Anak Ajaib /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Mustika Khairunnisa
- Advertisement - jd

Penulis: Annisa Hafizzah Hutabarat

***

Hingga waktu terus berjalan, ketika sekolah menengah pertama. Tiba-tiba aktivitas ku semakin melemah, rasanya tubuh ini tak berdaya untuk menjalani kehidupan. Yang tadinya aku selalu bersemangat dalam belajar, hingga akhirnya aku terlihat malas.

Ada salah seorang guru memarahi ku karena, tertidur di kelas saat pelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, banyak teman yang melihat hal tersebut dan mereka menganggap aku aneh. Mereka hanya bisa menyimpulkan di satu sisi saja. Mereka yang dulunya menerimaku sebagai teman terbaik dan sekarang mereka menjauhiku karena aku terlihat pemalas.

Sering terdengar suara berbisik di kelas, menceritakanku dengan menyindir, terkadang menjauhiku, walaupun masih ada yang berbuat baik kepadaku itupun karena kasihan. Seketika berubah drastis tanggapan mereka terhadapku.

Salah seorang temanku menanyakan ke teman lainnya, “Hei itu temanmu, kan?”

“Tidak ah, mana pula. Kami hanya pernah kenal saja.” Ternyata yang menjawab itu ialah teman sebangku. Begitu terkejutnya aku, teman yang selalu di sampingku, mendukungku di saat kebingunan, ternyata selama ini dia mendukung hanya karena ingin memanfaatku.

Ketika kedua orangtuaku melihat kondisi bagaimana diriku lemah, mereka tidak ada tanggapan apapun. Tak lama kemudian, kondisi semakin parah, akhirnya kedua orangtuaku membawa ke rumah sakit.

Ketika check-up, dokter mengatakan bahwa aku menderita penyakit yang sangat serius, yang membuatku tidak dapat banyak menjalani kehidupan dengan begitu bebas. Sangat terkejut aku mendengar autopsi dari dokter itu.

Ada apa dengan tubuhku? Kenapa seketika ku mendapatkan penyakit yang parah?

Aku berpikir keras, memikirkan penyebabnya. Bertanya-tanya kepada diri sendiri, tapi tetap aku tak menemukan jawaban. Sungguh rasa putus asa ini telah menghampiriku. Rasa yang di mana ingin mengakhiri hidup dengan begitu saja. Karena aku merasa tak berguna berada di dunia ini.

Yang dulu ayahku sangat bangga terhadapku dan sangat menyanyangiku. Malah sekarang ayah tidak terlalu mempedulikanku. Adikku sangat disayangi sekarang, sangat cemburu melihat kasih sayang orangtuaku untukku pindah semuanya ke adikku.

Rata-rata nilai yang dulunya sangat tinggi, sekarang tidak lagi. Banyak guru yang selalu perhatian terhadapku, sekarang mereka sangat tidak peduli. Sekolahku berantakan, semuanya pun ikut berantakan.

Baca juga: Anak Ajaib /1/

***

Kursi roda menjadi kendaraanku ke mana pun. Setiap perjalanan pulang pergi sekolah, aku termenung memandang langit sambil bertanya di hati. Ingin pergi ke atas sana, menanyakan sanggupkah aku menjalani semuanya. Terasa sulit semuanya, beban kehidupan semakin berat.

Melihat kanan kiri, melihat kondisi duniaku, yang rasanya dalam masa kehancuran. Ku tertarik dengan salah satu tempat, yaitu mesjid. Dari kejauhan, terdengar ada pengajian di sana. Hati ini mendapat hidayah sedikit seketika. Kudengarkan, kuhayati, kupahami semua kajian yang terjelaskan.

“Jalanilah semua hidup kita, terasa sulit itu pasti. Coba kita serahkan kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Memohon pertolonganlah kepada-Nya. Do’a ketika kita merasa di posisi sulit, lailahaila anta subhnaka inni kuntu mina dzolimin,” ungkap ustadz di kajian tersebut.

Dengan bismillah langsung terucap do’a tersebut di hati. Sepertinya sedikit demi sedikit hati dan jiwa mulai kuat untuk bertahan. Raga mulai berkerja kembali. Semangat mulai muncul lagi. Ku mulai semuanya dari awal pertengahan.

Memulai belajar dengan biasanya, yang di mana selalu bersemangat. Walau lingkungan masih tidak ingin berteman. Akhirnya aku mencari teman baru dan menemukannya. Kutemukan tempat segala kebutuhan, yaitu kajian. Mencoba selalu untuk mengunjunginya, menambah banyak wawasan untuk dunia dan bekal di akhirat nanti.

Masa-masa sekolah menengah pertama yang berlika-liku tanpa adanya tujuan. Sekarang aku ingin masa-masa sekolah menengah atasku berada di tujuan yang semestinya, tujuan hidup baru untuk masa depan.

Baca juga: Iblis Yang Terbangun

***

Perkuliahanku di mulai, mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan di suatu perguruan tinggi. Kenapa ilmu perpustakaan? Sepertinya aku masih membutuhkan banyak wawasan lagi di lain tempat, yait perpustakaan. Perpustakaan diisi banyak buku, yang dari novel, komik, buku pelajaran, bahkan ada ensiklopodia dan Al-Qur.’an. Dan kenapa di perguruan tinggi? Keluargaku sangat sederhana, yang bisa membiayai hidup dengan memulung. Banyak yang bilang, uang kuliah di negeri lumayan murah dari swasta. Dan Alhamdulillah, aku dapat beasiswa dari proses belajar ketika itu.

Perjalanan kuliahku dengan menyelisir jalanan menggunakan kursi roda yang telah menjadi bagain tubuh. Melihat keseluruhan jalanan. Ternyata masih banyak yang sulit hidupnya dariku. Terlintas suatu cita-cita, aku harus membuka suatu toko buku untuk orang berkebutuhan khusus, sepertiku. Berkeinginan menolong di antara sesama. Bismillah, semoga tercapai, ya Allah. Aamiin Allahuma Aamiin.

Bukan hanya menjalani kegiatan perkuliahan, aku juga memulai melakukan hobi terpendamku yaitu seni. Sebenarnya aku tertarik dengan olahraga juga, karena keadaan yang tidak memungkinkan, jadi tidak dimasukkan ke dalam hobiku.

Seni dapat mengutarakan semua perasaanku, tempat cerita yang cocok untukku. Karena dulu aku sering menggambar, jadi kembali menggambar. Suasana hatiku tercurah begitu saja di gambar yang aku buat. Semoga karyaku berrmanrang bisa merasakan sesuatu dari gambarku itu. Orang bisa merasakan bagaimana sedih, bahagia, sulit, mudahnya kehidupan.

Menjelang masa kedewasaanku, mulailah dibuka ruang baca. Kukenalkan ke banyak orang yang berkebutuhan khusus, karena ingin menyebarkan wawasan pengetahuan luas.

Baca juga: Apa Salah Merindukanmu Ibu?

***

Hingga akhirnya keluarga yang sangat sederhana ini, yang hanya mampu membiayai hidup dengan memulung, sekarang menjadi keluarga yang berkecukupan atau mampu.

Yang dulunya, Kirana Sranti (dipanggil Irana) tidak disayangi dan tidak dipedulikan banyak orang, termasuk ayah kandungnya sendiri. Alhamdulillah, Irana menemukam orang baru yang menyayanginya, termasuk ayahnya semakin sayang padanya. Dan Irana telah menjadi seorang pengusaha sukses, yang memiliki toko di mana-mana.

Irana sudah membuka usaha dengan berbagai jenis. Toko buku, yang dicita-citakannya tercapai. Bukan hanya itu, ia juga sudah mempunyai usaha restoran, toko sedia perlengkapan sekolah.

Semua tokonya diperuntukkan orang-orang yang bisa dibilang memiliki penyakit serius dan berkebutuhan khusus sama sepertinya. Dia juga menyediakan banyak hal yang dapat dilakukan orang-orang cacat, biasanya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak cacat. Dan tidak lupa juga, dia selalu membagikan buku, alat tulis dan makanan ke seluruh yang kurang mampu, yang biasanya dilihat saat menyelisir perjalanan.

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles