Anak Ajaib /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Mustika Khairunnisa
- Advertisement - jd

Penulis: Annisa Hafizzah Hutabarat

Di sudut kota, terdapat satu keluarga yang memiliki kehidupan sangat sederhana, bisa dibilang kurang mampu. Mereka hanya bisa membiayai hidup dengan memulung. Dari hasil memulung itu, mereka hanya dapat membeli makanan seadanya yang bisa dimakan sekeluarga. Belum lagi, keluarga ini terdapat memiliki anggota keluarga berpenyakit serius. Seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus, di mana dirinya harus memakai kursi roda agar dapat berjalan melihat perjalanan dan keindahan.

***

Anak yang berpenyakit serius ini adalah aku, Kirana Sranti. Ketika aku dilahirkan, orang tuaku mengatakan bahwa aku sehat-sehat saja, mengeluarkan suara bayi baru lahir biasanya, seperti bayi yang pertanda memiliki kehidupan senang. Suara tangisan bayi terdengar di kamar rumah sakit. Bernama Rumah Sakit Buah Hati.

Alhamdulillah, anaknya sudah lahir, Bu. Anak Ibu, perempuan,” kata dokter kepada seorang ibu. Dokter tersebut memberikan seorang bayi ke ibu yang telah melahirkan itu.

Dengan sangat bahagia, ibu itu memajukan tangannya untuk mengambil bayi tersebut. Ibu bertanya, “Yah, anak kita sudah lahir, seorang perempuan. Mau kita namakan siapa, yah?”

Mendengar pertanyaan tersebut, ayah berpikir sejenak. Dan berkata, “Kirana… Sran.. ti, bu. Bagaimana bagus tidak?”

Ibu menjawab, “Bagus, yah. Ibu suka mendengarnya. Semoga anak kita selamanya memiliki hidup yang senang.” Ayah berkata, “Aamiin Allahuma Aamiin.” Kedua orangtuaku begitu bahagia melihat bayi perempuan itu lahir.

Baca juga: Iblis Yang Terbangun

***

Menginjak usia tiga tahun, kedua orangtuaku menyolahkanku. Sekolah itu disebut Taman Kanak-Kanak. Pada masa kecil itu, banyak teman yang senang bermain bersamaku. Waktu istirahat tiba, kami bermain dengan amat gembiranya. Bermain seperti anak-anak pada biasanya, petak umpet, kejar-kejaran, naik perosotan, naik ayunan, jungkat-jungkit, dan banyak lagi.

Kedua orangtuaku selalu menjemputku, biasanya antara ayah atau ibu yang jemput. Pernah di saat ibu yang menjemput, ada banyak guru mengatakan bahwa aku anaknya mudah berteman dengan siapapun.

“Permisi Bu, mau menjemput Sranti, ya Bu?,” tanya seorang guru. Dan ibuku menoleh sambil berkata, “Ohiya Bu. Sranti di mana, ya Bu?”

Guru tersebut berkata, “Sedang bermain bersama teman-temannya, Bu. Dia anak yang mudah berteman dengan semuanya. Banyak guru yang senang keberadaannya.”

Mendengar hal itu, ibu tersenyum dengan lebar. Begitu gembiranya dan mengira masa depanku senang.

Di saar usia inilah, aku mulai menggambar. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, aku hanya bisa menggambar dengan alat ala kadarnya. Oleh karena itu, aku masih kecil belum paham, apa yang sebenarnya terjadi.

Baca juga: Apa Salah Merindukanmu Ibu?

***

Ketika sekolah dasar, aku mengikuti banyak kegiatan ekstrakulikuler, baik itu seni maupun olahraga. Dari seni aku bisa menceritakan perasaan ku sedangkan dari kegiatan olah raga dapat yang membuat diriku tetap sehat. Setiap ada perlombaan di bidang seni dan olahraga, pasti aku akan mendaftar. Alhamdulillah, selalu mendapatkan juara, juara 1 atau juara 2. Aku lebih sering mengikuti lomba seni bagian menggambar objek. Karena itu pernah jadi ketua kelas.

Meranjak usia tujuh tahun aku mendapatkan berita bahwasannya aku akan jadi kakak.

Kakak? Apa aku akan memiliki seseorang adik? Benarkah begitu,” kata hati ini.

Seketika aku langsung menanyakan kepada kedua orangtuaku. “Apa Irani akan punya adik, Yah, Bu?”

Kedua orangtuaku tertawa mendengar pertanyaan itu, karena bisa dikatakan saat itu aku masih kekanakan untuk menanyakan hal seperti itu. “Iya Irana, kamu bakal punya kawan nanti di rumah. Ibu merasa kamu akan jadi kakak penyayang adik sendiri.”

“Ayah pun juga merasakan hal tersebut, bu. Irana nanti mau mempunyai adik laki-laki atau perempuan?” tanya ayah. Untuk menjawabnya, aku berpikir panjang, “Hmm… tidak tahu, Yah.”

Sembilan bulan sudah, maka adikku pun terlahir ke dunia ini. Saat itu usiaku delapan tahun dan ternyata adikku seorang perempuan, senang rasanya ketika mendengar bahwasannya aku akan ada kawan bermain di rumah. “Adik, selamat datang ya. Kamu akan jadi kawan bermainku dan tenang aku akan menyayangimu, seperti kata ibu kakak harus sayang kepada adiknya.” Ibu tersenyum lebar mendengar itu.

“Lala, Labiba Sumapala. Lala.” Ibu sangat senang mendengar ayah buatkan nama itu.

Mendengar nya, aku jadi ingin bernyanyi riang. “Lala, seperti lagu yah. Hehehe. Lalala…”

Sangat bahagia kedua orangtuaku melihatku, sampai senyum mereka begitu mekarnya.

Bersambung …

Editor : Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles