Addin 300: TikTok dalam Kacamata Islam

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Muskita Khairunnisa
- Advertisement - jd

Penulis: Lanma Hasibuan

Siapa yang tidak mengenal aplikasi sosial media bernama Tik Tok. Semua kalangan baik muda-tua hingga anak kecil sekalipun pasti pernah menggunakan aplikasi berbentuk platform video musik ini. Tik Tok pertama kali dirilis pada September 2016 oleh Zhang Yimin warga kenegaraan Tiongkok dibawah bendera perusahaan Bytedance, dan hingga saat ini Tik Tok telah meraih kesuksesan yang luar biasa hingga menobatkan sang pendiri-Zhang Yimin- sebagai orang terkaya di Cina nomor  sembilan.

Melansir dari Detik Finance, Tik Tok saat ini sudah memiliki lebih dari 500 juta pengguna diseluruh dunia. Perusahaan Bytedance yang menaungi aplikasi musik ini akhirnya pun banyak mendapat perhatian karena fakta tersebut. Sehingga perusahaan Cina tersebut dinobatkan sebagai startup paling berharga di dunia.

Lalu seperti apakah sebenarnya Tik Tok ini hingga banyak digandrungi oleh kawula muda hingga kaum tua sekalipun? Tik Tok adalah sebuah aplikasi yang memberikan spesial efek unik dan menarik yang memungkinkan penggunanya membuat video pendek yang didukung oleh latar belakang musik yang bervariasi sesuai keinginan penggunanya. Dengan dukungan tersebut pengguna dapat melakukan sebuah performanya dengan tarian, nyanyian ataupun yang lainnya.

Namun sebelum membuka aplikasi yang satu ini, pernahkah dalam hati kita untuk merenung sejenak tentang apa manfaat dan kegunaan aplikasi ini. Memang sepele, namun sangat perlu untuk direnungkan.

Islam merupakan agama yang paling teliti, yang mana pengikutnya dianjurkan untuk berhati-hati sebelum menggunakan, memakai ataupun memakan sesuatu. Sama halnya dengan Tik Tok. Sebelum menggunakan aplikasi buatan Cina ini kita perlu mengetahui apa manfaatnya. Adakah kita menjadi dekat  kepada Allah Subhanahu Wata’ala atau adakah kita menjadi manusia-manusia yang gemar berbuat baik karenanya?

Anjuran melakukan sesuatu atas dasar manfaatnya termaktub dalam hadist hasan yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi yang artinya:

“Diriwayatkan dari Abi Humairah- semoga Allah meridhainya ia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda “Termasuk baik Islam seseorang adalah jika ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Hadist ini mengandung makna bahwa diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat berupa perkataan ataupun perbuatan (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1:288).

Nah, jika hanya sekedar menghabiskan waktu dengan menari-nari tak tentu sebaiknya kita hindari. Dan sejauh ini, Tik Tok tak memberi kontribusi apapun. Malah membuat remaja-remaja sekarang lupa akan waktu dan terlena.

Walaupun memiliki manfaat, hal ini sama sekali tidak sebanding dengan keburukan yang ditimbulkan. Contohnya seperti, banyaknya remaja yang membuat konten-konten negatif dan konten yang bahkan tak memiliki manfaat apapun. Yang kemudian disebarluaskan di media sosial, dilihat oleh orang-orang dari berbagai kalangan, yang bahkan tak jarang penontonnya adalah anak kecil, hingga akhirnya mendorong mereka untuk melakukan hal yang serupa (membuat video dengan konten negatif). Tentu ini adalah hal yang sangat jauh dari kata baik, dan bukan sesuatu yang pantas untuk dibudayakan, di Indonesia, khususnya bagi para pemeluk agama Islam.

Dan perlu untuk diketahui, bahwa Tik Tok sendiri pernah di blokir di Indonesia dan di berberapa negara karena di anggap melanggar hukum privasi anak. Tik Tok kemudian bangkit setelah melakukan kampanye keamanan daring.

Tidak hanya pernah bermasalah di Indonesia, Tik Tok  juga pernah bermasalah di Negara asalnya yaitu Tiongkok. Pemerintah Tiongkok pernah memaksa aplikasi ini untuk berhenti menayangkan sebuah iklan yang dinilai menghina salah satu pahlawan nasional Tiongkok pada tahun 2018 kemarin.

Khususnya untuk kaum Muslimah Tik Tok harusnya menjadi sebuah sarana yang harus dijauhi, karena kaum Muslimah terlalu berharga jika hanya menari-nari, berlenggak-lenggok tak jelas di Tik Tok demi sebuah sensasi. Kaum Muslimah harus punya rasa malu. Bukankah rasa malu adalah sebagian dari Iman? Siapa yang tidak memiliki rasa malu lagi silahkanlah berbuat semaunya.

Memang betul Tik Tok tidak menyebabkan gangguan kesehatan apapun, namun dampak Tik Tok berpotensi merusak akhlak dan moral karakter generasi bangsa. Kenapa disebut merusak, karena konten-konten yang dibuat dalam aplikasi yang satu ini selalu tak jauh dari konten-konten tidak bermanfaat yang tak jelas tujuannya bahkan pernah sampai ke konten pornografi.

Selain itu, Tik Tok juga berpotensi menjadi media bullying karena penggunanya yang meng-upload video tentang diri mereka. Ada yang akan terkenal namun ada juga yang akan menjadi sasaran bullying karena perilaku berlebihan dari pihak lain. Kita tentu tidak mau jika diri kita atau salah satu keluarga kita menjadi korban Bullying.

Islam tidak membenarkan adanya bullying, karena menghina sesama manusia berarti sama dengan menghina Allah Swt sebagai pencipta. Karena apa yang dihina adalah ciptaan Allah Swt.

Selain bullying, Tik Tok juga berpotensi memicu sikap narsisme. Sikap membanggakan diri sendiri dengan cara yang berlebihan bahkan bisa sampai pada kadar merendahkan diri sendiri. Hanya demi sebuah like, pengguna Tik Tok rela melakukan apapun, diantaranya pernah ada yang melakukan gerakan Shalat yang diiringi musik. Bahkan yang lebih parah, seorang pengguna pernah membuat video Tik Tok di depan jenazah saudaranya sendiri hanya demi sebuah like.

Pantas saja Ustad Abdul Somad dalam sebuah ceramahnya pernah mengatakan bahwa Tik Tok harus ditinggalkan karena tidak memiliki manfaat apapun. Kalaupun ada manfaatnya tak sebesar mudharatnya.

Jadi demikianlah Islam telah mengatur pemeluknya untuk melakukan sesuatu yang bernilai, sesuatu yang memiliki manfaat. Bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat untuk orang lain dan sekeliling kita.

Waktu lebih tajam dari sebuah pedang, jadi pergunakan waktu itu untuk sesuatu yang bermanfaat. Karena jika waktu yang diberikan telah habis maka penyesalan yang akan menjadi akhirnya. Nikmat yang paling besar dan sering dilalaikan manusia adalah nikmat mendapatkan waktu luang dan nikmat kesehatan.

Jadi, mumpung kita masih diberikan waktu luang dan kesehatan, maka marilah sama-sama kita menggunakannya untuk sesuatu yang berguna. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari.

(Mahasiswi Semester 2 Fakultas Tarbiyah, Jurusan Tadris Bahasa Inggris)

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles