Addin Edisi 279: Menjadi Takwa dengan Menjaga Hubungan

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Oleh: Dwi Utami Panggabean

Manusia adalah salah satu ciptaan Allah Subhanahu wa taala yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di muka bumi. Sebagai mahluk ciptaan-Nya, tak ada yang patut dibanggakan sebagai kelebihan, kecuali takwa. Takwa adalah jarak yang mengukur kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu dengan menjalankan semua perintahnya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Kunci untuk memperoleh kedudukan takwa ialah dengan memperhatikan dua hal, yaitu hablun minallah dan hablun minannas untuk mendapatkan kemuliaan di sisi–Nya. Dalam menjalin kehidupan di muka bumi, manusia pasti tidak akan terlepas dengan manusia yang lainnya, hal inilah yang membuat manusia sering disebut sebagai mahkluk sosial.

Penerapan dari bentuk ibadah yang dapat dilakukan dalam hidup setiap umat adalah menjaga dan memperbaiki hablun minallah secara vertikal dan hablun minannas secara horizontal. Kedua hubungan ini saling terikat, yang mana akan menjadikan manusia bertakwa. Tetapi saat ini, ironisnya banyak di antara kita yang hanya memperbaiki hablun minallah tanpa memperhatikan hablun minannas. Hal ini jelas tampak di kehidupan kita sehari-hari. Banyak di antara kita yang rela menggadaikan tali silaturahmi demi memenuhi keinginan yang hanya sementara, baik itu tahta, harta, dan sebagainya.

Dunia hari ini sudah maju. Tapi manusia yang hidup di dalamnya belum memiliki pemikiran yang maju. Hal ini tampak dengan tingkat kesadaran yang dimiliki umat saat ini berkapasitas sangat rendah. Sering di antara kita terlalu mengandalkan dan mempertahankan pendapat tampa peduli dengan pendapat orang lain. Sifat saling merendahkan masih menjadi tradisi kita. Sifat saling menghargai yang telah diajarkan oleh Rasullah sallallahu alaihi wasallam sudah terkikis oleh zaman. Zaman sekarang telah menghipnotis diri kita menjadi seseorang yang memiliki tingkat keegoisan yang tinggi, yang merasa diri paling pintar dan benar. Padahal, kita sebagai subjek pengendali zaman seharusnya bisa memanfaatkan perkembanagan zaman untuk meningkatkan ukhuwah antar sesama umat.

Sifat keegoisan yang mendarah daging akan menyebabkan perselisihan bahkan terputusnya tali silaturahmi. Seperti belakangan ini, kita baru saja selesai mengadakan pesta demokrasi, yang mana dalam pesta tersebut menimbulkan perbedaan pilihan. Perbedaan pilihan atau pendapat adalah suatu hal yang wajar dalam kehidupan. Janganlah jadikan perbedaan menjadi pemutus tali silaturahmi di antara kita. Sebab, memutuskan tali silahturahmi, secara tidak langsung akan memberi jarak untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Memutuskan tali silaturahmi merupakan salah satu perbuatan yang sangat di benci oleh-Nya, hal ini jelas tampak pada Q.S. Muhammad ayat 22–23.

“Maka, apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan tali silaturahmi? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah, lalu dibuat tuli pendengarannya dan dibutakan penglihatannya. ( Muhammad: 22-23).”

Menjalin tali silaturahmi merupakan proses yang sangat penting untuk memperoleh kemuliaan Allah Subhanahu wa taala. Bukankah itu tujuan kita sebagai mahkluk di muka bumi? Jika memang kemuliaanlah yang kita kejar, mengapa masih ada dendam dan perselisihan di atas perbedaan? Perbedaan itu sudah melekat pada setiap umat manusia. Tinggal bagaimana kita menjadikan perbedaan itu sebagai pemersatu bangsa dan tetap berlomba-lomba mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya dengan menjalin kembali tali silaturahmi yang terputus akibat perbedaan yang terjadi di antara kita sesama umat.

Firman Allah Subhanahu wa taala :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah SWT agar kamu mendapat rahmat. (Alhujurat : 10).”

Perbedaan yang ada haruslah kita jaga kehormatannya, darahnya, dan hartanya dengan saling menghargai. Bukankah itu pesan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara”.

Sungguh, terlalu banyak energi yang telah kita habiskan karena kita sibuk bertikai satu sama lain. Kita sudah mengangkat muka dari saudara kita, tak mau lagi tersenyum. Bahkan tak mau lagi saling berbalas salam. Padahal, tidak ada perbedaan dalam akidah, tak berbeda pula dalam masalah ibadah. Begitu pun yang kita sembah, tak ada bedanya. Mungkinkah hari ini kita telah sibuk menyembah diri kita sendiri?

Ini tidak bisa diteruskan. Sebab, di saat kita sibuk mempeributkan perkara-perkara kecil sehingga terjadi perselisihan, pertikaian, bahkan permusuhan tanpa berusaha mengingatkan dengan penuh kasih sayang, orang-orang kafir berkeliaran di muka bumi. Tangan kanan mereka datang membawa solusi dan bantuan, sementara tangan kirinya menawarkan kekafiran. Sudikah saudara kita yang jadi korban?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi jurusan Fisika semester IV

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles