Potret Kelelahan Batin dalam ‘Janji Palsu’ Hindia

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.youtube.com)

Judul: Janji Palsu

Pencipta: Daniel Baskara Putra dan Enrico Octaviano

Penyanyi: Daniel Baskara Putra (Hindia)

Genre: Indie Pop

Tahun Rilis: 2023

Durasi: 4 menit 3 detik

Peresensi: Annisa Natasya

Nama panggung Hindia dari Daniel Baskara Putra sudah tak asing lagi di kalangan anak muda zaman sekarang, dikarenakan lagunya yang mewakili perasaan dari para penggemarnya, musisi yang telah lama dikenal luas dalam skena musik alternatif Indonesia. Lagu yang berjudul “Janji Palsu” merupakan singel pembuka dari album kedua Hindia yang bertajuk “Lagi Pula Hidup Akan Berakhir”, dirilis pada 3 Maret 2023. Lagu ini diproduseri oleh Enrico Octaviano, rekan Hindia di grup Lomba Sihir, yang juga menjadi salah satu dari dua produser utama album ini bersama Kareem Soenharjo. Kontribusi musisi lain turut memperkaya lagu ini, di antaranya Rayhan Noor dan Petra Sihombing pada gitar elektrik, Gamaliel Tapiheru yang mengarahkan vokal sekaligus mengisi vokal latar, serta Adrian Mahendra, kakak kandung Hindia, pada bagian bas.

“Janji Palsu” sebenarnya bukan cerita cinta yang dikhianati seperti yang mungkin terbayang dari judulnya. Lagu ini lebih ke arah keputusasaan dan rasa fana yang dirasakan Hindia dan orang-orang seusianya, semacam perasaan bahwa apa yang sedang dijalani sekarang ini terasa sia-sia dan cuma sementara. Liriknya yang tertulis “Sukses hanya dipinjamkan, dan mungkin aku penyewa yang lihai.” Kalimat ini sederhana, tetapi dalam sekali maknanya. Sukses digambarkan bukan sebagai sesuatu yang dimiliki, melainkan cuma dipinjamkan sementara, dan bisa diambil kapan saja. Rasanya relevan buat siapa pun yang pernah merasa pencapaiannya rapuh, gampang goyah walaupun kelihatannya baik-baik saja dari luar.

Baca Juga: Representasi Dinamika Cinta dalam Lagu “Love Epiphany” oleh Reality Club

Lagu ini juga menceritakan tentang kekecewaan atas harapan dan impian ideal yang tidak sesuai kenyataan. Lagu ini menyoroti tekanan mental akibat standar hidup, tuntutan sosial, serta janji-janji seperti “Semua akan indah pada waktunya” yang terasa hampa dan membebani. Lagu ini juga membahas kekecewaan atas ekspektasi antara angan-angan hidup yang sempurna dan realitas hidup yang berat. Mengkritik standar dan penghakiman publik yang menuntut seseorang untuk selalu sukses atau bahagia, memenuhi standar dan tuntutan dari luar, dapat mengubah hal tersebut menjadi “Janji Palsu” yang membebani, karena tidak pernah benar-benar memberi ruang bagi manusia untuk gagal atau merasa lelah. Lagu ini juga menceritakan tentang kefanaan hidup. Lagu ini mengajak pendengar untuk menyadari bahwa tidak semua berjalan sesuai rencana, dan tidak semua janji akan terwujud. Ilusi dari lagu ini menganggap janji masa depan yang cerah terkadang justru menjadi beban psikologis alih-alih penyemangat.

Melalui lagu ini, mengingatkan kita bahwa pencapaian, popularitas, atau validasi dari orang lain sifatnya sementara. Kalau kita terlalu menempelkan identitas diri pada hal-hal itu, ketika semuanya hilang kita bisa merasa kosong. Lagu ini juga mengungkapkan bahwa perasaan dan kestabilan seseorang tidak seharusnya dijadikan konten atau tontonan, yang terkadang menjadi sering dikonsumsi, dikomentari, bahkan dijadikan lelucon tanpa empati oleh budaya media sosial sekarang. Lagu ini mengajak pendengar untuk lebih jujur pada diri sendiri, sekaligus lebih pelan-pelan dan berempati saat menilai orang lain, karena kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang mereka pikul.

 

Dari segi musik, lagu ini dibawakan dengan tempo sedang tetapi terasa agresif, jadi bukan lagu galau yang mendayu-dayu. Pilihan ini pas sekali dengan nada liriknya yang getir tetapi tidak terlalu berlarut. Gitar elektriknya terasa tajam, vokal latarnya menambah lapisan yang membuat lagu ini terdengar padat, seolah menggambarkan sesaknya pikiran yang sedang berkecamuk.

Lirik lagu :

Sukses hanya dipinjamkan

Dan mungkin aku penyewa yang lihai

Hidup dalam angan-angan

Di dalam kepala sibuk bertikai

Cinta dan hal banal lain

Disobek bagaikan kain

Dijual sesuai berat

Dipakai untuk bermain

Semua tak terkecuali

Hingga nihil direduksi

Jadi produk nan terkini

Sekecil serbuk gergaji

Kata-kata kosong yang kerap kujual

Kali ini menuntut tumbal

Per hari ini kita semua mati rasa

Atas berbagai lirik berisi semesta

Yang berkata semua indah pada waktunya

Kau tahu hidup ini tak ada artinya

Dijual grosir oleh yang kanan

Dimaki habis di jaringan kiri

Dilepeh najis oleh yang mapan

Ditekan habis bak anak tiri

Batinku sebatas bahan

Guyon, gelak tawa kalian

Imanku sebatas bahan

Makian peradaban, bosan

Kurasa kau takkan takut malam ini

Melihat namamu jadi target caci maki

Seringku berfantasi untuk bunuh diri

Agar kau merasa bersalah sampai mati

Per hari ini kita semua mati rasa

Atas berbagai lirik berisi semesta

Yang berkata semua indah pada waktunya

Kau tahu hidup ini tak ada artinya

Kau tahu, ku tak minta dilahirkan juga

Ku tahu semua uang ini tak berasa

Ku tahu karir ini tak ada artinya

Kesuksesanku dipinjamkan sementara

Janji palsu dunia

Baca Juga: Menangkap Esensi Kebahagiaan dan Debaran Cinta Remaja Lewat NCT Wish

Editor: Ummy Syafitri 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles