Aku Bukan Pengemis

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Mhd. Haris
- Advertisement - jd

Penulis : Sri Julia Ningsih

Beberapa hari yang lalu di perempatan lampu merah, mataku tertuju pada seorang anak yang menggunakan seragam sekolah melangkah dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya dengan lincah menawarkan dagangannya. Badannya kecil, kurus dengan satu kantong besar plastik yang berisikan tisu. Kemudian anak itu segera menyingkir saat lampu berubah warna, saat kendaraan mulai bergerak. Lalu, kembali mengulang hal yang sama, begitu seterusnya.

“Rin, lihat itu!”

Kuikuti arah tangan Yanti, terlihat sebuah papan pengumuman tentang larangan memberi sesuatu kepada pengemis. “Kalau aku, dari pada beli itu. Bagus sedekah saja di masjid,” ujarnya kemudian.

Aku hanya diam mendengar apa yang ia ucapkan. Tersenyum, saat beradu pandang dengan bocah berseragam sekolah yang terlihat kesusahan dengan kantong plastiknya. Aku melambaikan tangan, memintanya mendekat. Dengan sedikit berlari, ia mendekatiku dan masih tampak kesusahan.

“Rin, kamu ….,” kugerakkan tangan meminta Yanti diam. Anak itu sudah dekat, ia akan mendengar jika Yanti kubiarkan bicara, apalagi jika ia hanya mengatakan hal yang masih berbentuk prasangka.

“Tisunya, Kak,” bocah kecil itu tersenyum sambil menawarkan tisu yang ia bawa.

“Berapa?” tanyaku sembari melihat isi kantong yang ia bawa. Masih begitu banyak. Pantas ia terlihat kesusahan.

Bocah itu menyebutkan harga, kuambil tisu yang ia tawarkan, lalu aku membeli tisu lalu kuserahkan beberapa lembaran uang kepadanya. Ia terlihat senang. Lalu, ia mengucapkan terima kasih berulang kali.

“Kamu sekolah, Dek?” tanyaku saat ia baru saja hendak pergi.

Ia melihatku dan kemudian mengangguk.

“Kenapa tidak ganti seragam dulu?” Aku memperhatikan pakaiannya yang terlihat sudah pudar dan sudah layak diganti.

“Biasanya juga begini, Kak. Sore nanti baru pulang dan ganti baju. Kemudian malamnya jualan lagi. Terima kasih, Kak.”

Ia berlalu, berlari ke arah kendaraan yang mulai berhenti. Kupandangi Yanti yang ternyata juga tengah menatapku. Aku tersenyum padanya, dibalas tatapan yang tidak dapat dimengerti.

Keesokan harinya, aku sengaja melewati jalan yang sama karena ingin kembali bertemu dengan anak kecil yang kemarin kutemui. Puji syukur, Sang Khalik mempertemukan kami lagi.

“Kak, tisunya berapa?” tanyanya lagi.

“Tidak usah, ini untuk kamu. Ambil!” pintaku.

Bocah itu menatapku, terlihat tak nyaman atas apa yang ia dengar.

“Kalau uang segitu dapat tisu segini, Kak.” Anak itu menyodorkan beberapa bungkus tisu.

“Kakak tidak beli tisu. Ini untukmu.” Aku memberinya uang tapi ia menghindar.

“Kalau Kakak tidak mau beli tisu, aku pergi saja, Kak. Udah, ya, Kak.” Ia membalikkan badan, bergerak menjauhiku.

“Dek, tunggu!” Aku berlari mendekati bocah itu yang mulai menjauh. Ia berhenti dan menoleh.

“Kakak beli tisunya sebanyak uang ini!” Aku tersenyum, senyum yang sama juga muncul di bibir bocah itu. Bergegas mengambil tisu, menyerahkan padaku. Berulang mengucap terima kasih.

“Kak, terima kasih banyak. Maaf, aku bukan pengemis,” tuturnya lirih.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles