Addin Edisi 280: Syukur

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Mustika Khairunnisa
- Advertisement - jd

Oleh: Evi Alismiati

Kehidupan bagai roda yang selalu berputar dan manusia layaknya jari-jari disekelilingnya. Terkadang kita berada pada puncaknya, ditengah dan  tidak jarang kita berada disudut terdasar dalam lingkaran roda tersebut. Pertama, Posisi puncak biasa ditandai dengan segala unsur kebahagiaan yang kerap kali kita rasakan. Apapun alasan dibalik itu, intinya adalah rasa suka cita yang kita rasakan. Mungkin dari kisah cinta, keberhasilan mengikuti lomba, atau pujian yang datang bertubi- tubi dari orang – orang di sekeliling kita atas prestasi yang sudah kita raih. Sehingga membuat kita merasa seperti terbang melayang dengan sayap terindah yang kita miliki. Nah, disaat inilah kita dituntut untuk bersyukur atas apa yang telah Allah Swt berikan kepada kita. Bentuk syukur bisa kita  lakukan dengan ucapan maupun perbuatan. Seperti, menginfakan sebahagian rezeki yang kita miliki. Tujuannya adalah berbagi kebahagian dengan yang lain.

Kedua, ketika posisi kita berada di tengah. Biasanya ditandai dengan hidup kita yang biasa aja. Tidak merasa kurang ataupun lebih, biasannya lebih kita kenal dengan kata “cukup”. Cukup untuk makan, cukup untuk beli peralatan sekolah, cukup untuk beli mobil, cukup untuk beli pesawat. Eh, tidak sampai yang seperti itu ya. Cukup di sini artinya kebutuhan  pokok kita yaitu sandang, pangan dan papan kita sudah terpenuhi. Kalau dikondisikan kita sebagai mahasiswa bisa diartikan sebagai kecukupan uang kuliah, makan, uang indekos, transportasi dan jajan tentunya. Kadar cukup bukan berarti berlebihan. Pada posisi ini kita juga seharusnya bersyukur dengan apa yang telah Allah Swt titipkan pada kita. Pernah tidak kita membayangkan kalau di luar sana banyak sekali orang yang mungkin ingin merasakan apa yang kita rasakan mulai dari pendidikan, keluarga, keuangan, life style kita dan setiap aspek dalam diri kita yang merupakan karunia dari Allah Swt. Untuk itu kita seharusnya semakin banyak bersyukur dengan tidak menyia-nyiakan apa yang ada pada kita. Ingat sobat, ada orangtua yang sedang menantikan kita menjadi orang yang sukses dan berakhlak mulia. Selain itu apapun yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Ketiga, Ketika kita berada di sudut terdasar. Bahkan tidak ada jarak antara kita dengan bumi. Biasannya keadaan ini ditandai dengan munculnya berbagai masalah yang tak kunjung henti mulai dari a-z dengan kategori yang berbeda pula. Disaat inilah awan mendung kehidupan mulai menyelimuti diri. Sejatinya tidak ada manusia yang tidak pernah memiliki masalah dalam hidupnya. Namun pengaruh masalah tersebut  berbeda bagi setiap penerima masalah. Ada yang menanggapi dengan santai dan ada juga yang menyertainya dengan segala keruwetan yang ditampilkannya, bahkan tidak jarang berakhir pada uji coba bunuh diri. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Hal itu bisa saja terjadi karena beberapa hal, diantaranya; tidak tahu tujuan hidup, lemahnya iman seseorang dan kurang bersyukur. Masalah merupakan bentuk ujian dan teguran bagi hambanya agar kembali ke jalan yang benar. Tidak tahu tujuan hidup, ketika seseorang mengetahui tujuan hidupnya ia akan lebih fokus pada apa yang menjadi tujuannya sehingga masalah pun dapat teralihkan dengan sendirinya. Namun, seringkali kita tidak memiliki fokus yang cukup untuk tujuan kita, sehingga ketika masalah datang goyah lah pendirian kita. Terombang-ambing ke sana ke mari. Jadi penting ya sobat untuk fokus terhadap tujuan hidup kita. Lemahnya iman seseorang, ketika seseorang lemah dalam keimanan kepada Allah Swt ia akan mudah untuk bersikap suudzan (berpikiran negatif) terhadap apapun. Menduga-duga sesuatu yang akan terjadi padahal hal itu belum tentu terjadi. Hal itu akan semakin menambah beban pikiran kita.

“Dan Janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati , sebab kamu paling tinggi  ( derajatnya), jika kamu orang beriman.“ Q.S Ali-Imran (3 : 139)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai manusia, jangan merasa lemah apalagi sedih hati baik itu karena masalah maupun hal lainnya. Karena  orang beriman tidak boleh lemah, orang beriman adalah orang yang kuat dan memiliki derajat yang paling tinggi disisi Allah Swt. Lemahnya iman seseorang ditandai dengan kurangnya bersyukur atas nikmat. Ketika kita bersyukur hati kita akan menjadi lebih tenang dan pikiran menjadi jernih sehingga ketika kita ditimpa masalah akan lebih mudah kita menyelesaikannya. Kita sepatutnya bersyukur karena begitu banyak nikmat yang telah Allah Swt berikan kepada kita. Kita tidak akan pernah mampu untuk menghitung jumlahnya. Allah Swt sudah berjanji akan menolong kita dan akan menambah rezeki yang kita miliki. Seperti yang terdapat dalam Q.S An–Nisa (4 : 147) dan Q.S Ibrahim (14 : 7), silahkan buka sendiri terjemahannya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan jurusan Pendidikan Matematika semester IV

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles