
Penulis: Dicky Pratama
Serentetan bencana telah melanda wilayah Sumatra, mulai dari banjir, banjir bandang hingga tanah longsor. Semuanya datang seperti rangkaian pesan yang ingin disampaikan alam kepada kita. Dari Tapanuli Tengah, Sibolga, hingga sebagian wilayah Sumatra Barat dan Aceh, masyarakat masih bergulat dengan luka akibat air dan tanah yang tak lagi bisa menahan dirinya.
Pada 23 November 2025, angin kencang mulai dirasakan oleh masyarakat di kawasan Sumatra Utara. Berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hal ini diakibatkan oleh fenomena alam yang terjadi. Disebut dengan Siklon Tropis Senyar, yang mengakibatkan serentetan bencana di berbagai daerah Sumatra. Jika dilihat dari fenomena yang terjadi, peristiwa ini hanya menyebabkan hujan disertai dengan angin yang berkepanjangan. Namun, dampak bencananya sangatlah besar, seperti tanah longsor dan banjir bandang yang membawa lumpur dan material kayu yang cukup banyak. Sekilas, Senyar tampak seperti penyebab utama, padahal ia hanyalah isyarat kecil. Luka yang sebenarnya jauh lebih dalam.
Baca Juga: Peduli Lingkungan, tetapi Terjebak dengan Fenomena Tumbler Overprice
Setiap daerah pasti akan mengalami fenomena alam, terutama hujan dan angin. Secanggih apa pun teknologinya, tidak ada teknologi yang mampu menahan fenomena tersebut, kecuali hanya bisa memprediksinya. Jika sudah terprediksi, lalu apa yang bisa kita lakukan?
Tidak cukup berhati-hati hanya dengan berdiam diri. Oleh karena itu, perlu adanya persiapan alam untuk bisa menahan fenomena tersebut sehingga tidak terjadi bencana yang lebih besar. Di saat hujan turun, hanya pohon yang dapat melindungi bumi saat volume air bertambah. Tidak semua pohon sama, oleh karena itu, tidak boleh menyamakan pohon dari hutan tropis maupun subtropis dengan perkebunan, seperti kelapa sawit dan sejenisnya. Karena dilihat dari jenis akar, batang, dan daun yang berbeda.
Indonesia diberkahi dengan kekayaan alam, termasuk hutan. Seharusnya, dengan hutan tersebut, dapat menahan air hujan yang turun. Namun, akibat dari banyaknya penebangan hutan ilegal, menjadikan Sumatera harus mengalami hal yang pahit oleh fenomena ini. Dilansir dari liputan6.com, Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa penyebab banjir bandang yang terjadi di Aceh dan Sumatra Utara adalah dugaan dari tambang ilegal. Ditambah dengan gelondongan kayu yang berada di beberapa daerah pascabencana.
Ini seharusnya menjadi perhatian yang sangat penting oleh pemerintah, tentang perlindungan lingkungan. Jika pemerintah sudah melihat akar masalahnya, apakah kita hanya berhenti pada pernyataan?
Jika tambang dilakukan dengan mengatasnamakan kemajuan negara, apakah Indonesia tidak bisa maju dengan membawa karakteristik bangsa yang hijau? Bahkan tidak hanya hal yang ilegal, bahkan yang sudah dilegalkan pun harusnya dibatasi. Indonesia sudah ditakdirkan dengan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Namun, hendaknya kekayaan itu tidak dimanfaatkan dengan cara merusaknya. Setiap negara memiliki cara untuk memajukan bangsanya, dan salah satunya dilihat dari segi geografis sebuah negara.
Bagi masyarakat Indonesia, apakah kita hanya berdiam saja melihat negara kita diambil kekayaannya oleh segelintir orang? Apakah kita diam saja dan ikutan ketika melihat orang yang merusak lingkungan? Hal kecil seperti membuang bekas plastik sampah harusnya menjadi perhatian kita.
Di era media sosial, suara masyarakat bisa menjadi pengawal kebijakan. Namun suara itu harus jernih, tidak terburu-buru menelan hoaks, dan tetap berpijak pada kepedulian terhadap bumi. Perayaan Hari Menanam Pohon Nasional pada 28 November seharusnya tidak berhenti sebagai seremonial tahunan. Menanam satu pohon saja mungkin tak langsung menghentikan banjir, tetapi itu bukti bahwa kita masih ingin memperbaiki hubungan dengan alam.
Senyar hanyalah isyarat. Bumi sedang berbicara, dan bencana ini mungkin hanyalah tegurannya. Pertanyaannya, maukah kita mendengar?
Baca Juga: Healing Versi Gen Z, Ketika Keinginan Berkedok Kebutuhan
Editor: Kauria Rawia

