MHTI; Potensi Intelektual Muda Terancam

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Dok. Panitia
Foto : Dok. Panitia

Medan, Dinamika Online – Menurut Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) saat ini potensi intelektual muda muslim terancam, sebagai wujud dari keprihatinan mereka, ratusan intelektual muda dari seluruh kampus di Medan Sumatera Utara dihadirkan dalam kongres mahasiswi Islam untuk peradaban II di Pendopo USU, Minggu (23/10).

Dalam kongres ke-2 yang mengangkat tema “Reaktualisasi Peran Intelektual Muda untuk Mewujudkan Kembali Peradaban Islam”, MHTI serta merta melayangkan pernyataan sikap terhadap pembajakan hak-hak intelektual muda Indonesia.

Setidaknya terdapat 3 poin dalam pernyataannya, Pertama sistem kapitalisme telah terbukti menjadi penyebab krisis identitas pemuda muslim. Kedua, arah pemberdayaan pemuda saat ini berorientasi memenuhi tuntutan pasar global hanya akan melanggengkan hegemoni rezim kapitalisme dan menghalangi penerapan sistem Islam yang mampu menjadi solusi tuntas. Ketiga, hanya sistem khilafah yang berkomitmen penuh untuk menempatkan khilafah dalam posisi terhormatnya di masyarakat.

Menurut Asmaul Husna selaku ketua DPD I MHTI dalam sambutannya, mahasiswa dan mahasiswi sebagai intelektual muda di negeri mayoritas muslim ini telah kehilangan identitasnya. “Kaum intelektual mati rasa dan kehilangan kepekaan sosial atas kesengsaraan, ketidakadilan dan kerusakan yang terjadi di masyarakat akibat penerapan sistem kapitalisme,” ungkap Asmaul Husna.

Alih-alih menjadi motor penggerak utama perbaikan masyarakat ke arah Islam, mereka justru terbelenggu oleh berbagai tuntutan akademis, pola pikir pragmatis, dan gaya hidup bertentangan dengan Islam.

Memasuki materi pertama Veronicha Alfira selaku Koordinator Lajnah Khusus Mahasiswi Muslimah Hizbut Tahrir Sumut mengajak seluruh mahasiswi yang hadir untuk kembali mengingat masa kejayaan Islam di masa lalu yang dikobarkan oleh semangat para pemudanya.

Di antaranya Ali Bin Abi Thalib di usia ke-13 tahun menjadi pemuda pertama yang beriman kepada Rasulullah. Usamah bin Zaid pada usia 18 telah menjadi panglima perang termuda memimpin pasukan menghadapi Romawi. Ibnu Sina yang telah menjadi doktor di usia 18 tahun, dan yang tidak kalah membanggakannya Sutan Muhammad Al-Fatih yang sukses menaklukkan Konstantinopel di usia 20 tahun.

Sepenggal kisah para intelektual di masa itu membuat MHTI Sumut merasa prihatin dengan kondisi intelektual muda saat ini, “Masa intelektual muda kini jauh dari sosok duta kebenaran Islam kaffah, yang lebih mengerikan lagi adalah tersiratnya istilah jika tak mau disebut teroris maka jadilah duta Islam moderat,” pungkas Veronicha.

Pemateri kedua Dewi Waty S.Si selaku perwakilan dari DPD 2 MHTI Sumut menuturkan bahwa saat ini pemuda sendiri silau melihat syariah yang diterapkan. Ia juga mengibaratkan bahwa saat ini pemuda/i telah terjangkiti islamophobia atau syariahphobia, oleh karena itu kongres ke-2 ini menuturkan empat kunci kesuksesan untuk merubah masyarakat kini menjadi masyarakat Islam.

“Pertama, keberadaan kelompok dakwah mutlak diperlukan, terdapat fikrah dan thariqah (konsep dan metode) yang jelas dan komprehensif. Terbentuknya opini umum yang terlahir dari kesadaran umum, dan keempat dukungan rill di masyarakat (ahlu quwwah),” papar Dewi Waty.

Sebagai bentuk kepedulian mahasiswi terhadap kondisi bangsa saat ini, acara ini ditutup dengan penandantangan kesepakatan yang isinya akan di-follow up pada tanggal 27 Oktober dengan langsung turun ke jalan atau muhasabah kepada penguasa (masirah).

Reporter         : Safitri Adriani Nasution

Editor             : Nurtiandriyani S

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles