
Judul: Janji Palsu
Pencipta: Daniel Baskara Putra dan Enrico Octaviano
Penyanyi: Daniel Baskara Putra (Hindia)
Genre: Indie Pop
Tahun Rilis: 2023
Durasi: 4 menit 3 detik
Peresensi: Annisa Natasya
Nama panggung Hindia dari Daniel Baskara Putra sudah tak asing lagi di kalangan anak muda zaman sekarang, dikarenakan lagunya yang mewakili perasaan dari para penggemarnya, musisi yang telah lama dikenal luas dalam skena musik alternatif Indonesia. Lagu yang berjudul “Janji Palsu” merupakan singel pembuka dari album kedua Hindia yang bertajuk “Lagi Pula Hidup Akan Berakhir”, dirilis pada 3 Maret 2023. Lagu ini diproduseri oleh Enrico Octaviano, rekan Hindia di grup Lomba Sihir, yang juga menjadi salah satu dari dua produser utama album ini bersama Kareem Soenharjo. Kontribusi musisi lain turut memperkaya lagu ini, di antaranya Rayhan Noor dan Petra Sihombing pada gitar elektrik, Gamaliel Tapiheru yang mengarahkan vokal sekaligus mengisi vokal latar, serta Adrian Mahendra, kakak kandung Hindia, pada bagian bas.
“Janji Palsu” sebenarnya bukan cerita cinta yang dikhianati seperti yang mungkin terbayang dari judulnya. Lagu ini lebih ke arah keputusasaan dan rasa fana yang dirasakan Hindia dan orang-orang seusianya, semacam perasaan bahwa apa yang sedang dijalani sekarang ini terasa sia-sia dan cuma sementara. Liriknya yang tertulis “Sukses hanya dipinjamkan, dan mungkin aku penyewa yang lihai.” Kalimat ini sederhana, tetapi dalam sekali maknanya. Sukses digambarkan bukan sebagai sesuatu yang dimiliki, melainkan cuma dipinjamkan sementara, dan bisa diambil kapan saja. Rasanya relevan buat siapa pun yang pernah merasa pencapaiannya rapuh, gampang goyah walaupun kelihatannya baik-baik saja dari luar.
Baca Juga: Representasi Dinamika Cinta dalam Lagu “Love Epiphany” oleh Reality Club
Lagu ini juga menceritakan tentang kekecewaan atas harapan dan impian ideal yang tidak sesuai kenyataan. Lagu ini menyoroti tekanan mental akibat standar hidup, tuntutan sosial, serta janji-janji seperti “Semua akan indah pada waktunya” yang terasa hampa dan membebani. Lagu ini juga membahas kekecewaan atas ekspektasi antara angan-angan hidup yang sempurna dan realitas hidup yang berat. Mengkritik standar dan penghakiman publik yang menuntut seseorang untuk selalu sukses atau bahagia, memenuhi standar dan tuntutan dari luar, dapat mengubah hal tersebut menjadi “Janji Palsu” yang membebani, karena tidak pernah benar-benar memberi ruang bagi manusia untuk gagal atau merasa lelah. Lagu ini juga menceritakan tentang kefanaan hidup. Lagu ini mengajak pendengar untuk menyadari bahwa tidak semua berjalan sesuai rencana, dan tidak semua janji akan terwujud. Ilusi dari lagu ini menganggap janji masa depan yang cerah terkadang justru menjadi beban psikologis alih-alih penyemangat.
Melalui lagu ini, mengingatkan kita bahwa pencapaian, popularitas, atau validasi dari orang lain sifatnya sementara. Kalau kita terlalu menempelkan identitas diri pada hal-hal itu, ketika semuanya hilang kita bisa merasa kosong. Lagu ini juga mengungkapkan bahwa perasaan dan kestabilan seseorang tidak seharusnya dijadikan konten atau tontonan, yang terkadang menjadi sering dikonsumsi, dikomentari, bahkan dijadikan lelucon tanpa empati oleh budaya media sosial sekarang. Lagu ini mengajak pendengar untuk lebih jujur pada diri sendiri, sekaligus lebih pelan-pelan dan berempati saat menilai orang lain, karena kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang mereka pikul.
Dari segi musik, lagu ini dibawakan dengan tempo sedang tetapi terasa agresif, jadi bukan lagu galau yang mendayu-dayu. Pilihan ini pas sekali dengan nada liriknya yang getir tetapi tidak terlalu berlarut. Gitar elektriknya terasa tajam, vokal latarnya menambah lapisan yang membuat lagu ini terdengar padat, seolah menggambarkan sesaknya pikiran yang sedang berkecamuk.
Lirik lagu :
Sukses hanya dipinjamkan
Dan mungkin aku penyewa yang lihai
Hidup dalam angan-angan
Di dalam kepala sibuk bertikai
Cinta dan hal banal lain
Disobek bagaikan kain
Dijual sesuai berat
Dipakai untuk bermain
Semua tak terkecuali
Hingga nihil direduksi
Jadi produk nan terkini
Sekecil serbuk gergaji
Kata-kata kosong yang kerap kujual
Kali ini menuntut tumbal
Per hari ini kita semua mati rasa
Atas berbagai lirik berisi semesta
Yang berkata semua indah pada waktunya
Kau tahu hidup ini tak ada artinya
Dijual grosir oleh yang kanan
Dimaki habis di jaringan kiri
Dilepeh najis oleh yang mapan
Ditekan habis bak anak tiri
Batinku sebatas bahan
Guyon, gelak tawa kalian
Imanku sebatas bahan
Makian peradaban, bosan
Kurasa kau takkan takut malam ini
Melihat namamu jadi target caci maki
Seringku berfantasi untuk bunuh diri
Agar kau merasa bersalah sampai mati
Per hari ini kita semua mati rasa
Atas berbagai lirik berisi semesta
Yang berkata semua indah pada waktunya
Kau tahu hidup ini tak ada artinya
Kau tahu, ku tak minta dilahirkan juga
Ku tahu semua uang ini tak berasa
Ku tahu karir ini tak ada artinya
Kesuksesanku dipinjamkan sementara
Janji palsu dunia
Baca Juga: Menangkap Esensi Kebahagiaan dan Debaran Cinta Remaja Lewat NCT Wish
Editor: Ummy Syafitri

