
Medan, Dinamika Online–Pasar Nurlela kembali menghadirkan bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memadukan kuliner dan nuansa budaya Melayu. Sebanyak 30 tenan turut meramaikan bazar yang digelar selama lima hari di halaman parkir Irian Supermarket Laut Dendang, Jalan Perhubungan, Medan Tembung, mulai 22–26 April 2026.
Pemilik Pasar Nurlela, Muhammad Zairham Arif Daulay, mengatakan ide bazar tersebut terinspirasi dari pasar budaya di Malaysia yang menggabungkan kuliner dan unsur budaya dalam satu kegiatan. Konsep tersebut kemudian diadaptasi dan dikembangkan di Indonesia dengan nama Pasar Nurlela.
Baca Juga: Komunitas Ngobrol Buku Bedah Novel “Medan Medan” Karya Muram Batu
“Ide Pasar Nurlela ini muncul ketika dua tahun lalu saya pergi ke Malaysia. Ada teman sesama pengusaha membuka usaha dengan melibatkan sajian kuliner dan budaya. Di sana, nama bazarnya Pasar Saloma. Saloma sendiri merupakan artis zaman dulu di Malaysia. Ketika dibawa ke Indonesia, namanya kami ubah menjadi Nurlela,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan bazar tersebut digelar sebagai upaya mendukung pertumbuhan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif melalui kegiatan yang melibatkan para pedagang serta pekerja di sektor usaha.
“Tujuannya untuk meningkatkan ekonomi, baik pelaku usaha maupun pelaku ekonomi kreatif. Dengan membuka bazar seperti ini, roda ekonomi akan berputar di kalangan pedagang, pekerja, maupun pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif,” lanjutnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung bazar, Jefri Geovani, menilai konsep Pasar Nurlela memiliki daya tarik tersendiri karena menggunakan sistem transaksi koin. Menurutnya, konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda saat berbelanja.
“Konsep pasarnya menarik karena kita harus menukarkan uang dengan koin untuk bertransaksi, jadi memberikan pengalaman tersendiri saat berbelanja di Pasar Nurlela ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga menilai beberapa tenan di Pasar Nurlela cukup menarik untuk dikunjungi, terutama karena adanya menu yang jarang ditemui di bazar lain. Selain itu, ia menyoroti sistem transaksi dan harga makanan yang dinilai menyesuaikan dengan penggunaan koin.
“Menurut saya, tenan yang menarik adalah yang menjual tahu gejrot karena jarang ditemui di bazar lain. Untuk harga, menurut saya agak mahal karena disesuaikan dengan kelipatan koin, dan satu koin bernilai Rp5.000. Saya rasa Pasar Nurlela cocok diadakan kembali karena konsepnya menarik dan kualitas tenannya bagus,” ucapnya.
Baca Juga: Hari Terakhir Francophonie, AF Medan Ajak Peserta Kenal Budaya Ngopi Prancis
Reporter: Wira Wiyana Sari dan Silvia Rida Yanti
Editor: Ummy Syafitri

