Addin Edisi 277: Orang yang Merugi di Dunia

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Tumbularani
- Advertisement - jd

Oleh: Solahuddin Nasution

Setiap orang pastilah menginginkan yang namanya kebahagian dan ketenangan, namun tak banyak orang yang sadar bahwa apa yang dia lakukan itu bisa membuat kerusakan pada diri dan masa depannya. Siapa saja orang-orang yang merugi saat di dunia?

Pertama, ”Orang Yang Meninggalkan Sholat”.

Banyak sekali umat Islam yang selalu meninggalkan dan melalaikan apa yang semestinya harus dilakukan, yaitu melaksanakan perintah Allah SWT, yang mana salat adalah tiangnya sebuah agama, yang mana salat adalah pilarnya agama, namun masih banyak orang yang meninggalkannya, sebagaimana hadis nabi Muhammad SAW.

Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikan shalat, berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, berati ia meruntuhkan agama” (HR Bukhori dan Muslim).

Perlu kita tekankan pada diri kita bahwa orang yang meninggalkan salat lah orang yang akan meruntuhkan agamanya sendiri. Dan di dalam salat kita dapat mendapat pelajaran yang sangat luar biasa yang mana di dalam salat kita di ajarkan kedisiplinan, persaudaraan, dan menjalin hubungan sesama muslim.

Dan orang-orang yang melaksanakan salat akan Allah jauhkan dari perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam Alquran surah Al-‘Ankabut (29/45).

Bacalah kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-‘Ankabut-45)

Dari ayat di atas kita bisa memahami bahwa setiap orang-orang yang selalu mengerjakan salat akan dilindungi oleh Allah SWT dari perbuatan keji dan mungkar, dan akan mengerjakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Jadi, merugilah orang-orang yang senantiasa meninggalkan salat, karena orang yang selalu mengingat Allah (salat) pasti Allah kasih kemuliaan dan ketenangan yang sangat besar di dalam kehidupannya sehari-hari.

Kedua, ”Orang Yang Durahaka Kepada Orang Tua”

Di dalam kehidupan ini kita tidak pernah terlepas dari kasih sayangnya orang tua, ibu yag selalu memberikan kehangatan dan kelembutan, yang dia akan rela terjaga apabila kita bangun waktu kiat masih kecil dan dia tidak pernah memikirkan yang kecuali hanya memikirkan anaknya, bagaimana anaknya ke depan nantinya.

Ayah yang selalu memberikan rasa aman yang tak pernah mengeluh tentang apapun permintaan kita, yang rela mati-matian demi menyekolahkan anaknya, apakah sosok seperti mereka harus kita durhakai? Apakah sosok seperti mereka pantas kita sakiti? Ibu 9 Bulan 10 Hari mengandung kita di dalam perutnya, kita di bawa ke sana ke mari tanpa rasa mengeluh sedikitpun.

Itupun kita sering membentaknya, padahal agama mengajarkan kepada kita bahwa kita harus berbakti kepada kedua orang tua kita, kita harus menyayanginya, dan selalu lah mendoakan nya, karena doa anak yang berbakti kepada orang tuanya akan langsung di ijabah oleh Allah SWT.

Dan ketahuilah wahai saudara-saudaraku sekalian bahwa doa seorang ibu itu selalu di kabulkan oleh Allah, maka jangan sekali-kali kita menyakiti hati dan perasaannya dan jangan sampai-sampai kita menjadi anak yang durhaka.

Maka alangkah merugilah orang-orang yang melantarkan kedua orang tuanya, padahal Allah SWT berfirman di dalam surah Maryam (19/14).

Dan berbaktilah kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka” (Maryam-14).

Maka wajiblah kita berbakti kepada kedua orang tua kita “muliakan orang tua mu, maka Allah akan memberikan kemulian raja-raja bagimu”

Ketiga, ”Ketika Allah Beri Kelapangan Dia Lalai”

Pada dasarnya setiap orang pasti ingin diberi kelapangan waktu, rezeki, dan yang lainnya. Namun demikian banyak pula orang selalu lalai dalam kelapangan tersebut yang membuat dirinya terlena dalam indahnya kenikmatan dunia yang hanya bersifat sementara.

Namun, orang-orang yang kufur akan nikmat yang Allah sudah berikan kepadanya, maka Allah akan memberikan balasan setimpal baginya, sebagaimana firman Allah di dalam surah Ibrahim (14/7)

Dan (ingatlah) ketika tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan tambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.

Dari ayat di atas bahwa Allah menegaskan kepada kita sekaligus memberikan wanti-wanti, bahwa setiap nikmat yang Allah berikan harus kita selalu syukuri baik dalam ucapan “Al hamdulillahi rabbil ‘alamin” dan mengerjakan perintahnya maka Allah pasti akan terus menambah nikmatnya kepada kita, namun bila sebaliknya kita pernah sekalipun men syukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita maka niscaya azab Allah sangatlah pedih.

Dan perlu kita ketahui bahwa kita di dunia ini hanya sementara dan kita hanya laksana orang yang musafir dan orang bertamu, dan akan kembali kepada sang pencipta yaitu Allah Jalla Jala Luhu, tugas kita di dunia yang fana ini adalah mempersiap bekal sebanyak-banyaknya karena “dunia adalah tempat bercocok tanam untuk kita di akhirat”.

Maka kita ibarat seorang petani, semua akan kita tanam dalam kebun kita tersebut dalam rangka mendapatkan keuntungan yang sangat besar, begitu pula lah kita di dunia ini kita persiapkanlah bekal sebanyak-banyaknya supaya kita bisa memanen apa yang sudah kita tanam di atas dunia ini.

Merugilah orang yang tak punya persiapan ketika di dunia ini, karena di akhirat kelak kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi kecuali kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat selama kita di dunia, yang Allah berikan kelapangan kekayaan Allah akan menanyakan ke mana dia buat harta yang Allah berikan kepadanya, yang diberikan kekuasaan maka dia akan mempertanggungjawabkan semua kekuasaanya.

Maka dari itu marilah kita perbaiki hidup kita, karena hidup ini cuma sebentar dan kita akan kembali kepada alam yang kekal (akhirat).

Dari materi ini dapat diambil bahwa kalau kita ingin bahagia dunia akhirat dan kita tidak di cap sebagai orang yang merugi sewaktu di dunia, maka kita harus tinggalkan hal yang sia-sia dan kita harus melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, dan kita harus menyayangi kedua orang tua kita, kita sayangi mereka, karena jasa orang tua tidak akan pernah bisa kita balas dengan apapun. Oleh karena itu kita disuruh berbakti kepada orang tua selagi mereka masih hidup, dan kita doakan lah orang tua kita kalau lah mereka sudah terdahulu meninggalkan kita.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam D, semester II

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles