Addin Edisi 295: Menangkal Perilaku Munkar

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Internet
- Advertisement - jd

Oleh: Wahyu Nizam 

Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” (QS. An-Nisa : 29)

Allah telah menjamin rezeki yang cukup kepada setiap hambaNya, asalkan kita mau berusaha dan tetap berdiri di jalan yang benar. Bukan dengan cara mengumpulkan harta atau mengais rezeki dengan cara yang batil, seperti taruhan yang kemudian jatuh kepada perjudian.

Kita tidak akan sadar, ketika syaitan telah menghembuskan godaan halusnya ketelinga. Tiada satupun yang benar dari godaan syaitan, misalnya taruhan, ketika kita mengajak atau diajak oleh teman untuk bertaruh kemudian kita memenangkan pertaruhan itu pastilah kita mendapat imbalan dari apa yang sudah menjadi kesepakatan yang telah kita buat. Tentu saja hasil yang kita dapat atau yang kita makan kelak adalah harta yang batil atau haram karena, kita memperolehnya dengan cara yang haram pula. Yang tidak kita sadari selanjutnya adalah, ketika kita kalah dalam taruhan tersebut, kemudian kita tidak terima dengan kekalahan. Kemudian kita tidak menepati janji taruhan, maka teman kita tidak akan terima. Dari sinilah muncul permusuhan yang berujung perpecahan. Begitulah cara halus syaitan menggoda manusia.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bahwa Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya diatas air. Dia mengirim bala tentaranya kepada manusia. Tentara yang paling dekat dengannya adalah tentara yang paling dahsyat memfitnah manusia. Salah seorang tentaranya datang dan melapor, aku tidak henti-hentinya menguntit si anu. Ketika aku meninggalkannya, ia mengeluarkan perkataan begini dan begitu. Iblis berkata, ‘apa yang engkau lakukan tidak apa-apanya.’ lalu, tentaranya yang lain datang melapor, ‘aku menggoda si anu hingga bercerai dengan pasangannya.’ Tentara yang terakhir melapor ini diangkat kedudukannya dan iblis berkata, ‘Engkau hebat’. (HR. Muslim)

Kita bisa mengambil contoh pada kehidupan Rasulullah Saw, Ibnu Qudamah- ulama Hambali berkata “Perlombaan itu ada dua macam, perlombaan tanpa taruhan dan dengan taruhan. Adapun lompa tanpa taruhan, itu secara mutlak boleh tanpa ada pengkhususan ada yang terlarang.” (Al- Mughni, 11:29)

Dari penjelasan diatas, Aisyah r.a pernah berlomba lari tanpa adanya taruhan dengan Rasulullah Saw. Dari Aisyah r.a beliau menceritakan ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk ia berlomba lagi bersama Rasulullah Saw, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu,” (HR. Abu Daud No 2576 dan Ahmad 6: 264)

Dari kisah di atas kita melihat bahwa Rasulullah pernah berlomba dengan ‘Aisyah, namun tidak ada taruhan disana. Artinya kita boleh melakukan perlombaan yang tidak ada larangannya dalam islam dan tidak pula dengan taruhan. Karena taruhan dikhawatirkan akan jadi perjudian, sebagaimana Allah telah melarang hambaNya untuk melakukan judi. Berwaspadalah di setiap gerakkan kita ada syaitan yang ingin menjerumuskan.

Allah Swt berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 90 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk berhala), mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Sungguh telah jelas Allah Swt melarang minum-minuman keras, judi, dan perbuatan dosa lainnya. Kemudian berlanjut pada ayat berikutnya Allah kembali berfirman “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91)

Bayangkan, sudah berapa taruhan yang kita alami saat pagelaran piala dunia dan saat berlangsungnya pilkada kemarin? Sadarkah kita bahwa godaan syaitan itu begitu halus berhembus ketelinga kita? Sadarkah kita bahwa syaitan itu bertujuan untuk menimbulkan permusuhan dan menyebabkan peretakan kerukunan kita pada sahabat-sahabat kita?.

Pada saat hasil taruhan yang telah usai itu, ternyata tim atau pilihan yang kita banggakan tidak menang, kemudian lawan taruhan kita mengolok-olok kemudian menjelek-jelekkan pilihan kita. Dan pada saat itulah syaitan membisikkan dengan lembutnya agar kita mengolok dan menjelekkannya kembali, lalu timbullah keributan antara kita dengan sahabat kita, dan berujung pada permusuhan bahkan tidak saling bertegur sapa. Inilah salah satu bentuk dampak yang kita peroleh ketika kita ikut memeriahkan perhelatan akbar ini dengan cara yang salah. Rela kita untuk bangun tengah malam bahkan tidak tidur hanya untuk menyaksikan asyiknya pertandingan, sedangkan ada amalan tengah malam yang begitu di sukai Allah Swt yaitu shalat tahajud. Rela kita tali silaturahmi antar sahabat, saudara dan rekan kerja terputus hanya dengan taruhan yang tak menguntungkan, tentu saja ini adalah hal yang sangat salah dan perlu diluruskan.

Perlu kita ketahui bersama, ternyata judi yang kita lihat dan kita lakukan itu lebih berbahaya dari riba. Sebagaimana Ibnu Taimiyah rahimahumullah berkata,

“Kerusakan maysir (diantara bentuk maysir adalah judi) lebih berbahaya dari riba. Karena maysir memiliki dua kerusakan; (1) Memakan harta haram (2) Terjerumus dalam permainan yang terlarang. Maysir benar-benar telah memalingkan seseorang dari dzikrullah, dari shalat, juga mudah timbul permusuhan dan saling benci. Oleh karena itu, maysir diharamkan sebelum riba.”

Itulah beberapa pemaparan mengenai hal kecil yang sangat berdampak besar bagi kehidupan sosial kita, cukup kita do’akan semoga pemimpin yang kita pilih amanah dan mampu mensejahterakan umat, tak perlu kita pilih salah satu dan mengajak teman lain untuk taruhan, tidak akan ada faedah yang kita dapat. Maka dari itu perlu adanya rasa ingin tahu yang kuat dari dalam diri, dan iman yang kokoh agar godaan halus syaitan yang memecah belah kita tidak dapat menembus dinding pahala kita. Syaitan tidak akan pernah puas untuk terus mencari-cari teman yang akan bersamanya di neraka kelak. Kita harus cermat dalam segala hal, hendaklah kita melaksanakan agama secara total agar kehidupan yang kita jalani jauh dari perbuatan syaitan yang dilarang dan mendapat keberkahan dari Allah Swt. Aamiin

Penulis adalah mahasiswa Perbankan Syariah, Fakultas Eknomi dan Islam, semester 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles