
Penulis: Fikri Afdillah Daulay
Sejak manusia pertama kali belajar mendengarkan bunyi di sekitarnya, seperti suara angin, gemercik air, sampai hentakan langkah kakinya sendiri, musik telah menjadi bahasa yang paling universal, juga selalu hadir di setiap ritual, pesta, tangis, dan perayaan hidup lainnya. Musik tumbuh bersama manusia, menjadi cermin suasana hati dan saksi perjalanan zaman.
Namun, di balik harmoni dan melodinya, musik juga menyimpan kekuatan lain, seperti kekuatan untuk menggugah, menentang, bahkan melawan. Musik tak hanya menjadi hiburan belaka, tetapi juga sebagai senjata untuk menyuarakan realitas. Bak kata Fela Kuti, “Music is a Weapon.”
Baca Juga: Waspada terhadap Penggunaan Gemini AI
Seiring berjalannya waktu, musik tidak hanya menjadi ruang untuk mengekspresikan emosi, tetapi juga berubah menjadi medium bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahan. Dalam berbagai masa dan situasi, musik kerap lahir dari tekanan, ketidakadilan, dan keinginan untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar diri sendiri. Dari sana, lahirlah bentuk-bentuk perlawanan yang tersampaikan melalui lirik, nada, dan irama. itu membuktikan bahwa musik selalu punya cara untuk berbicara ketika kata-kata tak lagi cukup.
Dari hal tersebut, banyak musisi yang menjadikan karya mereka sebagai bentuk perlawanan, seperti Billie Holiday, Bob Dylan, Green Day, dan masih banyak lagi. Kalau di Indonesia sendiri ada Iwan Fals, Efek Rumah Kaca, .Feast, Sukatani, dan masih banyak lagi. Lalu, dari sekian banyak musisi yang menggunakan musik sebagai bentuk protes, sebagian di antaranya berhasil meninggalkan jejak yang kuat dan berpengaruh.
Seperti lagu “Strange Fruit” yang dipopulerkan oleh Billie Holiday, sebuah lagu protes yang mengecam brutalitas lynching (hukuman gantung tanpa pengadilan) terhadap komunitas kulit hitam di Amerika Serikat. Lagu tersebut dipandang sebagai salah satu karya antirasisme paling berpengaruh dalam sejarah, hingga pada masanya sempat dilarang diputar di radio karena dianggap terlalu kontroversial.
Di Indonesia, semangat serupa tercermin dalam karya Sukatani melalui lagu “Bayar Bayar Bayar”, yang mengkritik praktik pungutan liar (pungli) dan ketidakadilan yang diduga dilakukan oleh oknum kepolisian. Dampaknya cukup besar hingga memicu kontroversi nasional. Lagu ini diminta untuk dihapus dari berbagai Digital Streaming Platform (DSP), dan dua personel band tersebut bahkan diminta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Mereka tidak hanya menyuarakan keresahan, tetapi juga menggugah kesadaran banyak orang untuk melihat kenyataan dengan cara yang lebih jujur. Melalui karya-karya mereka, musik tidak lagi sekadar hiburan, melainkan menjadi simbol keberanian, perlawanan, dan perubahan.
Sampai saat ini, musik masih memegang perannya sebagai suara bagi rakyat yang merasa tak didengar, terutama di tengah kebijakan pemerintah yang kerap menimbulkan perdebatan di ruang publik.
Sosok seperti Iwan Fals menjadi bukti nyata bagaimana musik dapat menjadi medium perlawanan. Pada era 1980-an, ia banyak menulis lagu bertema kritik sosial, seperti “Tikus-Tikus Kantor” yang menyoroti praktik korupsi para pejabat dan birokrat, “Wakil Rakyat”, yang menggambarkan kekecewaan terhadap para wakil rakyat yang lupa janji, hingga “Oemar Bakri” yang menyinggung rendahnya penghargaan dan kesejahteraan bagi para guru.
Menariknya, pesan-pesan yang disampaikan Iwan Fals puluhan tahun lalu masih relevan sampai sekarang. Mungkin benar, lagu atau karya seni tidak serta-merta mampu mengubah politik secara langsung. Namun setidaknya, karya-karya seperti itu mampu membuka mata kita, menumbuhkan kesadaran, dan mengingatkan bahwa suara rakyat tidak pernah benar-benar padam, ia hanya mencari medium untuk kembali didengar.
Sampai hari ini, musik perlawanan masih bergema di berbagai platform media sosial, menjadi latar bagi jutaan suara yang mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan rakyat terhadap mereka yang menyalahgunakan kekuasaan, di tengah derasnya arus digital.
Musik juga kembali menjadi alat penyampai aspirasi yang tak bisa dibungkam, mengiringi setiap seruan keadilan yang lahir dari ruang-ruang virtual. Seperti yang pernah diungkapkan Victor Hugo, “musik mengekspresikan apa yang tidak dapat dikatakan dan yang mustahil untuk dibungkam”. Kalimat itu terasa relevan sampai sekarang, saat musik kembali menjadi bahasa paling jujur bagi rakyat untuk melawan dengan cara yang elegan tanpa kekerasan, tetapi penuh keberanian.
Pada akhirnya, musik akan selalu menjadi ruang tempat manusia menemukan keberanian untuk bersuara. Ia mampu melampaui batas waktu, menembus sekat sosial, dan berbicara bagi mereka yang selama ini dipaksa diam.
Dari masa ke masa, musik membuktikan bahwa perlawanan tidak selalu harus lantang atau destruktif. Kadang ia hadir lewat nada, lirik, dan emosi yang tulus. Bahkan, di tengah dunia yang terus berubah, musik tetap menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi adalah hak yang tak bisa dirampas. Selama masih ada ketidakadilan, selama masih ada yang berani bernyanyi, maka musik akan terus hidup sebagai bentuk perlawanan yang paling manusiawi.
Baca Juga: Tuai Banyak Kontroversi, Kasus MBG Menelan Banyak Korban

