara yang makin memburuk. Akibatnya, lebih dari dua ribu petugas kesehatan memulai Ramadan tanpa sahur atau berbuka puasa. Selain itu, selama Ramadan, Israel sering membatasi akses ke Masjid Al-Aqsa. Netanyahu mengklaim bahwa ini dilakukan untuk menjaga keamanan, tetapi klaim ini bertentangan dengan agresi militer mereka yang terus berlanjut. Pasukan Israel terus menembaki jemaah yang berada di Masjid Al-Aqsa. Akibatnya, Ramadan di Palestina harus dijalani dalam keadaan yang memprihatinkan.
Pernah salah seorang Jurnalis bertanya kepada anak-anak Palestina mengapa mereka gembira menyambut bulan Ramadan. Lalu, mereka berkata “agar lapar kami lebih bermakna”. Hal ini menjadi tamparan keras bagi kita, seluruh dunia memang bahagia menyambut Ramadan dengan segala kemudahan, sementara mereka malah sebaliknya. Bulan Ramadan atau tidak mereka sama halnya menahan lapar berkepanjangan.
Salat tarawih yang biasa kita lakukan di masjid dengan beralaskan karpet nyaman dengan pendingin udara yang berembus, lain halnya dengan mereka yang harus melaksanakan salat tarawih pertama di tengah reruntuhan masjid. Udara malam pada musim dingin pun tak menggoyahkan kekhusyukan mereka untuk beribadah.
Dilansir dari Kompas.id, tahun 2014 menjadi Ramadan paling kelam bagi Palestina dalam satu dekade terakhir. Setidaknya terdapat 1.135 jiwa kehilangan nyawa dan 7.198 jiwa terluka selama Ramadan tahun itu. Angka ini mencakup 93,3 persen korban jiwa dan 44,9 persen korban luka-luka selama Ramadan. Meski kesedihan dan duka selalu menyelimuti Ramadan di Palestina selama bertahun-tahun, warga Palestina tetap teguh dalam menjalankan ibadah di bulan suci tersebut.
Semua itu hanya sebagian kecil kisah pilu yang mereka alami. Lantas, kita yang dengan mudahnya beribadah dengan nyaman dan aman, masih saja lalai dan berleha-leha di bulan Ramadan ini. Raungan pesawat tempur disertai dentuman meriam tank Israel tak menggoyahkan semangat warga Palestina dalam menjalankan Ramadan. Sedang kita yang dengan tenang beribadah di tengah rasa aman pun masih tak khusyuk dengan kepala dipenuhi kesenangan duniawi semata.
Harapan warga Palestina kini bergantung pada hati nurani penduduk dunia yang bersedia mendengar, mengingat, dan membersamai mereka dengan bermunajat pada Sang Ilahi. Tekanan untuk mengakhiri konflik di Gaza harus terus digencarkan melalui desakan dan permohonan.
Bulan suci Ramadan diharapkan menjadi pengingat bagi elit politik atau bahkan kita sendiri untuk sementara waktu mengesampingkan kesenangan duniawi, tidak bungkam, dan tutup mata seolah saudara kita baik-baik saja. Bangun empati dengan memprioritaskan kemanusiaan dan kasih sayang terhadap mereka apa pun caranya. Suatu saat nanti, warga Palestina akan dapat menjalankan ibadah Ramadan dalam kedamaian, bebas dari duka dan kematian.

