
Judul: Aku yang Sudah Lama Hilang
Penulis: Nago Tejena, M. Psi., Psikolog
Genre: Self-Improvement, Psikologi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 200 halaman
Peresensi: Muhammad Daffa
“Terkadang, perjalanan paling jauh bukanlah pergi ke tempat baru, melainkan perjalanan pulang menuju diri sendiri yang telah lama kita abaikan.”
Buku Aku yang Sudah Lama Hilang karya Nago Tejena ini dibuka dengan keresahan yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang yang merasa asing terhadap dirinya sendiri. Sejak awal, pembaca seperti diajak duduk pelan, melihat ke dalam, tanpa merasa dihakimi. Penulis tidak menyampaikan gagasan dengan cara yang kaku atau terlalu teoritis, tetapi lebih seperti mengajak berdialog hangat, tenang, dan perlahan.
Buku ini berangkat dari fenomena yang cukup sering dialami, terutama oleh generasi muda yang kehilangan arah di tengah tuntutan hidup yang makin kompleks. Kita tumbuh dengan berbagai ekspektasi dari keluarga, lingkungan, bahkan dari diri sendiri, hingga tanpa sadar mulai memakai “topeng” agar terlihat baik-baik saja. Dalam proses itu, keinginan dan perasaan asli sering kali justru terabaikan. Melalui pendekatan psikologis yang sederhana, penulis mengajak pembaca untuk menelusuri kembali masa lalu, termasuk mengenali inner child dan memahami bagaimana pengalaman kecil bisa membentuk cara kita memandang hidup saat ini.
Baca Juga: Cahaya Mimpi dari Sudut Belitung dalam Laskar Pelangi
Hal yang membuat buku ini terasa berbeda adalah cara penulis membahas proses pemulihan. Tidak ada janji instan atau perubahan drastis dalam waktu singkat. Justru sebaliknya, perjalanan mengenal diri digambarkan sebagai proses yang tidak selalu nyaman. Ada bagian di mana pembaca mungkin harus berhadapan dengan luka lama atau sisi diri yang selama ini dihindari. Namun, dari situlah muncul pemahaman bahwa menjadi “tidak sempurna” bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari menjadi manusia.
Selain itu, buku ini juga mengenalkan beberapa konsep penting seperti batasan diri (self-boundaries) dan cara menghadapi fase quarter-life crisis. Penjelasannya tidak rumit, sehingga mudah dipahami bahkan oleh pembaca yang belum familiar dengan istilah psikologi. Setiap pembahasan terasa seperti potongan kecil yang jika disatukan, membantu pembaca melihat dirinya dengan cara yang lebih utuh.
Menurut penulis, kekuatan utama buku ini terletak pada keseimbangan antara empati dan pengetahuan. Penulis tidak hanya menjelaskan, tetapi juga memahami. Gaya bahasanya terasa ringan, seperti berbicara dengan seseorang yang benar-benar mengerti kondisi kita. Ada kesan bahwa buku ini tidak memaksa pembaca untuk berubah, melainkan menemani prosesnya.
Menariknya, buku ini juga cukup jujur dalam menggambarkan sisi rapuh manusia. Rasa cemas, lelah, bahkan keinginan untuk menyerah tidak ditutupi atau dianggap sebagai kelemahan. Justru semua itu diposisikan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu diakui. Dari sini, pembaca diajak untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.
Suasana yang dibangun sepanjang buku juga terasa tenang. Tidak ada tekanan untuk menjadi “lebih cepat”, “lebih sukses”, atau “lebih hebat”. Sebaliknya, ada pesan yang terus diulang secara halus bahwa melambat bukan berarti tertinggal. Dalam dunia yang serba cepat, pesan ini terasa cukup relevan dan menenangkan.
Jika dilihat lebih jauh, buku ini juga menyentuh kritik terhadap pola hidup modern yang cenderung kompetitif dan menuntut. Kita sering kali dipaksa untuk terus bergerak tanpa diberi ruang untuk berhenti. Melalui tulisan ini, pembaca diingatkan bahwa manusia bukan mesin yang harus selalu produktif. Ada kebutuhan untuk beristirahat, memahami diri, dan menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana.
Namun, dari sisi kekurangan, bagi sebagian pembaca yang terbiasa dengan buku psikologi yang lebih akademis, isi buku ini mungkin terasa terlalu ringan. Beberapa pembahasan tidak digali terlalu dalam secara teori. Selain itu, banyaknya bagian refleksi bisa membuat pembaca berhenti sejenak agar tidak sekadar membaca, tetapi juga benar-benar merenungkan isinya.
Secara keseluruhan, Aku yang Sudah Lama Hilang bukan hanya sekadar buku self-help biasa. Buku ini lebih terasa seperti teman yang hadir di waktu yang tepat, tidak banyak memberi nasihat, tetapi cukup untuk membuat kita berpikir dan merasa dimengerti. Setelah membacanya, ada dorongan kecil untuk lebih jujur pada diri sendiri dan mulai memperlakukan diri dengan lebih baik.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa perjalanan menemukan diri bukanlah sesuatu yang harus diselesaikan dengan cepat. Tidak apa-apa berjalan pelan, selama kita tidak lagi mengabaikan diri sendiri. Sebab, bisa jadi yang selama ini kita cari di luar sana sebenarnya sudah ada di dalam diri, hanya saja kita belum benar-benar mau mendengarnya.
Baca Juga: Ketika Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Sebuah Pilihan
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

