Aku Rindu Pulang Bareng Ayah

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi anak dengan sang ayah sedang menikmati senja. (Foto/Ilustrasi/Pexels/Negative Space)
- Advertisement - jd

Penulis: Mekha Wahyuni

“Tringgg…. tringggg… tringgg….” alarm bangun pagi ku berbunyi, terdengar suara berisik dari arah dapur yang mana tak lain adalah ibuku yang sedang memasak untuk sarapan pagi kami. “Sreng.. sreng..” suara sudip ibu yang sedang menggoreng nasi aroma bawang, tumisan bumbu rempah serta minyak panas mulai mengeluarkan bau harum yang nikmat.

Aku bergegas mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Aku duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, dan aku berusia 11 tahun. Namaku Karin Aini, banyak orang yang memanggilku dengan arin saja. “ Arin..” panggilan ibu terdengar menandakan aku harus segera bergegas keluar dari kamar.

Baca juga: Optimis, KKR Menjawab Harapan Rakyat

“Ariinnn.. arinnn.. ayo, makan dulu sebelum berangkat sekolah.”

“Iya bu… sebentar, arin lagi mengambil tas,”  sahut ku karena ibu memanggil kembali.

Ayah, ibu, dan abang sudah berkumpul di meja makan seperti biasanya. Mereka selalu menungguku agar bisa merasakan kebersamaan sebuah keluarga.

Setelah selesai makan, semua bersiap-siap dengan rutinitas pagi masing-masing. Abangku berangkat kuliah, ayah pergi bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kantor polisi yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Sedangkan ibu, kesehariannya berada di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Setiap pagi, aku selalu diantar oleh ayah ke sekolah, begitupun juga setelah pulang sekolah. Ketika bersama ayah, aku selalu bercerita tentang keseharianku, terkadang disela-sela cerita ayah juga suka bergurau dan tertawa tanpa habis nya. Di akhir cerita, ia tak lupa memberi ku nasihat.

Baca juga: Hangatnya Sebuah Keluarga

“Arinn.. setelah pulang sekolah, jangan main-main di pinggir jalan raya ya, main di lingkungan sekolahan saja, dan tunggu ayah disitu. Kalau ada orang tidak dikenal mengajak arin pulang, jangan mau ikut, lari aja ke tempat kedai-kedai jualan yang ramai orang ya nak, ingat pesan ayah.”

“Iya yah,, arin pasti selalu ingat, ayah selalu ngingetin arin tiap pagi begitu, mana mungkin arin lupa,” sahutku membalas perkataan ayah.

Setelah sampai di sekolah, aku mencium tangan ayah sambil mengucapkan salam dan bergegas masuk ke ruang kelas. “Daahh ayah.. ” kulambaikan tangan ku padanya seolah berkata sampai jumpa lagi.

“Ting.. ting.. ting.. ting” bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran akan dimulai.

Baca juga: UIN SU Umumkan Jadwal Pendaftaran Seleksi Camaba

Jam pertama dimulai bersama guru pendidikan olahraga yaitu pak Rahmad, ia menyuruh kami untuk belajar di luar ruangan. “Kali ini kita akan belajar bermain bola ringan (soft ball ).” Perintah pak Rahmad. Aku terlalu bersemangat dalam permainan ini hingga tidak memperhatikan jalanku. Aku terjatuh dan meyebabkan luka tepat di lutut kakiku.

Hari sudah semakin siang, sudah waktunya jam pulang. Ayah ku sudah menunggu di depan gerbang sekolah. “Kenapa kaki mu itu, kok ada plester?” tanya ayah dengan nada khawatir yang terdengar jelas dari suaranya.

“Oh, tadi awak jatuh pas jam olahraga yah, tapi gak apa-apa kok, sudah diobati oleh buk guru juga di uks.” Jawabku dengan suara pelan ditambah wajah ketakutan akan dimarahi ayah. “Yasudah kalau begitu, hati-hati naiknya. Besok-besok kalau arin main lari-larian lagi harus hati-hati, dilihat sekitarannya biar tidak kesandung.” Ucap ayah menasihati ku.

Baca juga: Mendikbud Luncurkan Kebijakan Baru, Apa Komentar Mahasiswa UIN SU?

Kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan kecepatan sepeda motor yang low. Disepanjang jalan pulang, aku dan ayah terus bercerita tanpa henti. Selalu ada saja yang dibicarakan kalau sedang bersama ayah.

***

“Drttt…. drrrttt…. drrrrttt….” suara telepon ku bergetar. Aku tersadar dari lamunanku yang teringat akan kenangan bersama ayah. Aku sungguh merindukan nya, bahkan abang dan ibuku juga sangat merindukannya. Sungguh sangat rindu padanya.

Kejadian saat itu masih terngiang di ingatanku, kecelakaan yang terjadi ketika ayah sedang bertugas mengatur lalu lintas jalan raya. Dari arah barat, terlihat kontainer melaju kencang dan kehilangan kendali lalu menabrak ayah beserta sepada motornya di persimpangan jalan.

Baca juga: Sekolah Maunya Kuliah, Kuliah Maunya Nikah

Kejadian pada hari itu memang hari terburuk buatku. Aku melihat ayah langsung dari seberang jalan dengan tatapan yang sudah dipenuhi air mata yang tak dapat kutahan. “Ayah.. ayah.. ayah.. ” teriakku histeris seperti orang gila.

Aku tak percaya ini terjadi. Namun, aku juga tak bisa berbuat apa-apa selain menangis dihadapan ayah dan menunggu pertolongan. Tapi sayang, Allah berkehendak lain padanya. Semuanya terjadi begitu cepat, nyawa ayah tidak tertolong saat itu.

“Ayah, sebenarnya aku belum bisa kehilanganmu. Aku belum rela yahh, tapi melihat mu menderita juga akan membuatku makin tersakiti.. Mungkin ini hal terbaik yang Allah berikan pada ayah. Arin akan berusaha untuk mengikhlaskan ayah.. Semoga ayah selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin ya Allah amin ya Rabb”. Ucapku dalam hati ketika mengingat ayah.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles