Addin Edisi 273: Kehilangan Allah SWT ?

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Oleh: Afrillia Arizona

Dengan tingkat sadar atau tidak apa kau pernah merasa kehilangan? Ini bukan tentang kehilangan kekasih, harta, ataupun jabatan, tetapi lebih dari itu semua, kehilangan apa yang tidak kau lihat tapi kau rasakan, rasa sedih dan resah timbul tanpa sebab.

Bahagia sukar membuatmu bersyukur dan sadar dari mana kebahagiaan itu datang, namun ketika kau merasa sedih, kau ringkih memohon diringankan masalah. Bagaimana bisa?, padahal Allah tidak akan mungkin memberi masalah di luar batas kemampuanmu, Allah tahu kau mampu. Dia hanya menguji ke taatanmu mampukah kau tetap bersabar saat ditimpa masalah?, apakah kau masih mampu bersyukur saat diberikan ujian?, apakah kau yakin Dia selalu bersamamu?.

“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43)

Dia tidak akan meninggalkanmu, meski kau terus jauh meninggalkan-Nya, Dia yang membuatmu menangis lalu menarik tangismu dengan kebahagiaan dan selalu memperlihatkan hidayahnya kepadamu, namun mata hatimu enggan dan masih tertutup rapih tanpa celah. Berkacalah pada kisah Fira’un dan Nabi Musa, bagaimana Allah masih memberikan kesempatan untuk Fira’un bertaubat, Allah perintahkan Nabi Musa kala itu mengingatkan Fira’un ketika dia mengaku dirinya adalah Tuhan, namun dia menantang Nabi Musa dengan kesombongan sampai pada akhirnya Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.

“Pergilah kau kepada Fira’un, sesungguhnya dia telah melampaui batas (17), dan katakanlah kepada Fira’un ‘adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri dari kesesatan’ (18), dan kamu akan ku pimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya (19), lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar (20), tetapi Fira’un mendustakan dan mendurhakai (21), Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang Musa (22), maka dia mengumpulkan pembesar-besarnya lalu berseru memanggil kaumnya (23), seraya berkata ‘akulah tuhanmu yang paling tinggi’ (24), maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia (25)” (QS. An-Naziat: 17-25).

Ketika kau mengaku Islam dan taat, kau mengaku Allah ada tetapi hati masih sering gelisah memikirkan dunia yang fana, begitulah tanda kau telah kehilangan Allah, yang mebuat kau kehilangan-Nya bukan siapapun, tetapi dirimu sendiri, karena sejatinya Allah selalu bersama dengan kita.

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40).

Lalu, apa pernah kau merasa ibadahmu tidak mendatangkan ketenangan dan kedamaian, maka itu juga tanda kau sedang kehilangan Allah, menjadikan salat sebagai kewajiban bukan kebutuhan adalah perspektif yang salah, saat salat kau tidak menemukan Allah di dalamnya, tidak jarang salatmu hanya berisikan dunia di kepalamu, bukan memperindah makna-makna kata yang kau ucapkan dalam salatmu, sejatinya salatmu adalah kebutuhan hidup batinmu. Maka, salatlah dengan niat yang tulus, memaknai setiap kata indah dalam ayat suci yang kau baca, dan salatlah seolah-olah kau akan mati setelahnya.

Meski, terkadang ada saat dimana kau merasa jatuh dan futur, itu adalah hal wajar karena manusia adalah tempat salah dan khilaf, namun tugasmu adalah terus ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).

Beberapa cara ikhtiar agar selalu istiqamah;

  1. Bertemanlah dengan orang-orang saleh

“Wahai orang-orang yang beriman!, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Dirimu akan digambarkan sesuai dengan siapa kau berteman, seperti sebuah perumpamaan berteman dengan penjual minyak wangi kau akan mendapatkan percikan harum minyak wangi dan berteman dengan penjual besi kau akan mendapatkan percikan api dan bau asap yang tidak sedap. Teman yang saleh akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan hingga pertemanan akan tumbuh abadi sampai di syurga.

2. Mendatangi majelis-majelis ilmu

Ilmu adalah kunci dari kebaikan, sebagai sarana untuk menunaikan apa yang Allah perintahkan, tidak sempurna keimanan dan tidak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu, karena amal tanpa ilmu akan kosong dan ilmu dengan amal akan sempurna. Maka, ketika kau dengar, kau melaksanakannya.

“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan (perkara) di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, ‘kami mendengar dan kami taat. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An-Nur :51)

Membuat jadwal rutin untuk pergi ke majelis ilmu adalah salah satu faktor paling berpengaruh dalam menghindari ketidak istikamahannya seseorang.  Futurnya seseoarang tidak akan tumbuh jika terus disirami dengan nasehat-nasehat. Seperti tanaman yang dipupuk dan disirami maka akan terus tumbuh dengan indah. Banyak keutamaan untuk orang-orang yang menuntut ilmu yaitu ilmu menyebabkan dimudahkan jalan menuju surga, ilmu adalah warisan para Nabi, orang yang berilmu akan Allah angkat derajatnya, dan akan menjadi amal jariyah ketika kau membagikannya untuk orang lain, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Maka dari itu setiap muslim wajib untuk mempelajari ilmu agama sebagai bekal untuk menuju akhirat. Seperti pepatah mengatakan, “Kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina.”

3. Konsisten dalam beribadah

Beribadahlah hanya karena Allah SWT, luruskan niat, karena tidak sedikit orang yang hanya ingin terlihat baik dimata manusia tapi tidak dihadapan Allah SWT, dan Allah menyukai amalan yang dilakukan secara terus menerus dan berlanjut untuk membangun ladang pahala dan menjadi perantara dalam mendekatkan diri kepada Allah, daripada amalan yang dilakukan secara tanggung dan tidak berkelanjutan.

Selain ikhtiar, doa juga salah satu senjata paling ampuh untuk menuju sikap istiqamah, selalu berdoa agar tetap diberikan petunjuk dan jalan yang benar, berdoa dari jahatnya dunia yang fana dan dari godaan setan yang terkutuk. Tulisan ini ditulis guna untuk beramar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) bukan untuk menasehati atau menggurui, semoga kita sama-sama selalu dalam lindungan Allah dan selalu melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, jurusan Akuntansi Syariah Semester VI UIN Sumatera Utara

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles