Aku Ingin Selalu Didekatmu, Laika

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Tumbularani
- Advertisement - jd

Penulis: Putri Oktavia

Ketika perjalanan pulang dari Balai Desa, Laika bertemu lelaki yang menghancurkan jembatan kecil, lalu membangun lagi. Laika menghampiri pemuda itu. “Apakah kau tidak punya pekerjaan yang bermanfaat selain menghancurkan jembatan itu?” Namun pemuda itu hanya diam. Tangannya sibuk memukul paku dengan palu. Jengah menunggu jawaban Laika pergi.

Pemuda tersebut mengatakan, “Tunggulah sebentar sampai aku selesaikan pekerjaanku,” Laika menurut. Jembatan seadanya telah terbangun. Pemuda bernama Abbas menghampiri Laika. Abbas membawa bekas jembatan lama yang dihancurkan tadi. “Lihatlah, dibalik kayu-kayu ini ada paku yang ditancapkan sengaja.

Aku tau karena telapak kakiku berdarah, tadi aku tidak memakai sendal. Mana ada seorang yang berniat baik membangun jembatan namun menancapkan paku agar orang lain terluka atau keuntungan lainnya,” Laika diam memperhatikan bekas kayu jembatan. “Aku sudah curiga. Kemarin aku melihat pak Samiri menancapkan paku disini. Tanpa aku jelaskan, pastilah kau sudah taukan tujuan pak Samiri,” Laika teringat diujung jalan pak Samiri memiliki usaha tambal ban. “Aku mau pulang. Lebih baik kau pulang sekarang. Sebelum paku-paku itu berjalan mengikutimu,” Laika berbalik wajah menatap Abbas didepannya.

Abbas yang masih seminggu di kampungnya menjumpai kakek Azar yang sedang memahat kayu. “Tadi saat kakek dari rumah ibu Rahmah kau bersama Laika. Apa kau masih menyukainya Abbas?” Abbas dilema berbicara. “Apa yang dapat Abbas katakan untuk perasaan ini,” Abbas memukul kayu dengan palu. “Kau tidak bisa melampiaskan persaanmu itu kepada kayu. Itu benda mati. Perasaan apa yang kau dapat dari benda mati Abbas.”

Baca juga: Iblis Yang Terbangun

Setelah Abbas kembali, Laika sedikit berubah sikapnya. Ada apa dengan Laika, Abbas sungguh tak mengerti dengan perasaannya. Ketika di Bandung, Abbas selalu minta tolong dengan Ilham agar mengirimkan hal-hal yang berhubungan dengan Laika. Baik surat ataupun foto tidak pernah sampai ke tangannya. Bahkan Abbas selalu menunggu telpon dari Laika, yang biasa dilakukan masyarakat melalui telepon di Balai Desa.

Esoknya Abbas pergi ke Balai Desa, ia tau kalau Laika selalu kesana, ntah apa yang dilakukan. Benar saja, dugaan Abbas benar. “Kenapa kau berubah setelah kepulanganku Laika. Apa aku membuat kesalahan padamu?” Laika terus berjalan, jantungnya bergemuruh sesak. Tak tahan Laika meluapakan isi hatinya. “Mana janji yang kau katakan kita akan terus berkabar. Kau tak pernah membalas suratku Abbas. Bahkan aku selalu menunggu kabarmu di Balai Desa ini,” Laika marah kemudian pergi, dari jauh ikat rambut Laika selalu rapih diselimuti jilbab. Ujung kainnya tertiup angin. Merasa tidak berdosa Abbas menjumpai ilham. Tanpa sapaan Abbas berdiri didepan Ilham.

“Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Laika berkata aku tidak pernah membalas surat-surat darinya. Bahkan dia selalu menunggu telepon dariku?” Ilham tertawa. “Hei Abbas. Disini bukan hanya kau yang mengagumi Laika. Aku juga. Untuk apa aku menyampaikan surat yang berisi perasaan Laika, sama saja aku membiarkan kau memiliki Laika. Satu kebenaran lagi. Aku berbohong pada laika bahwa kau akan mengabarinya melalui telepon Balai Desa. Laika yang bodoh. Dia mempercayai perkataanku,” Ilham merasa menang.

“Abbas. Laika itu sebenarnya sakit. Jantung Laika lemah. Apa jadi jika Laika terus merindukanmu. Mungkin debaran jantungnya sudah melemah. Ya bisa dikatakan ini caraku menyelamatkan Laika,” Ilham pergi tertawa menepuk dadanya sendiri.

Baca juga: Apa Salah Merindukanmu Ibu?

Kakek Azar bilang Laika masuk Rumah Sakit bersama Bu Rahmah. “Abbas. Laika sakit, jantungnya memiliki kelainan. Kau tidak berniat menemui Laika. Mungkin saja ini yang terakhir untukmu,”kakek melihat Abbas tidak bergeming.

“Maaf ya Laika. Tadi pagi kakek mengatakan kau sakit, jadi aku langsung bergegas pergi. Oh ya Laika, satu hal yang telah aku pahami. Pada hakikatnya Abbas dan Laika tidak bersatu seperti penyatuan pada umumnya. Kita tidak menikah ataupun menghasilkan buah cinta kita Laika.”

“Namun, penyatuan kita berbeda. Jantungku yang berada didalam dirimu telah mengisi kekosongan yang pernah ada. Aku mencintaimu. Setelah kau baca surat ini, aku yakin diriku telah tiada. Menikahlah dengan lelaki yang kau pilih dan mencintaimu. Kau bilang kau ingin menikah dengan seorang tentarakan? Aku sarankan pilihlah tentara yang selalu menjaga sholatnya. Agar ketika kalian sama-sama berdoa, itu akan sejalur. Doa kalian akan pada jalan yang sama menuju Rabb”

“Lelaki yang senantiasa menjaga sholat tidak akan menduakanmu. Itu yang aku lihat ketika aku bertugas bersama mereka. Lalu, jujur aku tidak pernah menerima satupun suratmu. Itu perbuatan Ilham, dia cemburu denganku. Ingatlah satu hal, Allah mengabulkan satu doaku. Isinya aku ingin selalu dekat denganmu. Terkabul sudah. Mulai saat ini, kau dan aku selalu berdekatan, karena jantungku telah menyatu denganmu, Laika. Berdebarlah sepuasmu Laika. Rindukan lagi seseorang yang membuatmu bahagia.” Kertas yang dipegang terkena rintik mata Laika. Warna tinta pulpen juga tidak memudar.

Laika menangis mengharu biru mengingat Abbas yang ia rindukan. Debaran ini milik Abbas. Laika dapat merasakan, debaran ini sama seperti milik Laika yang dulu. Ketika Laika merindukan Abbas.

Editor : Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles