Addin Edisi 288: Mengikuti Jejak Rasulullah Melalui Ulama

- Advertisement - Pfrasa_F
Iustrasi: Mustika Khairunnisa
- Advertisement - jd

Oleh: Annisa Kinasih

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya”

(Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, no. 3651, dan Imam Muslim, No. 2533)

Rasulullah Saw. menyebut bahawa umat Islam sekitar tiga kurun waktu itu secara keseluruhan adalah sebaik-baik manusia bahkan sebagian daripada mereka bertaraf muqarrobin (orang-orang yang hatinya dekat dengan Allah). Mereka inilah yang dikatakan salafussolih (orang shalih terdahulu). Mereka yang hidup dikurun waktu 300 H inilah yang dinamakan generasi salaf.

Para sahabat Nabi Muhammad Saw. memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Swt., mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Rasulullah Saw., para sahabat adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya. Merekalah manusia yang paling paham tentang Alquran, karena mereka mendampingi Rasulullah Saw. tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah generasi sahabat, maka kita mengenal generasi tabiin. Para tabiin termasuk generasi emas seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw., mereka yang memahami syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw. karena mereka bertemu dan berguru langsung kepada para sahabat di kala itu.

Keempat imam mazhab hidup pada kurun waktu yang baik tersebut. Imam Hanafi (lahir  80 H) dan Imam Malik (lahir pada 93 H) hidup pada kurun yang pertama. Sementara Imam Syafi’i (lahir 150 H) dan Imam Hambali (lahir pada 164 H) pada kurun kedua. Berdasarkan hadis Rasulullah di atas, secara umum umat Islam sekitar tiga kurun waktu tersebutlah yang patut menjadi panutan kita. Mereka yang memahami hadis dan Alquran dengan sebaik-baiknya, karena sanad keilmuan mereka bersambung langsung kepada Rasulullah Saw, mereka yang paling memahami bahasa Arab dan seluk beluknya, serta asbabulwurud hadis dan asbabun nuzul apa pun wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Saw.

Kita bisa memahami syariat Islam dengan benar melalui para imam mazhab. Mereka bukan ulama pilihan di kalangan para ulama pada masa itu. Bahkan para imam mazhab tersebut menjadi panutan yang diikuti oleh para ulama dan para orang ‘awwam dari zaman tersebut hingga hari ini.

Cara mengikuti jejak Rasulullah Saw. adalah bermazhab dengan salah satu dari imam mazhab tersebut. Jangan pula menganggap bahwa jika seseorang mengikuti salah satu dari empat mazhab tersebut, maka dia tidak mengikuti Alquran dan hadis. Karena keempat imam mazhab tersebut telah mengikuti Alquran dan hadis bahkan jauh lebih memahami kedua sumber istinbath (pengambilan hukum Islam) tersebut daripada ulama khalaf (ulama yang hidup setelah 300 H) apalagi jika dibandingkan dengan kita yang hidup di akhir zaman.

Para Imam Mazhab dalam mengistinbath hukum selain mengambil dari Alquran, mereka juga mengambil dari hadis. Bahkan setiap imam mazhab memiliki karangan berupa kitab hadis. Imam Maliki memiliki kitab Muwathatha’, Imam Hanafi memiliki kitab hadis bernama alWasif. Imam Syafi’i memiliki kitab Musnad Asy-Syafi’i, dan Imam Hambali memiliki kitab Al-Musnad. Maka kita ketahui bahwa para imam mazhab dalam mengeluarkan hukum atau berijtihad, mereka merujuk kepada Alquran dan hadis.

Para imam hadis saja masih menyandarkan pemahaman mereka kepada para imam mazhab. imam  Bukhari menurut bermazhab Syafi’i, Imam Tajuddin as-Subki memasukkan Imam Bukhari ke dalam Thabaqatasy-Syafi’iyyah di mana beliau adalah murid dari Imam al-Humaidi, yakni ulama besar Mazhab Syafi’i. Jika Imam Bukhari yang kitab hadis beliau, yakni Shahih Bukhari yang menjadi sandaran dalam pengambilan hukum syariat, beliau saja bermazhab, apalagi kita yang masih jauh pemahamannya dalam memahami agama.

Para imam mazhab patut menjadi panutan kita. Dan patutlah kita mengikuti hasil ijtihad mereka. Jika tidak mengerti suatu permasalahan hukum, maka kita bisa bertanya kepada mereka, namun untuk masa sekarang kita bisa melihat dari kitab-kitab fiqh yang ditinggalkan oleh mereka. Bahkan kitab-kitab mereka telah diuraikan dengan sangat jelas dan rinci oleh para ulama yang hidup setelah mereka. Jika kita tidak mengetahui akan sesuatu, maka bertanyalah pada yang mengetahui (ulama’), seperti yang terdapat di dalam firman Allah yang artinya, “… maka bertanyalah  kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Q.S. An-Nahl: 43)

Maka dari itu, untuk masalah syariat (hukum fiqh) kita tidak boleh sembarangan. Karena tata cara beribadah telah diatur oleh Allah Swt. melalui syariat Nabi Muhammad Saw. sesuai yang dipahami oleh para sahabatnya yang kemudian diajarkan kepada generasi salaf (oarang yang hidup di masa sebelum 300 H, termasuklah di dalamnya para imam mazhab). Para imam mazhab wajiblah kita ikuti, karena mereka adalah orang-orang pilihan yang telah sampai kepada tingkat mujtahid muthlaq (orang yang bisa mengeluarkan ijtihad dikarenakan telah sempurna syarat-syaratnya).

Syaikh Dr. Amru Wardani, seorang ahli Darul Ifta’ Mesir dan Pengajar Ushul Fiqh di Masjid Al-Azhar, ia memberikan alasan mengapa ia bermazhab, yakni sebagai berikut:

1) Musannadah, yakni mazhab ini memiliki sanad sampai kepada Rasulullah saw. sehingga kesahihannya terjamin;

2) Mudallalah, yakni mazhab ini memiliki landasan argumentasi/dalil. yang tidak hanya dalil disebutkan secara eksplisit saja, namun ada dalil yang implisit;

3) Muashshalah, yakni mazhab ini memiliki metodologi berfikir yang terkodifikasikan dalam kitab-kitab usul, sehingga sangat tepat & terukur dalam pengambilan dalil dari Alquran dan sunah;

4) Makhdumah, yakni mazhab ini dikhidmah oleh ratusan bahkan ribuan ulama setelahnya, dari matan (kitab fiqh singkat) menjadi syarah (penjelasan dari matan) dan dari syarah melahirkan hasyiyah (penjelasan dari syarah);

5) Muqa’adah, yakni mazhab ini memiliki kaidah fiqh yang sangat rasional, seperti kitab Al-Asybah wan Nazhair karya Imam Suyuti dalam mazhab Syafi’i;

6) Mumanhajah, yakni mazhab ini memiliki manhajberfikir yang jelas, detail dan tepat;

7) Muttasiqah, yakni mazhab ini memiliki tingkat amanah ilmiah yang sangat tinggi dalam menisbatkan sebuah pendapat kepada penuturnya, di dalamnya ada yang dikenal dengan qaulmukharraj dan ada juga yang disebut dengan qaulmansus.

8) Munfatihah, yakni mazhab ini memiliki cara berfikir yang elegan dan terbuka serta sangat toleran. Karena mempunyai kaedah-kaedah usul fiqh dan hal-hal yang bersifat kulli.

Maka dari itu, jika ingin menjadi sebaik-baik yang mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw. maka jadilah orang yang mengikuti ulama dengan pemahaman yang benar. Jika belum banyak mengetahui syariat (fiqih) maka perbanyaklah mendatangi majelis ilmu yang memiliki sanad keilmuwan yang sampai kepada rasulullah Saw.

Penulis adalah Mahasiswa FakultasIlmu Tarbiyah dan Keguruan, Prodi Pendidikan Bahasa Arab

 

 

 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles