Addin Edisi 272: Tiket Menuju Surga

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Ditanty Chicha Novri
- Advertisement - jd

Oleh: Mellyza Astari Butar-butar

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga. Tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungannya.” (QS. An Nur: 39)

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sisi kebaikan, walaupun ada tingkat istikamah dalam mengharap rida Allah berbeda-beda. Begitu juga orang kafir, mereka berharap amal-amal yang mereka lakukan selama ini di dunia kelak bisa menolong mereka di akhirat. Namun, di sinilah letak perbandingan antara muslim dan kafir, yaitu masalah keimanan. Syaat yang mutlak amal ibadah diterima adlah mempercayai bahwa Allah Swt. adalah tuhan yang esa dan Rasulullah adalah Nabi Allah. Kaum kafir menutup diri mereka dengan kebenaran ini. Mereka tidak mengakui bahwa Allah lah yang maha Esa dan Nabi Muhammad adalah Nabi Allah. Sehingga yang mereka dapat hanyalah siksa api neraka atas kekafiran mereka.

Terkadang kita merasa heran, mengapa orang yang nyatanya tak kafir tetapi hidupnya malah bergelimang kenikmatan di dunia ini. Mempunyai mobil yang mewah, rumah layaknya istana, bisnis di mana-mana, investasi selalu berjalan. Sedang kan sebagian orang beriman yang selalu mengharapkan rida dari Allah selalu mendapatkan cobaan dari terkadang serba kekurangan.

Allah Swt. telah merencanakan sesuatu yang jauh dari dugaan manusia. Allah tidak memberikan hadiah kepada orang-orang beriman di dunia ini hanyalah tempat persinggahan saja sebelum menuju tempat sesungguhnya yaitu setelah kematian. Allah member imbalan kepada orang-orang yang selalu melakukan kebaikan ketika di akhirat, sedangkan orang-orang kafir akan mendapatkan siksa yang pedih ketika ia berada di alam setelah kematian datang. Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Ia menyempurnakan azab atas dosa-dosanya di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan kepada seseorang (karena dosa-dosanya) DIa menunda azabnya di dunia ini, sehingga di akhirat Dia akan menyempurnakan azabnya,” (HR. Tirmidzi).

Harta yang Allah berikan di dunia ini juga termasuk alat dalam proses ujian dilaksanakan. Apabila harta yang dititipkan itu dijaga dan disalurkan dengan baik atau tidak, ketika kita berpikir mengapa Allah yang maha mengetahui dan maha bijaksana memberikan ujian kepada hambanya yang sebenarnya Allah telah mengetahui apakah manusia itu bisa melewatinya atau malah gagal. Kita ibaratkan ketika seorang guru memberikan soal yang jawabannya dirahasiakan terhadap murid-muridnya. Kemudia semua murid mencoba menemukan jawaban yang benar. Sebenarnya guru tersebut sudah mengetahui mana murid yang dapat lulus dalam ter itu dan mana yang tidak. Namun ia memberikan kesempatan kepada murid lain apakah ia mau berusaha menemukan jawaban itu, dan apakah murid yang cerdas bisa istikamah terhadap jawabannya? Di sinilah begitu Maha Bijaksananya Allah. Allah tidak akan memberikan jawaban yang benar, melainkan melihat kesungguhan umatnya ketika menghadapi ujian.

Rasulullah Saw. bersabda: “siapakah yang menjadikan dunia sebagai kepentingannya, Allah akan memisahkan urusannya dengannya, dan menjadikan kefakiran di antara kedua matanya, dan (kekayaan) dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditulis (ditakdirkan) baginya. Siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan mempersatukan urusannya, Dia jadikan kekayaan dalam hatinya dan di dunia akan mendatanginya dan ia (dunia) merasa segan (kepadanya).”

Manusia adalah makhluk yang sangat mencintai dunia kecuali hamba-hamba Allah Swt. yang terpilih. Allah Swt. tidak menyukai manusia yang mencintai dunia karena ia kan membua seseorang melupakan akhirat dan kecintaan terhadap dunia tidak akan menjadi kebaikan di masa depan.

Allah memberikan ujian kepada manusia layaknya musafir yang harus melewati gurun pasir yang tandus. Pandangan terhadap panjangnya jalan yang mulai kabur, rasa dahaga yang sudah tidak tertahan lagi. Di sini titik uji yang Allah berikan yang nilainya sangat besar ketika kita bisa melewatinya. Allah memberikan balasan bagi orang-orang beriman dan selalu berdoa kepada Allah berupa hadiah istimewa yang pada dasarnya itu bukanlah apa-apa dari besarnya kuasa Allah. Namun bagaimana dengan meeka yang menutup dirinya atas Maha Kuasanya Allah?

Para penyembah berhala diibaratkan orang-orang yang minum air dari telapak tangannya, namun telapak tangan itu dibiarkan terbuka, sehingga tak ada satu pun air yang tersisa di telapak tangannya. Artinya dia ereka kepada berhala adalah sia-sia. Begitulah gambaran penyembah berhala. Walaupun beribu-ribu kali mereka meminta tetapi itu tidak akan membuahkan hasil, sia-sia. Bagaimana bisa patung mengabulkan doa mereka sedangkan patung pun tidak bisa mendengar.

Kehidupan di dunia ini hanyalah senda gurau belaka, Allah menciptakan kesedihan dan juga kegembiraan. Di detik ini manusia bisa sangat bergembira namun pada detik berikutnya bisa sangat bersedih. Tidak ada kesedihan yang kekal di dunia ini, begitu pula kegembiraan yang terus menerus. Semua ada batas waktunya. Hanya orang-orang yang gagal melewati ujian dari Allah yang terperdaya dengan kesenangan dunia semata.

Allah ciptakan dunia dengan keindahan, gunung-gunung berjejer, birunya danau terbentang sepanjang mata memandangan. Semua itu tak bertahan lama. Hingga kahirnya kehancuran akan datang menghempaskan semua yang ada di dunia ini.

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah semester V, Fakultas Syariah dan Hukum.

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles