Addin Edisi 281: Menjaga Kehormatan Lisan

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Ditanty Chicha Novri
- Advertisement - jd

Penulis: Nur Halimah Syafira

Sukakah salah seorang diantara kamu memakan

daging saudaranya yang sudah mati

Q.S. Al-Hujurat/49:12

Tahukah Sobat Kampus? Dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar kita telah melakukan dosa. Dosa yang satu ini bias kita lakukan di mana saja dan kapan saja di kelas, rumah, kampus, restoran, dan bahkan di dunia maya sekali pun. Nah, dosa ini juga termasuk dosa yang besar dan sangat dibenci Allah Swt., sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. seharusnya kita bias mensyukuri nikmat yang telah diberi-Nya bukan malah mengurangi atau pun menghilangkan nikmat tersebut.

Walau pun hanya berupa perkataan, namun jika perkataan tersebut jauh dari yang namanya fakta, apalagi sama sekali tidak ada kebenarannya jangan sekali-kali kalian mencoba untuk melakukannya. Sobat Kampus pasti pernah nongkrong di kafe atau warung, bukan? Di tempat-tempat inilah munculnya pergunjingan itu terjadi, sambil menikmati hidangan bersama teman-teman, kalian asyik berbicara tanpa tahu arahnya dan kadang hingga hilang kendali dengan membicarakan aib teman sendiri.

Perbuatan ini disebut gibah (bergunjing), ternyata bias mengikis keimanan seseorang dan bagaikan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Hujurat/49:12 “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati”. Dalam hal ini bisa dibayangkan kalau nantinya Sobat Kampus bergunjing dengan teman lainnya, sementara teman yang satu tidak pernah melakukan hal tersebut.

Gibah every where, sepertinya perbuatan ini tak jauh-jauh dari kehidupan kita saat ini. Namun, sebagai insan yang berakhlak mulia tentunya Sobat Kampus harus benar-benar menjauhi perbuatan tersebut dengan menjaga lisan. Atau tepatnya lebih baik diam dari pada mengatakan hal-hal yang belum tentu kita ketahui kebenarannya. Kebanyakan orang-orang memikirkan kehidupan orang lain dari pada memikirkan kehidupanya sendiri.

Istilah bergunjing yang disebutkan di dalam Alquran, yaitu: Gibah, ifkun, dan buhtan mempunyai makna masing-masing. Gibah merupakan perbuatan keji, menyebutkanhal-hal yang tidak disukai orang lain, walau sekali pun itu benar seperti kondisi badan, akhlak, harta, dan lainnya. Cara gibah pun banyak macamnya. Diantaranya membeberkan perilaku buruk seseorang, menirukan tingkah laku dengan maksud mengolok-olok orang tersebut.

Sementara ifkun sendiri ialah mengatakan sesuatu kepada seseorang berdasarkan informasi yang kamu dapatkan tentangnya, lalu kamu menyebarkannya tanpa tahu faktanya. Seperti yang terdapat di dalam Alquran (QS. Ali Imran 3:118), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu memahaminya.”

Sedangkan, buhtan ialah menyebutkan kejelekan-kejelekan seseorang yang tidak ada pada dirinya, misalnya Sobat Kampus mengatakan tentang si A yang memiliki bisul yang besar di badannya kepada orang lain, namun faktanya si A tidak memilikinya. Nah, itu sama dengan Sobat sudah melakukan perbuatan buhtan.

Taukah Sobat Kampus? Kalau saat berselancar di media social dengan tidak sengaja Sobat Kampus melihat sesuatu yang viral kemudian menyebarluaskannya, namun sesuatu yang viral itu merupakan aib atau pun kejelekan orang lain dan membuat bahan gosip dari yang viral tersebut. Perbuatan tersebut juga merupakan bentuk dari gibah, tanpa sadar kita sebagai umat Muslim lalai akan hal-hal seperti itu dan mengaggapnya tindakan tersebut lumrah.

Dikutip dari sigabah.com tentunya perbuatan seperti ini sangat dilarang agama, dalam suatu riwayat dari Abu Hurairah, terdapat percakapan sahabat dengan Rasulullah. “Apakah Gibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah Saw. “Gibah adalah memberitahu kejelekan orang lain,” jawab Rasul. “Kalau keaadannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. “Jika itulah gibah, jika tidak benar itulah dusta!” Tegas Rasul. Nah, Sobat Kampus untuk menghindari perbuatan gibah dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa hal yang harus kita lakukan, yaitu:

Tingkatkan rasa percaya diri

Tanamkan pada diri kalian bahwa sesuatu itu harus berlandaskan fakta, jangan suka terpengaruh dengan perkataan dan perbuatan orang lain, sehingga bias menyeret kalian pada gibah.

Hindari sifat iri dan dengki

Biasanya sifat-sifat inilah yang mengawali gibah dan ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih beruntung dari pada kita. Menerima kenyataan lebih baik dari pada mengeluh dan bergunjing.

Berpikir sebelum berbicara

Saat ingin melakukan sesuatu atau berbicara hendaklah pikirkan apakah sesuatu tersebut ada manfaatnya dan mudaratnya. Karena Rasulullah Saw. pun biasanya memberi jeda sesaat berpikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

Mengingatkan atau pergi

Ketika orang-orang di sekeliling kita sedang bergunjing maka kita harus mengingatkan kalau itu perbuatan tercela, bisa juga kita langsung mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan hal-hal yang positif tanpa menyinggung yang lainnya.

Self reminder

Lakukan hal-hal positif dalam keseharian kalian agar terhindar dari perbuatan bergunjing, seperti mendengarkan murotal Alquran, berzikir, dan membaca buku. Tentunya dengan melakukan hal-hal seperti itu akan menjadi pengingat di kala kita ingin menggunjingkan orang lain.

Banyaknya media masa yang ada seperti internet, koran, dan majalah dari sinilah penyebarluasan perbuatan gibah itu terjadi, dan ada banyak sekali contoh perbuatan gibah yang terjadi sehari-hari di sekitar kita mulai dari membicarakan keburukan orang lain, mencela seseorang di belakangnya, dan mengejeknya dengan bahasa isyarat. Inilah yang merupakan contoh gibah yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari.

Mengingat perbuatan gibah ini sudah terlalu umum dilakukan kebanyakan orang maka dari itu kita sebagai umat Muslim dapat member perubahan untuk generasi ke depan, tebarkan kebaikan, dan ciptakan hal-hal positif di sekeliling kita agar gibah ini tidak menjalar dan berakibat hilangnya empati dan simpati terhadap sesama Muslim.

Penulis meruapakan mahasiswa UIN SU, jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, semester V

 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles