Addin Edisi 292: Taubat Obat Maksiat

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Oleh: Amalia Afsari

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS An-Nur:31)

Hari ini kita hidup di zaman di mana banyak sekali umat manusia yang senantiasa menyimpang jauh dari agama Allah, pelanggaran demi pelanggaran menjadi kebiasan diri dan bahkan tidak ada satu pun keturunan Adam Alaihi Salam yang terbebas dari noda dosa kecuali bagi mereka orang-orang yang senantiasa mendapat perlindungan dari Allah Subhanallah wataala.

Taubat secara bahasa berasal dari kata “Ta-wa-ba” yang bermakna kembali. Dia bertaubat artinya dia kembali dari dosanya yakni berpaling dan menarik diri dari dosa yang telah diperbuatnya. Secara syariat Islam taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali amalannya.

Anak Adam tidak akan pernah terlepas dari maksiat yang menimbulkan dosa. Baik itu dosa kecil mau pun dosa besar. Maksiat yang tak terlihat maupun maksiat yang dapat kita saksikan secara terang-terangan. Ketika anak membunuh orang tua kandung dengan sadisnya, ketika narkoba menjadi wabah yang harus dimusnahkan namun, mereka yang salah arah melarikan diri untuk mengonsumsinya, ketika khamar menjadi minuman keseharian dan ketika manusia tak lagi memiliki rasa malu untuk berbuat maksiat dan bahkan dengan kepongahan menganggap kesalahan menjadi sebuah kebenaran.

Banyak umat manusia yang melakukan maksiat dan menjadikan perbuatan tersebut sebagai rutinitas dalam keseharian aktivitasnya. Saat manusia tak lagi memiliki arah, saat manusia tak lagi berpegang pada dua pedoman primer dalam beragama yakni Alquran dan Assunnah.

Mereka lupa bahwa setiap maksiat yang dilakukan akan dicatat dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Mereka meremehkan setiap dosa-dosa dan mengkhianati-Nya dengan melakukan dosa, siang dan malam. Ada orang-orang yang menganggap dosa-dosa kecil tertentu tidak penting. Anas berkata, “Engkau melakukan hal-hal yang di matamu terlihat lebih ringan dan sehelai rambut, namun di masa Rasulullah kami menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat menghancurkan seseorang”.

Ibnu Mas’ud berkata, “Seorang mukmin menganggap dosa-dosanya seolah-olah dia duduk di bawah sebuah gunung yang dia takut gunung tersebut akan jatuh menimpanya, sedangkan orang yang berdosa menganggap dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya dan dia menepiskannya.” Adanya perbedaan antara orang mukmin dan ahli maksiat yang tidak takut akan dosa dan tidak takut akan ganjaran yang akan diterimannya kelak. Ketika ahli maksiat menganggap dosanya biasa saja dan bahkan tak ada rasa bersalah di dalam hatinya.

Para ulama berkata bahwa ketika dosa-dosa kecil diikuti oleh kurangnya rasa malu atau penyesalan, dan tanpa rasa takut kepada Allah. Adanya penganggapan remeh. Padahal sesungguhnya dosa-dosa kecil tersebut akan dihitung menjadi dosa besar ketika terus-menerus dilakukan. Tidak jarang mereka yang masih muda dan menjadi pelaku maksiat melontarkan kalimat “usiaku masih muda masalah taubat nanti saja, belakangan. Yang penting masa muda aku gunakan untuk senang-senang dahulu. Mengenai taubat nanti menunggu tua.” Padahal mengenai kematian tak ada yang bisa menjamin. Bisa saja maut menghampiri ketika diri ini masih asyik melebur pada perbuatan maksiat atau malah sebaliknya.

Mungkin buat mereka yang telah mendapat hidayah dan bahkan tergerak hatinya untuk segera menuju Allah. Tak jarang akan berfikir aku ingin bertaubat, namun dosa-dosaku  sungguh teramat banyak. Tidak satu pun keburukan dan tidak satu pun jenis dosa, yang dapat dibayangkan selain yang aku lakukan. Sehingga aku tidak tahu akan kah Allah mengampuni semua dosa yang telah aku lakukan.

Saudariku sesungguhnya obat maksiat yang kita lakukan adalah taubat yakni taubatan nasuha. Ibarat ketika engkau kelaparan maka obatnya adalah mengonsumsi makanan, ketika engkau merasakan dahaga maka obatnya adalah meminum air, ketika engkau merasakan kebodohan maka obatnya adalah ilmu, begitu juga dengan maksiat yang kita lakukan maka obatnya adalah bertaubat dan bersegera kembali pada jalan Allah. Menjadikan prinsip-prinsip petunjuk umat muslim yang merujuk kepada kitabullah dan sunnah.

Sebagaimana Allah berfirman: “Katakanlah: “Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” (Qs Az-Zumar:53-54). Sebenarnya mengapa muncul perasaan dalam hati bahwa dosa-dosa tidak akan diampuni oleh Allah sebab ia lahir dari tidak adanya iman pada diri seorang hamba akan luasnya rahmat Allah, kurangnya iman terhadap kemampuan Allah untuk mengampuni semua dosa, kurangnya amalan hati seseorang, tidak memahami pengaruh taubat dalam menghapus dosa-dosa.

Lantas seperti apakah syarat-syarat diterimanya taubat oleh Allah. Berdasarkan alquran dan sunnah syarat-syarat taubat meliputi; Pertama, segera menghentikan dosa di mana dihentikannya dosa semata-mata karena Allah bukan karena orang lain. Kedua, menyesali apa yang telah lalu, orang yang telah bertaubat harus mampu membangun paradigma dalam dirinya bahwa dosa yang dilakukan tersebut menjijikan dan sangat berbahaya hingga muncul lah rasa tidak suka ketika mengingatnya. Ketiga, berketetapan hati untuk tidak kembali kepada dosa-dosa, orang yang telah bertaubat harus memiliki azam yang kuat dan harus mengedepankan rasa istikamah untuk terus berjalan di lintasan petunjuk Allah.

Maka dari itu mari merubah maksiat menjadi kebajikan, menuju keagungan dan kemurahan Allah yang tak terbatas. Merubah karakter buruk menjadi karakter baik, syirik diganti dengan keimanan yang benar, perzinahan pada kesucian, kebohongan pada kebenaran, khianat menjadi percaya, kemungkaran diseru dengan kemarufan.

“Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa kepadaku, dan berharap kepada ku, maka Aku akan memberikan pengampunan atas segala dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam! Andai kata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku pasti mengampunimu dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam! Jika engaku datang kepada-Ku dengan kesalahan-kesalahan hampir sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan pengampunan hampir sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi, Shahih Al-Jami; 4338).

Wallahua’lam bbisawaf

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, semester V

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles