Alhayaa-u Syu’batu Minal Iman

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Internet
- Advertisement - jd

Penulis: Iin Prasetyo

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda pada suatu hari, “Malulah kalian terhadap Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya malu!” Mereka (para sahabat) berkata, “Sungguh kami telah memiliki rasa malu, wahai Nabi. Alhamdulillah.” Nabi lalu menyatakan, “Tidak, kalian belum merasa malu. Orang yang betul-betul merasa malu di hadapan Allah hendaknya menjaga kepala dan isinya (pikiran), menjaga perut dan isinya (makanan) dan hendaklah mengingat mati dan kebinasaan. Siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, hendaklah meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang sudah melakukan itu semua, berarti dia sudah betul-betul mempunyai rasa malu,” (HR. Ahmad, At Turmudzi, Al Hakim, Abu Ya’la, dan Al Bazzar).

Ada ungkapan Jawa yang mengatakan, rai kara gedeg pada (muka dengan dinding (tepas) sama) atau lebih familiar dengan ungkapan “muka tembok”. Ungkapan tersebut biasa ditujukan pada orang yang sudah tidak tahu malu.

Orang yang urat malunya sudah tercerabut dalam kediriannya akan sesuka hati melakukan hal apa pun tanpa menimbang baik dan buruk, halal dan haram, dan memiliki orientasi jangka pendek dan semata karena kenikmatan duniawi. Islam menjelaskan orang yang seperti ungkapan tersebut adalah orang yang telah kehilangan bagian nikmat iman. Sebab Nabi saw. mengatakan, Alhayaa-u Syu’batu minal Iman, rasa malu adalah sebagian cabang dari iman.

Apakah berlebihan, jika ada pernyataan bahwa negeri yang berbudaya ketimuran ini tengah di ambang krisis moral? Tatkala hampir semua tontonan televisi tidak edukatif yakni menarasikan hal-hal percintaan (pacaran), perselingkuhan, kegaduhan remaja, tercampur aduknya tontonan anak-anak di bawah usia dengan dewasa.

Lalu memberitakan hal-hal amoral seperti video-video viral yang sangat tidak patut dijadikan teladan akan tetapi berita banyak anak yang berprestasi bahkan sampai ke luar negeri seperti olimpiade, tilawatil Alquran, membuat inovasi robotik dan lainnya enggan diberitakan televisi. Ini masih dilihat dari sisi tontonan khususnya di televisi, belum lagi di media sosial yang tidak ada sekat halal-haramnya dan acap kali luput dari pengawasan orang tua.

Keteladanan yang diajarkan oleh para penyelenggara pemerintahan bangsa ini juga minim, banyak sekali mereka yang terlibat kasus korupsi, arogansi, narkoba, rendah integritas dan kapabilitas.

Mengenaskan, ketika pemimpin daerah tengah berpose salam metal saat tertangkap tangan KPK, mantan tersangka korupsi dan yang terlibat korupsi mengikuti kontestasi pemilu. Semoga hal-hal tersebut tidak cukup menjadi jawaban bahwa negeri ini telah diambang krisis moral.

Muhbib Abdul Wahab (2013) menuliskan, orang yang berbuat semaunya adalah orang yang sudah kehilangan kendali diri. Yang berkuasa dan menjajah dirinya adalah hawa nafsu dan egonya. Bila manusia yang terhormat dan bermartabat sudah dikendalikan hawa nafsunya, misalnya nafsu serakah (korupsi), nafsu berkuasa (menghalalkan segala cara), atau nafsu birahi (berselingkuh) maka rasa malu dan suara hati nuraninya tidak akan pernah didengar lagi.

Dosa, maksiat, kejahatan, kebiadaban dan aneka kriminalitas lainnya menjadi hal yang biasa. Semuanya oleh setan dibuat indah, nikmat, menyenangkan, dan membuat ketagihan. Boleh jadi, manusia yang rasa malunya sudah sirna tidak lagi takut kepada Allah.

Umar bin Abdul Aziz terus-terusan menangis ketika ia dibaiat menjadi khalifah. Beberapa penyair datang untuk menghiburnya, namun beliau tak menerima mereka. Fatimah sang istri, juga berusaha terus mencari tahu mengapa di hari pertama pembaiatan Umar tak hentinya menangis.

Umar menjelaskan kesedihannya bahwa, ia merenungi nasib para fakir-miskin yang sedang kelaparan, orang-orang sakit yang tidak bisa berobat, orang-orang yang telanjang dan tidak bisa beli pakaian, orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela, orang-orang yang memiliki keluarga besar tetapi hanya sedikit memiliki harta, orang-orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang tertawan, dan orang-orang yang menderita di pelosok negerinya.

Ia sadar bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjwabannya atas amanahnya sebagai khalifah, namun ia khawatir tidak sanggup memberikan bukti bahwa ia telah melaksanakan amanah dengan baik.

Sadar akan banyaknya rakyat yang masih miskin dan menderita Umar pun memutuskan untuk tidak tinggal di istana. Ia menempati rumah sederhana tanpa pengawal pribadi. Beliau juga tidak menggunakan fasilitas negara, termasuk berbagai perhiasan untuk istrinya sampai-sampai beliau berkata, “Serahkan perhiasan itu ke Baitul Mal (Kas Negara). Hanya ada satu pilihan bagiku: serahkan perhiasan itu ke Baitul Mal atau engkau mengizinkanku berpisah (bercerai) darimu.” Fatimah pun menyerahkan perhiasan itu ke Baitul Mal.

Umar merasa malu jika menjadi khalifah tapi tidak bisa melayani rakyat. Lebih malunya lagi kepada Allah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan amanah dengan baik. Dan Umar pun membacakan QS. Yunus: 15 kepada anaknya, … aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (Kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.

Rasa malu mengantarkan seseorang pada sikap ‘iffah, yakni memelihara diri dari sikap atau perbuatan tercela dan menjaga martabatnya sebagai seorang muslim, sehingga ia selalu menjauhi perbuatan yang melanggar hukum agama maupun aturan hukum positif yang berlaku.

Malu merupakan kunci keutamaan karena rasa malu yang dimiliki seorang muslim akan membuatnya berhati-hati agar tidak melanggar larangan Allah. Malu juga termasuk hakikat dari akhlak Islam, sebagaimana Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu,” (HR. Malik).

Ungkapan “Boleh malu tapi jangan malu-malui” juga tepat untuk memotivasi seorang muslim agar lebih berbudaya malu, karena orang yang baik akan merasa malu bila tak melakukan kebaikan sekecil apa pun ganjaran terhadap dirinya.

Membiasakan malu pada diri sendiri dapat dilakukan dengan melakukan muhasabah diri bahwa kita adalah makhluk Allah yang paling sempurna, tak terhingga kemuliaan dan kenikmatan yang Allah beri kepada kita sehingga tidak pantas kita sendiri merendahkan harkat dan martabat dengan menjadikan diri seperti “muka tembok” untuk berbuat yang tidak patut dalam ketentuan Allah, Rasul, dan hukum yang berlaku. Kita harus yakin bahwa harga diri tidak terletak pada gengsi kekuasaan, tingginya jabatan, atau banyaknya kekayaan materi, tapi harga diri terletak pada kemuliaan akhlak yang kita tampilkan yakni memiliki rasa malu. Alhayaa-u la ya’ti illa bikhair, malu itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Allah Mahatahu atas alam semesta ini.

Editor: Shofiatul Husna Lubis

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles