
Medan, Dinamika Online–Puluhan mahasiswa UIN SU ricuh di Kampus II UIN SU Pancing pada Kamis, 30 Oktober 2025. Diduga kericuhan terjadi bersamaan dengan pemilihan HMJ Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK). Dekan FITK, Prof. Dr. Tien Rafida, M.Hum., menuturkan kronologi terjadinya kericuhan.
Prof. Tien menyampaikan, dari 11 program studi, delapan di antaranya telah melaksanakan pemilihan dengan lancar, yakni Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Tadris IPS, Matematika, Tadris Bahasa Indonesia, Tadris Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Pemilihan di Prodi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam (BKPI) dilaksanakan hari ini, sementara Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dijadwalkan menyusul esok hari.
Baca Juga: Bahas Lebih Dekat dengan Redaksi, Divisi Redaksi LPM Dinamika adakan Pena Aksi 2025
“Alhamdulillah, dari 11 program studi yang ada, delapan sudah selesai melaksanakan pemilihan dengan baik dan tertib. Semua proses kita pantau bersama, dan hari ini BKPI melaksanakan pemilihan dengan prosedur yang sama,” jelas Prof. Tien.
Sebelumnya, pihak fakultas telah melakukan audiensi dan mediasi selama dua hari, pada 28–29 Oktober, untuk memastikan seluruh proses pemilihan berlangsung secara kekeluargaan. Mediasi tersebut berakhir dengan kesepakatan damai dan saling berjabat tangan antara pihak-pihak yang terlibat.
Pada hari pelaksanaan pemilihan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) BKPI di Gedung SBSN, kegiatan berlangsung dengan aman dan tertib hingga terpilihnya pengurus baru secara sportif. Namun demikian, setelah proses pemilihan selesai, muncul teriakan di luar gedung yang tidak lagi teridentifikasi berasal dari mahasiswa FITK.
Menanggapi hal tersebut, pimpinan fakultas bersama Ketua Program Studi segera berkoordinasi untuk melakukan langkah pengamanan. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan pemilihan diamankan ke tempat yang lebih kondusif guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Pemilihan sudah selesai dan berjalan baik. Ketika muncul keramaian di luar, kami hanya berupaya melindungi mahasiswa dan menjaga situasi agar tetap aman. Kami juga berkoordinasi dengan satpam untuk memastikan aset negara tetap terjaga,” tambahnya.
Terkait dugaan adanya provokator, pihak FITK belum dapat memastikan mahasiswa yang di lapangan tidak hanya berasal dari satu fakultas saja. FITK menegaskan bahwa sejak awal seluruh mahasiswa telah diimbau untuk menanggalkan atribut kelompok seperti membawa bendera A dan bendera B.
“Tetapi kaprodi melaporkan bahwasanya itu semua bukan anak kita (mahasiswa FITK), karena semuanya sudah dikeluarkan,” lanjutnya.
Surat tuntutan terkait peristiwa tersebut diterima oleh Wakil Dekan III FITK sekitar pukul 18.00 WIB dan ditujukan kepada Rektor. Namun, sesuai arahan dari Wakil Rektor III, penyelesaian persoalan dilakukan terlebih dahulu di tingkat fakultas melalui jalur musyawarah internal.
“FITK tidak mencari siapa yang benar atau salah. Kami akan menyelesaikan persoalan dengan semangat musyawarah dan kekeluargaan. Jika memang ada bukti yang autentik atas dugaan keberpihakan, silakan disampaikan sesuai prosedur,” ujarnya.
Dekan FITK juga mengungkapkan demi kemananan civitas academica, perkuliahan sementara didaringkan. Hal ini sudah dikomunikasikan dengan Rektor dan Wakil Rektor III.
“Saya juga selalu berkomunikasi kepada Rektor dan Wakil Rektor III terkait keadaan. Kami meminta untuk dikondusifkan terlebih dahulu, jadi surat sudah diberikan oleh dekan masing-masing untuk mendaringkan perkuliahan,” ungkapnya.
Reporter LPM Dinamika sudah berusaha untuk mencari data dari mahasiswa yang bersangkutan. Hingga berita ini diterbitkan, pihak HMJ FITK, Senat Mahasiswa Fakultas (Semaf), dan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (Demaf), enggan untuk membuka suara.
Baca Juga: Investasi dan Pengelolaan Uang, KSPMS Golden UIN SU Gelar Seminar Nasional
Reporter: Cici Hardiyanti dan Hadist Sulistiawati
Editor: Fadillah Hanum

