Perempuan sebagai Driver Ojol: Tantangan dan Persepsi Masyarakat

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.konde.co/)

Penulis: Dwi Rahayu Br. Ginting

Di tengah pekerjaan yang didominasi laki-laki, yaitu pengemudi ojek online (driver ojol), tidak sedikit juga perempuan yang memilih bekerja sebagai pengemudi ojol. Banyak perempuan saat ini bekerja sebagai pengemudi ojol demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan memperoleh penghasilan sendiri. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perempuan mampu bekerja di sektor publik yang selama ini identik dengan laki-laki. Mereka tidak hanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik, tetapi juga mampu bekerja di sektor publik.

Dalam penelitian “Realitas Perempuan Driver Ojek Online”, keputusan perempuan untuk menjadi pengemudi ojol dikarenakan faktor ekonomi. Banyak dari mereka harus membantu pendapatan keluarga yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan menjadi tulang punggung rumah tangga akibat perceraian, kehilangan pasangan, atau sulitnya memperoleh pekerjaan formal.

Baca Juga: Pesta Babi dan Ketakutan Negara terhadap Ruang Diskusi

Dalam media massa Suara.com pada Rabu, 5 Maret 2025, disebutkan bahwa di balik semangat dan perjuangan tersebut, perempuan sebagai pengemudi ojol masih sering menerima candaan yang melecehkan dan belum memperoleh perlindungan kerja yang memadai seperti cuti melahirkan maupun jaminan keamanan kerja.

Selain itu, tantangan fisik juga menjadi persoalan tersendiri. Bekerja di jalan raya dalam waktu lama membuat mereka harus menghadapi panas, hujan, kemacetan, hingga risiko kecelakaan. Tidak sedikit masyarakat yang masih memandang perempuan tidak cukup kuat untuk melakukan pekerjaan tersebut. Padahal, banyak pengemudi ojol perempuan justru menunjukkan bahwa mereka mampu. Bahkan, ada penumpang yang merasa tidak nyaman saat mengetahui pengemudinya adalah perempuan sehingga memilih membatalkan pesanan.

Tantangan lain yang cukup berat adalah adanya beban ganda yang harus ditanggung perempuan. Setelah bekerja di jalan, mereka tetap harus menjalankan tanggung jawab domestik di rumah sebagai ibu atau pengurus keluarga. Media massa Konde.co pada Jumat, 18 Juli 2025, menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi ojol perempuan mengalami kelelahan karena harus membagi waktu antara mencari nafkah dan mengurus rumah tangga.

Pengemudi ojol perempuan juga menghadapi tantangan sosial seperti stigma dan stereotipe gender. Meski demikian, persepsi masyarakat terhadap pengemudi ojol perempuan perlahan mulai berubah. Banyak penumpang justru merasa lebih nyaman jika mendapatkan pengemudi perempuan, khususnya penumpang perempuan, merasa lebih aman dan lebih mudah berkomunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan mampu beradaptasi dan bersaing di dunia kerja sektor publik.

Perempuan sebagai pengemudi ojol juga mencerminkan perubahan sosial di tengah masyarakat modern. Perempuan tidak lagi hanya dipandang harus mengerjakan pekerjaan domestik di rumah, tetapi juga berhak menentukan pilihan sendiri. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjuangan kesetaraan gender di Indonesia.

Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh memandang sebelah mata pada perempuan sebagai pengemudi ojol. Mereka membuktikan bahwa perempuan mampu bekerja keras dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Masyarakat seharusnya memberikan dukungan dan penghargaan terhadap profesi ini, bukan justru memandang rendah. Pemerintah dan perusahaan transportasi daring juga perlu meningkatkan perlindungan kerja, keamanan, serta jaminan sosial bagi pengemudi ojol perempuan. Dengan demikian, pengemudi ojol perempuan dipandang sebagai bukti bahwa perempuan Indonesia mampu bertahan dan mandiri.

Menurut pandangan penulis, perempuan sebagai pengemudi ojol justru layak mendapat apresiasi lebih besar dari masyarakat. Mereka bukan hanya bekerja mencari penghasilan, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan mampu bertahan dan mandiri di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Keberanian mereka bekerja di jalan raya setiap hari menunjukkan semangat yang tidak semua orang miliki. Penulis melihat profesi ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga perjuangan perempuan modern dalam mempertahankan kehidupan keluarga.

Baca Juga: Ketimpangan Perlindungan Hukum Pers Mahasiswa di Bawah Kemenag

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

 

 

 

 

 

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles