
Penulis: Muhammad Satria
Billy adalah seorang anak SMA yang memiliki mimpi besar. Ia ingin menjadi orang kaya dan memiliki banyak pacar. Menurutnya, orang kaya selalu terlihat keren, dihormati banyak orang, dan mudah mendapatkan perhatian dari perempuan.
Cerita ini bermula di sekolah saat upacara bendera sedang berlangsung. Seperti biasa, seluruh siswa berdiri rapi di lapangan. Namun, Billy tidak terlalu memperhatikan jalannya upacara. Sejak tadi matanya hanya tertuju pada seorang gadis cantik bernama Amelia.
Baca Juga: Wisata Masa Lalu (Bagian 5)
Amelia adalah primadona sekolah. Wajahnya sangat rupawan dan mempesona. Banyak siswa laki-laki yang menyukainya, termasuk Billy. Karena terlalu fokus memperhatikan Amelia, Billy sampai tidak sadar bahwa namanya sedang dipanggil oleh kepala sekolah.
“Billy, Billy …”
Namun, Billy tetap tidak mendengar. Ia masih sibuk memandangi Amelia dari kejauhan. Hingga akhirnya Amelia menyadari bahwa Billy sedang memperhatikannya. Saat itulah Billy baru tersadar bahwa dirinya dipanggil.
“Ha?”
Karena panik, Billy langsung berlari maju ke depan. Namun, karena terburu-buru, ia hampir terjatuh di depan seluruh siswa. Beberapa teman yang melihat kejadian itu langsung menahan tawa. Sesampainya di depan, kepala sekolah menatap Billy dengan wajah serius.
“Billy, kapan mau dibayar SPP kamu? Minggu depan kalau belum dibayar, kamu akan diskors, ya.”
Sebenarnya, Billy mendengar perkataan kepala sekolah, tetapi matanya masih saja melirik ke arah Amelia. Ia melihat gadis itu sedang berdiri di barisannya. Kepala sekolah akhirnya sadar bahwa Billy tidak memperhatikannya.
“Billy, kamu kok bengong? Siapa yang kamu lihat, ha?”
Sontak seluruh siswa tertawa mendengar ucapan kepala sekolah tersebut. Billy hanya bisa menundukkan kepala karena malu.
Setelah upacara selesai, Billy mendapat hukuman. Ia diperintahkan untuk hormat bendera sampai jam pelajaran selesai. Dengan pasrah ia berdiri di dekat tiang bendera sambil menahan panas matahari yang makin terik.
Waktu berjalan sangat lambat. Kakinya mulai pegal dan tenggorokannya terasa kering. Saat itulah seseorang datang menghampirinya.
“Nih, es jeruk.”
Billy langsung terkejut. Di hadapannya ternyata berdiri Amelia sambil membawa segelas es jeruk.
Billy yang gugup langsung menerima minuman itu. Tangannya bahkan sedikit gemetar karena tidak menyangka Amelia mau menghampirinya.
“Kamu tadi lihatin aku, ya? Pas upacara?” tanya Amelia.
Billy langsung panik.
“Kok, dia tahu?” ucap Billy dalam hati.
“Enggak, kok. Aku tadi lihat langit,” jawab Billy terbata-bata.
Amelia justru tertawa kecil.
“Ah, yang benar. Tadi aku lihat kamu juga, loh.”
Billy makin gugup. Jantungnya berdebar sangat kencang.
“Oh, iya, kenalin. Aku Amelia dari kelas 10-A. Kamu dari kelas mana?” tanya Amelia.
Dalam hati Billy berkata, “Aku udah tahu. Kan, aku selalu lihatin kamu.”
Namun, tentu saja kalimat itu tidak ia ucapkan.
“Kalau aku Billy dari 10-D. Salam kenal, Amelia.”
Amelia kemudian mengulurkan tangan. Billy langsung menyambutnya dengan senyum lebar. Saat bersalaman, Billy merasa sangat senang. Dalam khayalannya, Billy sudah melihat sosok Amel menggunakan baju pengantin berwarna putih. Setelah beberapa saat berbincang, Amelia pun pamit pergi.
Billy masih berdiri di dekat tiang bendera sambil tersenyum sendiri mengingat percakapannya dengan Amelia. Bahkan setelah Amelia pergi, senyum itu masih belum hilang dari wajahnya.
“Akhirnya … dia kenal sama aku.”
Karena terlalu senang, Billy sampai duduk di bawah tiang bendera sambil tertawa sendiri.
Beberapa menit kemudian, kepala sekolah datang untuk melihat keadaan Billy. Betapa terkejutnya beliau saat melihat Billy duduk santai sambil tertawa sendiri.
“Billy, saya bilang hormat bendera, bukan cosplay jadi orang gila! Sekarang saya tambah hukumannya satu jam lagi!”
Billy langsung berdiri dengan panik.
“Pak, tapi dari tadi saya hormat, kok. Ini baru bentar aja, Pak.”
“Saya tidak ada melihatnya. Hormat sekarang!” bentak kepala sekolah.
Billy hanya bisa pasrah.
Dengan wajah lesu, ia kembali berdiri tegak dan melanjutkan hukumannya. Di bawah panas matahari, ia terus hormat sampai waktu pulang sekolah tiba.
Meski hari itu menjadi salah satu hari paling memalukan dalam hidupnya, Billy tetap merasa senang. Karena akhirnya, bisa bersalaman dengan orang yang dia sukai.
Baca Juga: Wisata Masa Lalu (Bagian 4)
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

