Addin Edisi 283: Tanggap Bencana; Bencana-bencana Waktu

- Advertisement - Pfrasa_F
- Advertisement - jd

Oleh: Kiki Fatmala

Kehidupan kita sehari hari tak luput dengan yang namanya waktu, mau tidak mau kita harus berpacu dengan waktu setiap harinya. Tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak manusia yang kurang bahkan tidak mengerti manfaat waktu itu sendiri, sehingga banyak orang yang akan mengalami kerugian terhadap dia dan orang lain.

Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (Q.S Al-Asr: 1-3)

Hasan Al-Banna mengatakan waktu bukanlah barang berharga seperti emas, sebagaimana dikatakan pepatah, namun ia jauh lebih mahal daripada segala harta dunia lainnya, karena waktu adalah kehidupan. Sedangkan dalam Islam sendiri waktu adalah kesempatan yang artinya manusia diberi waktu (kesempatan) untuk dipergunakan sebaik mungkin. Berbeda dengan para pengemban mabda kapitalisme yang menganggap bahwasanya  waktu adalah uang, sebab mereka menggunakan waktu hanya untuk kepentingan dunia semata dan hanya untuk mengejar harta dunia saja. Berbeda dengan kita kaum muslimin yang seharusnya mampu memanfaatkan waktu kita dengan baik. Diriwayatkan oleh Rasulullah dalam lembaran Nabi Ibrahim:

Orang yang berakal dan dapat mengendalikannya seharusnyalah memiliki empat waktu: pertama, waktu untuk bermunajat kepada Rabb-nya. kedua, waktu untuk menginstropeksi dirinya. Ketiga, waktu untuk memikirkan ciptaan Allah. Keempat, waktu untuk memenuhi kebutuhan jasmani dari minum dan makan. (HR. Ibnu Hibban)

Tanggap dalam pengertian nya ialah segera mengetahui, Sedangkan bencana adalah sebuah musibah atau kerugian. Sehingga dapat diartikan bahwa tanggap bencana merupakan cara kita untuk segera mengetahui kerugian atau musibah atas kelalalain kita terhadap waktu. Untuk itu manusia khususnya kaum muslimin harus tanggap dalam masalah waktu.

Rasulullah SAW, menasihati seseorang dalam sabdanya:  pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain: pertama, kegidupan sebelum datang kematianmu. Kedua, kesehatanmu sebelum datang penyakitmu. Ketiga, kekosonganmu sebelum datang kesibukanmu. Keempat, masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Kelima, kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu. (HR.Hakim)

Adapun bencana-bencana waktu yang harus kita pahami dan tanggap untuk menghadapinya yaitu:

  1. Kelalaian

Banyak manusia yang tak sadar bahwa dirinya telah terkena bencana ini, manakala bencana ini masuk kedalam diri manusia seiring pergantian siang dan malam. AlQuran dengan tegas memperingatkan kepada manusia, bahwa mereka yang lalai akan dijadikan kayu bakar api neraka dan dan menjadikannya lebih sesat dari binatang.

Dan sungguh kami jadikan isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat) allah, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan (Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S Al-Araf:179)

  1. Menunda Pekerjaan

Bencana lain yang lebih besar bahanya bagi manusia dalam kegiatannya  sehari hari memanfaatkan waktu, yakni menunda pekerjaan dengan kata menantiyang menjadi semboyan hidupnya. Sebagai kaum muslimin kewajiban kita terhadap waktu kita adalah mengisinya dengan ilmu bermanfaat dan amal saleh, jangan sampai menunggu esok hari.

Imam Hasan Al-Bashri menasehati Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan hari esok. Kalaulah hari esok menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini, kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu.

Jika kita sering menunda waktu hingga esok hari aka nada bencana-bencana susulan yang kan kita dapatkan.

Pertama, kita tidak akan bisa menjamin apakah besok kita masih hidup atau tidak.

Kedua, meskipun kita masih hidup hingga esok hari, tapi kita tidak akan bisa menghindar akan adanya penyakit yang menimpa kita dengan tiba-tiba, kesibukan-kesibukan baru yang muncul, atau berupa musibah kecelakaan. Dan itu merupakan sebuah bencana dan kerugian yang besar jika sering menunda-nunda pekerjaan.

Ketiga, sesungguhnya setiap hari pasti ada aktivitas dan setiap aktivitas merupakan kewajiban. Tidak ada waktu yang kosong dari pekerjaan, sehingga Umar bin Abdul Aziz berkata pekerjaanku satu hari saja telah membuat ku menjadi letih, bagaiman kalau pekerjaan dua hari terkumpul menjadi satu.

Keempat, menunda perbuatan baik atau sering meninggalkan pekerjaan, menjadikan diri kita terbiasa untuk meninggalkannya.

Kelima, bekerja merupakan kebutuhan bagi manusia hidup, maka orang yang tidak bekerja tiak mempunyaihak untuk hidup. Kata-kata hikamah yang nasyhur dikalangan orang Islam adalah: Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu akna hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok.

Waktu sendiri memiliki karakteristik dan kita sebagai kaum muslimin dituntut untuk memahaminya agar mampu memanfaatkannya dengan baik, diantaranya;

  1. Waktu cepat berlalu

Waktu yang kita rasakan seperti angin yang cepat berlalu, meskipun seseorang berumur panjang sebenarnya hanya berumur pendek belaka, selama mati adalah akhir dari kehidupan. Begitu pula persamaan antara angin, umur dan waktu ia akan lewat  begitu saja, tanpa kita sadari. Dengan begitu waktu yang singkat ini harus kita manfaat kan dengan sebaik-baiknya.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu`anhu berkata: Aku tidak menyesali sesuatu, penyesalanku ada pada hari yang telah berlalu , dimana umurku berkurang sedang amalku tidak bertambah. Sehingga betapa pentingnya waktu yang kita miliki harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk meakukan kebajikan.

  1. Tak dapat kembali dan tak dapat diganti

Waktu yang begitu cepat berlalu, tak akan mungkin dapat kembali atau bahkan digantikan. Misalnya masa muda, tak akan mungkin masa muda kita bisa kembali atau terulang kembali. Sehingga gunakanlah sebaik mungkin masa muda kita sebelum datang masa tua kita, untuk menggali ilmu, menolong orang lain, melakukan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa selalu bermunajat kepada Allah untuk diberikan umur yang panjang.

  1. Waktu ialah harta yang paling berharga

Karena waktu yang berlalu begitu cepat maka waktu adalah barang yang sangat berharga, bahkan lebih berharga dari emas karena waktu adalah kesempatan. Orang yang suka melalaikan waktu akan menyesali dirinya sendiri. Namun, penyesalan itu tidak ada manfaat nya lagi bagi orang yang telah tiada di dunia yang lalai akan waktu. Bahkan seseorang akan merasa betapa pentingnya waktu dan menyesal tidak menggunakannya dengan baik, dikutip oleh AlQuran dalam dua hal:

Pertama, seseorang yang akan meninggal atau sedang sakaratul maut, ia akan berharap kalau kematiannya bisa ditunda beberapa saat saja guna memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang berguna. Padahal itu hanyalah angan-angan kosong sebab alah berfirman :

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Munafiqun:11)

Kedua, manakala seseorang dibangkitkan dari alam kubur dan dimasukkan kedalam neraka mereka akan berharap untuk dikembalikan kedunia dan meamanfaatkan waktu mereka untuk hal yang baik. Namun semua sia-sia karena masa berbuat kebaikan telah habis dan  saat pembalasan telah datang bagi orang-orang yang lalai terhadap waktunya.

Maka dari itu marilah kita pergunakan waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat, misalkan berdakwah disela-sela tugas kampus yang menumpuk. Tetap istikamah menuntut ilmu dan senantiasa memanfaatkan waktu luang guna muhasabah terhadap diri sendiri.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial jurusan Ilmu Komunikasi semester III

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles