
Karya: Safa Nur Hanifah Br. Purba
Hari ini, mataku kembali tertuju
ke satu sudut itu lagi,
menikmati kefanaan yang kuciptakan sendiri.
Aku tahu, ia sedang mengukir jalan
demi dambaan dari bayangan masa kecilnya.
Sedang aku, tertonggok bisu tanpa daya,
membiarkan angin menyapu angan,
tanpa berusaha keras untuk mendekapnya.
Padahal, pohon tidak pernah terburu-buru menjadi tinggi.
Padahal, angin tidak pernah memaksa untuk kuat.
Sebab, pada akhirnya, angin selalu meninggalkan jejak
pada daun-daun.
Lalu, untuk apa kita terlalu khawatir?
Semua yang dijalani memberikan dampak,
semua yang kita tapaki meninggalkan gurat.
Percayalah, angan itu akan mengiringi,
selagi kita percaya pada proses.
Barangkali kita sedang bertumbuh,
seperti angin yang tidak pernah tahu
ke mana ia akan pergi.
Ia hanya tahu,
ia harus bergerak.
Dan mungkin selama ini,
aku bukan sedang kehilangan arah.
Aku hanya sedang mencari jalanku sendiri.
Sebab, tidak semua yang bertumbuh
harus segera terlihat tinggi.
Ada yang lebih dulu mengakar,
ada yang memilih berembus perlahan.
Barangkali kita sedang bertumbuh
dengan cara yang belum sempat kita mengerti.
Baca Juga: Perempuan yang Menganyam Cakrawala
Editor: Ummy Syafitri

