Addin Edisi 291: Memaknai Hidup Menuju Akhirat

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Oleh: Kiki Fatmala

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr:18)

Akhirat adalah tempat yang wajib kita yakini setelah kita menghadapi kematian di dunia ini. Pada saat itu semua perbuatan yang kita lakukan tatkala kita masih hidup didunia akan dihisab oleh Allah di akhirat. Akhirat adalah tempat yang abadi sedangkan dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan permainan, sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sempurna jika mereka mengetahui.” (QS. AlAnkabut: 64).

Dunia mempunyai daya pikat yang luar biasa besarnya. Membuat siapa yang saja yang menikmatinya akan membuat terlena. Manusia akan tenggelam dalam kesenangan duniawi, kondisinya umpama orang mabuk yang senantiasa menikmati segalanya tanpa merasa takut dengan apa yang ia lakukan. Mereka pun berharap usianya terus bertambah. Bukan untuk tujuan bertobat, melainkan agar tetap bisa mencicipi hasil jerih payahnya di tempat-tempat hiburan yang terlarang.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Jika kebutuhan terhadap dunia terus kita turuti, maka tidak akan pernah selesai. Manusia yang rakus tidak akan pernah merasa cukup terhadap apa yang sudah dimilikinya. Tanda kerakusannya itu adalah dengan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tetapi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah kepada sesama. Padahal satu hal yang pasti bahwa semua harta itu akan ditinggalkannya. Manusia akan terus terlena dengan kenikmatan dunia yang ia miliki tanpa memikirkan kehidupan akhirat yang akan ia lalui. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dibandingkan kehidupan dunia saat ini.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17

Maka dari itu seharusnya manusia harus mempersiapkan bekal untuk menuju akhirat yang lebih baik, dengan membuat hidupnya lebih bermakna untuk akhirat. Lalu, bagaimana memaknai hidup agar mampu menuju akhirat ialah dengan kita mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar yaitu:

  1. Siapa kita?

Mungkin sebagian orang, ini adalah pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab namun tak banyak orang yang memahami siapa dirinya sebenarnya. Kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, dengan menyandang predikat sebagai hamba di dunia ini yang memiliki sifat lemah, terbatas dan serba kurang. Tentu saja sifat itu yang melekat pada diri kita sebab kita hanyalah seorang hamba. Berbeda dengan Allah SWT, yang Maha segalanya karna Allah adalah sang pencipta.

  1. Apa tujuan hidup kita?

Tentunya Allah menciptakan kita sebagai Hamba di muka bumi ini bukan tanpa tujuan. Maka dari itu setelah kita memahami siapa diri kita maka kita harus tahu apa tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT, di dunia ini. Dalam AlQuran Allah berfirman yang artinya:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. AdzDzariyat : 56)

Dari ayat diatas maka sudah jelas bahwasanya kita sebagai hamba Allah memiliki tujuan hidup yaitu hanya mengabdi kepada Allah SWT, dengan beribadah kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Firman Allah dalam Surah Al An’am ayat 162:“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam”.

Bukan hanya itu saja sebagai seorang Hamba kita harus mampu menjalankan segala aturan Allah SWT., di muka bumi ini yaitu dengan menerapkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh, agar hidup kita lebih bermakna dengan taat kepada Allah untuk menuju Akhirat. Sebab jika kita tidak menjalankan perintah Allah SWT., dengan menerapkan hukum-hukumnya kita akan menjadi orang yang merugi. Seperti firman Allah :

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” [al-Fajr:24]

  1. Akan kemana kita?

Manusia hanyalah seorang Hamba yang terbatas, artinya ia tidak akan kekal hidup di dunia dan akan menjemput kematian. Lalu, akan kemana kita setelah mati?

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semuanya tentang segala yang pernah mereka amalkan -di dunia-.” (QS. al-Hijr: 92-93)

Maka dari itu artinya kita akan kembali kepada Allah SWT, untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita kerjakan semasa hidup di dunia. Dengan memberikan hasil catatan amal yang kita kerjakan semasa hidup dahulu. Dengan begitu kita diberi tanggung jawab yang besar sebagai hamba Allah untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya dengan menerapka aturan-aturan Islam secara menyeluruh. Semua yang kita kerjakan di dunia akan dihisab oleh Alla SWT, tanpa kurang sedikit pun.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami letakkan timbangan-timbangan keadilan pada hari kiamat, maka tidak ada satu jiwa pun yang akan terzalimi sedikit pun. Meskipun kebaikan itu hanya sekecil biji sawi, maka Kami akan tetap mendatangkannya, dan cukuplah Kami sebagai penghisabnya.” (QS. al-Anbiya’: 47)

Selain itu Allah juga akan memberikan sesuatu kepada hambanya tatkala ia kembali kepada Allah dengan laporan amal nya semasa didunia berdasarkan hasil timbangan yang ia peroleh

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih bagi mereka itu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang sangat besar…” (QS. al-Buruj: 11)

Maka dari itu sebagai seorang hamba kita harus mampu memaknai hidup kita untuk mencapai akhirat yang kita inginkan yaitu surga.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Ilmu Perpustakaan, semester V

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles