Addin 399: Salat Mengubah Hidupmu

- Advertisement - Pfrasa_F
(Illustrator: Rodiatul Adawiyah)

Penulis : Zidan Syahira

- Advertisement - jd

Permasalahan tentang salat tentu saja sudah sangat banyak beredar di tempat-tempat atau di media-media mana pun. Di mana pembicaraannya juga tak pernah lepas dari ajakan untuk senantiasa mengingatkan tentang kewajiban dan dampak baik dari salat. Dari sekian banyak bentuk ajakan itu, salah satunya adalah ajakan merubah diri.

Ajakan dengan pernyataan seperti itu, mungkin sudah tidak asing lagi terdengar. Musabab, ini juga sering menjadi bahan perdebatan yang kontravensi. Beberapa menyatakan bahwa memang benar adanya kalau salat dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, beberapa lainnya menyatakan kehidupannya tetap sama saja sulit, bahkan setelah ia menjalankan kewajiban salat tersebut. Sehingga, pada akhirnya ia menyerah dan kembali kepada jalan suram yang sebelumnya telah ia jalani.

Hal itulah yang menjadi permasalahan bagi banyak orang saat ini. Selain itu, kontravensi tersebut juga menjadi fokus penulis dalam menyelesaikan penulisan ini. Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an Surat al-Ankabut ayat 45 yang artinya: 

Bacalah apa yang telah diwahyukan (Allah) kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 

Dari ayat tersebut, dapat kita ketahui bagaimana kehakikian dari suatu ibadah salat. Ayat ini pula yang menjadi bukti kebenaran bahwa benar adanya kalau salat dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik lagi. Untuk itu, di sini penulis akan coba memaparkan tahapan-tahapan bagaimana salat itu dapat mengubah kehidupan seseorang.

Dirikan salat dengan niat yang ikhlas

Sebagai tahapan yang pertama, tentu saja mendirikan salat adalah hal yang harus dilakukan, bukan? Nah, mengapa ini tetap perlu dimasukkan lagi sebagai suatu proses? Berdasarkan pengamatan saya dengan lingkungan pertemanan saya, banyak sekali orang-orang yang berbicara tentang salat, tetapi malah sering lupa juga untuk melaksanakannya. Berbicara panjang lebar tanpa mengandung nilai-nilai kebijaksanaan, tentu saja hal inilah yang sebenarnya menimbulkan pro-kontra dan juga dapat menjadi perbuatan buruk yang menentang ayat-Nya.

Dalam mendirikan salat, selain pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang tata cara, hukum, dan lainnya, tentu juga dibutuhkan niat yang ikhlas pula. Mengapa? Karena pada dasarnya dalam mendirikan salat, selain melaksanakan kewajiban, saalat juga dapat dijadikan sarana ataupun media penenang hati yang  paling bagus di antara sarana lainnya. Inilah yang dapat membawakan seseorang dapat dicegah hatinya dari niatan-niatan buruk, keji dan mungkar. 

Paksakan Diri untuk Terbiasa Mendirikan Salat

Selanjutnya, setelah mengambil langkah pertama, tentu saja kita harus menguatkan keyakinan dalam diri agar tetap memiliki kemauan dan niat yang besar di langkah-langkah selanjutnya. Untuk menjaga kemauan dan niat yang besar itu pula kebanyakan orang merasakan banyak kesulitan. Hal ini bisa terjadi karena,  kurangnya dorongan yang kuat dalam diri untuk tetap menjaga sesuatu yang telah kita mulai. Untuk itu, memanglah diperlukan yang namanya paksaan agar niat dari langkah pertama tersebut tetap terjaga di langkah-langkah berikutnya.

Nantinya, dengan keterpaksaan yang bersungguh-sungguh itu pula Allah Subhanahu wa taala akan membawakan kita kepada jalan-jalan yang diridai-Nya. Hal ini seperti yang disebutkan Allah Subhanahu wa taala dalam Q.S. al-Ankabut ayat 69 yang artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.

Jadikan salat sebagai penjaga ketenangan hati

Menjadikan salat sebagai suatu hal yang dapat menjaga ketenangan hati, tidak jauh artinya dengan salat dapat mencegah perbuatan munkar. Ini dikarenakan, ketidaktenangan hati adalah awal mula dari munculnya berbagai fikiran, niatan, dan hasrat negatif yang akhirnya bisa membawa seseorang untuk melakukan hal-hal yang buruk.

Untuk mengatasi hal itu, salat dapat dijadikan sebagai penjaga ketenangan hati. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sendiri pun juga selalu mengandalkan salat sebagai kunci ketenangan hati. Setiap beliau mendapati berbagai macam masalah, salat selalu menjadi solusinya. Hal ini dapat dilihat di hadis dari sahabat Hudzaifah RA, ia berkata: “Bila kedatangan masalah, Nabi Shallallahu alaihi wasallam  mengerjakan salat.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad [5/388] dan Abu Dawud [2/35]. Dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Salat Sebagai Bentuk Syukur

Jika salat sudah dapat dijadikan sebagai media penenang hati, maka itu adalah sebagai bentuk nikmat dan rahmat kepada hamba-Nya. Dari nikmat itu pula, kita sebagai hamba-Nya haruslah mensyukuri apa yang telah diberikan. Dari berbagai macam ceramah yang sering saya dengar dikatakan bahwa, jika ada seorang hamba yang telah mencapai titik ini, maka ia telah mendapatkan salah satu nikmat tertinggi dari mendirikan ibadah salat yang mampu membentuk karakternya menjadi lebih baik dan terus membaik lagi.

Lalu, sebagai penjaga atas nikmat itu, hendaklah kita mampu bersyukur dengan menjadikan ibadah salat sebagai bentuk syukur juga. Karena Allah Subhanahu wa taala juga menyampaikan di dalam Q.S. Ibrahim ayat 7: “Bahwa jika ada seorang hamba yang mau bersyukur, maka akan Allah tambah nikmat tersebut”.

Nah, jika kita sudah merasa melalui tahapan-tahapan di atas. Hendaklah kita menjaga salat tidak hanya ketika sedang mendirikan ibadah salat itu. Kemudian, mampu menjaga salat itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kita senantiasa mengamalkan apa-apa saja yang kita bacakan, kita lantunkan dengan nada indah, kita zikirkan, dan kita langitkan di kehidupan kita sehari-hari.

Dengan demikian, tahapan-tahapan itulah yang menurut penulis, bisa menjadikan salat sebagai ibadah yang dapat merubah diri seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Pribadi yang mampu menahan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Biodata Penulis: 

  • Nama : Zidan Syahira
  • Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam
  • Fakultas : Dakwah dan Komunikasi
  • Semester : III
  • Instagram : @zidansyahira
- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles