Berakhir di Aku: Ketika Sang Sandaran Tak Memiliki Tempat Bersandar

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.youtube.com)

Judul: Berakhir di Aku

Pencipta: Idgitaf

Penyanyi: Idgitaf

Genre: Pop-Indo

Tahun Rilis: 2024

Durasi: 3 menit 56 detik

Peresensi: Annisa Natasya

Idgitaf memiliki nama asli Brigitta Sriulina Beru Meliala. Ia adalah penyanyi muda bertalenta yang menulis lirik lagu ini hanya dalam satu hari. Namun, pemaknaan di dalamnya sungguh menyentuh hati. Kemampuan Idgitaf untuk menangkap emosi yang rumit dan menuangkannya menjadi lirik yang sederhana namun dalam adalah keunggulan terbesarnya sebagai seorang penulis lagu. Ia tidak mencari diksi yang rumit atau metafora yang berlapis-lapis. Ia hanya berbicara apa adanya, dan justru itulah yang membuat karyanya begitu kuat.

Idgitaf mengungkapkan bahwa ia sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Visinema Pictures dalam menciptakan lagu Berakhir di Aku sebagai original soundtrack film Home Sweet Loan. Ia menjelaskan bahwa film ini selaras dengan visinya sebagai musisi. “Film ini selaras banget sama visi yang aku bawa sebagai musisi, di mana aku ingin jadi teman di perjalanan hidup teman-teman pendengarku. Aku resonate banget sama karyanya, jadi itu yang menyebabkan aku mau bikin lagu dari film ini,” ungkap Idgitaf.

Baca Juga: Sembuh dari Patah Hati Lewat Lagu “Ceritanya Jatuh Cinta”

Lagu terasa begitu autentik karena cara Idgitaf mendekati proses penciptaannya. Ia tidak hanya menulis lagu berdasarkan sinopsis film, ia benar-benar menghayati ceritanya terlebih dahulu. Sebelum merekam lagu ini, Idgitaf diberi kesempatan untuk menonton film tersebut dan mencoba mengekspresikan berbagai perasaan yang bergejolak di hatinya melalui musik. Dalam menciptakan lagu ini, Idgitaf bereksperimen dengan banyak trauma sejarah, seperti jebakan generasi sandwich, yang memaksa banyak orang untuk menunda cita-citanya. Mereka harus menanggung beban ekonomi dan sosial sambil merawat orang tua dan anak.

Menariknya, lagu ini ditulis setelah Idgitaf menyaksikan salah satu adegan film tersebut. Ia terinspirasi oleh kalimat yang diucapkan Kaluna, “Mimpi itu harus tahu diri,” yang menurutnya menggugah perasaan banyak orang. Kalimat “mimpi harus tahu diri” itu adalah salah satu frasa paling menyentuh yang bisa diucapkan seseorang yang kelelahan. Ia bukan kalimat yang lahir dari keputusasaan semata, tetapi dari akumulasi tekanan yang sudah terlalu lama ditahan. Lalu, Idgitaf berhasil menangkap esensi itu dengan sempurna.

Lagu ini merupakan refleksi mendalam tentang beban hidup yang sering kali dirasakan oleh banyak orang, terutama mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich. Lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang menjadi tumpuan bagi banyak orang. Namun, di tengah memberikan begitu banyak untuk orang lain, ia merasa kebingungan dan bertanya-tanya, “Lalu aku bersandar ke mana?” Pertanyaan itu adalah inti dari seluruh lagu ini. Ia bukan pertanyaan yang meminta jawaban. Ia adalah pertanyaan yang menggambarkan kondisi, sebuah kekosongan yang selama ini tidak terucapkan namun dirasakan oleh begitu banyak orang.

Lirik lagu ini menceritakan tentang perasaan tertekan yang dirasakan seseorang akibat beban tanggung jawab yang terlalu besar di lingkungannya. Ia merasa tertekan dan kehilangan arah, mempertanyakan untuk siapa dia hidup dan mengapa harus terus berjuang dalam situasi yang tidak nyaman. Meski harus mengalah dan berdiam diri, ia tetap merasa terpaksa membantu orang lain meskipun tidak diinginkan. Lagu ini memiliki makna ketika seseorang harus terjebak dalam kondisi terjepit dan termasuk dalam generasi sandwich, di mana seseorang tersebut harus terbebani oleh tanggung jawab untuk membiayai hidup keluarga, baik orang tua maupun saudara. Dalam lagunya, Idgitaf berusaha menceritakan kisah perjuangan hidup seseorang yang harus bekerja ekstra keras demi keluarga.

Dalam waktu singkat, lagu ini viral dan menembus hati jutaan pendengar karena berbicara tentang sesuatu yang sangat nyata, namun jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu beratnya menjadi orang yang selalu harus kuat untuk orang lain. Selain itu, lagu ini seolah menjadi refleksi lika-liku kehidupan yang dialami para karakter dalam film. Liriknya yang penuh makna berhasil menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya, khususnya milenial dan Gen Z yang mengalami hal serupa.

Idgitaf berhasil membuktikan bahwa musik bukan hanya tentang hiburan. Dalam tangan yang tepat, musik bisa menjadi cermin, bisa menjadi pelukan, dan bisa menjadi pengingat bahwa di luar sana ada banyak orang lain yang merasakan hal yang sama persis seperti kita. Bahkan terkadang, itulah yang paling kita butuhkan.

Baca Juga: Merayakan Kerinduan yang Teduh Lewat Gala Bunga Matahari

Editor: Ummy Syafitri 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles